
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Gak perlu Mas Dewa ihh, tadi juga dia udah kena hantam Kak Rangga!" Kasih benar-benar dibuat panik dengan kekesalan Dewa.
Sudah dipastikan, Genta tak akan diberi ampun oleh Dewa nantinya jika sang Kakak sepupu sudah bertindak.
"Sama gue kan belum? Enak aja maen nyosor adek gue sembarangan, cari mati dia?" Dewa masih saja berapi-api.
"Ishh, Mas Dewa ihh. Aku enggak mau ya ada keributan di sekolahan aku, malu tau! Pokoknya kalo sampe Mas Dewa macem-macem di sekolahan aku, awas aja. Mending aku enggak sekolah aja sekalian!" ancam Kasih dan langsung meninggalkan Dewa untuk ke bawah menemui Budenya.
Kasih mendudukannya dirinya di sebelah Ranti dengan gerakan kasar, membuat Ranti yang tengah asyik melihat acara sinetron di televisi sambil memilah-milah bumbu untuk masakannya esok hari mengalihkan perhatiannya ke arah keponakannya.
"Kenapa?" tanyanya sungguh ingin tahu, terlebih ketika melihat wajah membrengut keponakannya.
"Kesel sama Mas Dewa!" adu Kasih.
"Kenapa lagi kalian?" Ranti menghela nafasnya berat melihat ketidak akuran antara anak dan keponakan cantiknya itu.
"Mas Dewa mau ke sekolahan aku besok, mau ngehajar temen aku. Ehh .. Maksud aku Kakak kelas aku!" Kasih cepat-cepat meralat ucapan bahwa Genta adalah temannya, karena memang mereka tak pernah berteman, bukan?
"Lho emang kenapa sampe mau ngehajar kakak kelas kamu?" Ranti langsung menyimpan bumbu masakannya dan memusatkan perhatiannya pada Kasih.
"Dia iseng nyium pipi aku..!" Kasih tertunduk ketika menjawab pertanyaan Budenya.
"Lho, sembarangan banget dia. Kalo begitu mah Bude setuju Mas Dewa mu mau ngehajar kakak kelas kamu itu!" ujar Ranti menggebu-gebu.
Kasih langsung menghela nafasnya berat melihat sang Bude yang justru ikut-ikutan bar-bar persis seperti Kakak sepupunya.
"Kalo perlu Bude aja yang ngasih pelajaran ke kakak kelas kamu itu, biar gak sembarangan memperlakukan perempuan! Asal nyosor aja macem soang!".
__ADS_1
Mendengar umpatan Budenya entah mengapa justru membuat Kasih tergelak, hampir semua menjuluki Genta 'soang' dan memang julukan tersebut pantas disematkan pada Genta.
"Kenapa kamu malah ketawa?" selidik Ranti.
"Enggak apa-apa kok, keinget hal yang lucu aja!" sahut Kasih masih terkekeh geli.
"Pokoknya Bude aku minta tolong bilangin ke Mas Dewa jangan bikin keributan di sekolah aku, malu. Lagian tadi Kak Rangga juga udah ngasih pelajaran buat si Genta!" lanjut Kasih merengek.
"Genta? Jadi kakak kelas yang kamu maksud itu si Genta, anak laki-laki yang dulu pernah buat alergi kamu kambuh, anak Bapak Adam yang bangun mall besar di depan jalan besar sana?" pertanyaan berentet pun Ranti berikan untuk memastikan bahwa benar Genta yang ia maksud adalah Genta yang tengah dibicarakan keponakannya.
"Iya, dia..!" jawab Kasih singkat.
"Dia suka sama kamu?" Kasih langsung mendelikkan matanya mendengar pertanyaan sang Bude.
Bagaimana bisa Budenya menyimpulkan jika Genta menyukainya hanya karena cowok menyebalkan itu telah menciumnya.
"Enggaklah, emang dasar rese aja dia. Sengaja mau bikin marah Kak Rangga!" jawab Kasih cepat-cepat tak ingin sang Bude berprasangka lebih jauh lagi.
Tapi tidak dengan Ranti yang seakan-akan tak puas dengan jawaban keponakan cantiknya, "masa iya enggak suka tapi nyium-nyium?" ujar Ranti curiga.
"Tolong bilangin Mas Dewa ya Bude, gak usah bikin keributan di sekolah Kasih. Lagian Kak Rangga tadi udah ngasih pelajaran ke Genta kok, Kasih enggak mau jadi biang keributan di sekolahan. Malu!" rengek Kasih.
"Ya nanti biar Bude bilang ke Mas-mu!".
"Bahaya juga kalo sampe Dewa ngehajar anak Boss besar, bisa-bisa ditarik pegawainya biar gak makan di kedai ku lagi!" Ranti membatin sepeninggalan Kasih kembali ke kamarnya.
***
Paginya di meja makan, Kasih terus memandang Dewa dengan tatapan penuh ancaman. Berharap agar Dewa tak merealisasikan ucapannya semalam.
Bisa dibayangkan betapa malunya Kasih jika Dewa membuat keributan di sana, terlebih cowok tersebut adalah Genta anak sang donatur terbesar di sekolahnya.
"Elo ngapain ngelihatin gue begitu?" jengah melihat sang adik menatap penuh ancaman ke arahnya, Dewa pun melayangkan pertanyaan protes pada sang adik.
__ADS_1
"Jangan apa-apain Genta!" jawab Kasih lirih, ia tahu betul betapa mengerikannya Dewa jika sudah marah dan Kasih sadar bahwa Dewa tak pernah main-main dengan ancamannya.
"Tergantung mood gue, berdoa aja supaya gue enggak ketemu dia!" Dewa begitu cuek dengan wajah memelas adik cantiknya dan tetap mengunyah sarapannya tanpa sama sekali melirik ke arah Kasih yang tengah merengek.
"Mas Dewa ihhh!!".
***
Kasih ternganga di atas motor yang masih dilajukan oleh Dewa, bagaimana tidak biasanya Dewa mengantarnya hanya sampai gerbang sekolahnya, tapi pagi ini Dewa melajukan motornya sampai masuk ke dalam parkiran sekolahnya.
Hatinya begitu ketakutan mengingat apa yang Dewa ucapkan tadi malam dan tadi saat sarapan, ia pun celingukan ke semua arah berharap mereka tak bertemu dengan Genta.
Sayang seribu sayang tepat saat Kasih diturunkan, mobil Genta pun tiba. Cowok tampan nan menyebalkan itu kemudian turun bersama dengan Clara.
Pandangan mereka sempat bertemu, meskipun Genta terlihat biasa saja akan tetapi tidak dengan Kasih yang semakin terlihat ketakutan, terlebih saat melihat bagaimana Dewa memandang ke arah Genta.
"Udah sana Mas Dewa, jangan macem-macem!" rengek Kasih mendorong-dorong tubuh tinggi tegap Dewa agar kembali menaiki motornya.
Dewa menghela nafasnya berat saat melihat wajah pucat Kasih dengan mata yang berkaca-kaca, karena tak tega ia memutuskan untuk menaiki kembali motornya.
Dewa memilih mengalah, paling tidak sampai Kasih masuk ke dalam gedung sekolahnya dan berharap saat adiknya masuk, Dewa masih berada di hadapannya agar ia tetap bisa memberikan pelajaran pada cowok sal*an yang sudah berani menyentuh adiknya.
"Iya, oke! Sekarang masuk sana, entar Lo telat!" perintah Dewa menghembuskan nafasnya berat.
"Enggak mau, Mas Dewa dulu yang pergi baru aku masuk!" tolak Kasih menggelengkan kepalanya.
Dewa mendengus kesal mendengar ocehan adiknya, rasanya dirinya tak sabar untuk segera menerjang cowok jangkung di seberangnya yang saat ini tengah asyik bersenda gurau dengan Clara.
"Elo mau masuk apa gue hajar aja tuh cowok sial*n sekarang!" ancam Dewa dengan wajah merah madam membuat Kasih semakin ketakutan.
"Iya aku masuk sekarang, tapi janji Mas Dewa jangan macem-macem!" Kasih langsung melangkahkan kakinya sambil sesekali menengok ke belakang setelah melihat anggukan Kakak sepupunya.
Saat tubuh mungil Kasih tak terlihat lagi dan melihat Genta masih asyik dengan sang pacar, Dewa dengan langkah panjang menghampiri mereka dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=