
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Dengan dibantu dua karyawan, Kasih menyajikan menu pesanan keluarga Dawson. Mereka begitu berhati-hati dalam melayani keluarga tersebut berharap agar tak mengecewakan entah dari segi makanan atau pun pelayanan.
Genta sendiri terus saja memperhatikan Kasih yang terus tersenyum ramah melayani keluarganya.
Tak dipungkiri hatinya pun merasa terkagum dengan kepribadian yang ada pada cewek mungil berstatus musuh cantik di sekolahnya itu.
Dimana gadis semuda Kasih tak malu dengan kesederhanaan yang ia miliki, bahkan ia selalu bangga dengan status anak beasiswa yang diembannya di sekolah yang terkenal sebagai sekolah bonafit di Jakarta tanpa minder sedikit pun.
"Jadi kamu siswi penerima beasiswa di sekolah SMA Tunas Harapan Bangsa?" Tanya Adam tersenyum ramah.
"Iya Tuan!" Jawab Kasih sopan.
"Jangan panggil kami Tuan atau pun Nyonya, kamu kan temannya Genta panggil saja kami Om dan Tante!" Pinta Andhira.
"Ehh, iya Nya. Ehh Tante maksudnya..!"Sahut Kasih malu-malu, ia sempat melirik ke arah Genta yang tengah menaik turunkan alis matanya juga memasang senyum menyebalkan untuk menggodanya.
"Om harap kamu bisa menjadi siswi kebanggaan Tunas Harapan Bangsa ya Kasih, Om tau anak-anak beasiswa terkadang lebih menonjol kecerdasannya, karena mereka anak-anak yang tidak menyia-nyiakan kesempatan dan Om harap kamu pun begitu!" Ucap Adam, lebih kearah menyindir Genta sepertinya.
"Iya Om, Insya Allah!" Sahut Kasih tersenyum senang dengan ucapan Adam yang begitu menyemangatinya.
"Maaf aku telat!" Sapaan seseorang dengan suara yang tak asing membuat Kasih kembali menengok ke arah sang pemilik suara untuk memastikan bahwa suara yang cukup menyenangkan telinganya adalah milik Rangga.
Dan benar saja, senyum Kasih langsung mengembang lebar dengan mata berbinar melihat kedatangan Rangga.
"Kak Rangga?" Ucapnya seperti memastikan bahwa sosok tersebut adalah Rangga.
"Hai Kasih..!" Sapa Rangga ramah menyentuh cuping hidung mancung Kasih, membuat Kasih tersipu malu.
"Kalian seperti sudah dekat sekali?" Tanya Andhira.
"Deketlah Tante, calon pacar Rangga ini. Cantik kan Tan?" Jawab Rangga dengan kerlingan menggoda ke arah Kasih yang wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Andhira sekali lagi memastikan.
"Iya Tante, aku sama Kasih lagi pendekatan!" Jawab Rangga terus terang membuat Kasih semakin salah tingkah.
"Fokus belajar Rangga, jangan fokus pacaran aja!" Goda Adam semakin membuat Kasih mati gaya saja.
"Gak apa-apalah Om, kalo pacarnya secantik Kasih aku jadi semakin semangat sekolah, semakin semangat belajarnya. Belum pacaran aja, dia udah jadi morning booster aku tiap mau berangkat ke sekolah!" Sahut Rangga, kini Kasih tak mampu lagi menutupi wajahnya yang semakin memerah, bahkan saat ini Kasih mengigit bibir bawahnya untuk menetralisir rasa malunya akibat godaan Rangga.
"Sudah, sudah enggak lihat apa Kasih udah merah gitu wajahnya!" Ucap Andhira menghentikan obrolan Adam dan Rangga.
Sedang Genta terlihat jengah dengan pemandangan serta pembicaraan yang sedang terjadi.
"Ohh iya Kasih, Kakak lupa tanya menu favorit di sini apa ya?" Tanya Adhisti mengalihkan pembicaraan.
"Kalo Kakak suka pedas, oseng mercon di kedai kami jadi menu favorit di sini. Banyak banget pelanggan yang repeat order!" Jawab Kasih menunjuk mangkuk saji berisikan oseng mercon yang masih mengepul.
"Beneran enak Kasih, kamu pernah coba?" Tanya Adhisti lagi.
"Ehh, emhh kalo dari peminat sih banyak banget Kak yang selalu pesan ini tapi karena saya gak suka pedas jadi saya enggak tau. Maaf..!" Jawab Kasih sopan.
Namun ternyata penjelasan Kasih menumbuhkan ide jahil pada otak Genta untuk mengerjai Kasih.
"Masa lo bisa bilang ini menu favorit di sini padahal lo sendiri gak tau rasanya, gak masuk akal!" Cibir Genta.
"Karena aku gak suka pedes, aku gak pernah makan itu!" Jawab Kasih gugup.
"Yakin cuma itu alasannya? Bukan karena sebagai syarat penglaris mungkin agar pemilik kedai gak makan salah satu menu?" Ejek Genta.
"GENTA..!!!" Teriak semua anggota keluarga.
"Loh, bukannya ada yang kayak begitu kan?" Sahut Genta memprovokasi.
"Elo selalu bilang elo anak modern, tapi lo percaya gitu-gitu an. Aneh tau enggak lo!" Geram Rangga.
"Hal kayak gitu emang ada kan, mau elo orang dulu atau pun orang masa kini. Praktek kayak gitu biasa kan?" Sahut Genta masih dengan nada mengejek.
"Insya Allah kami bersih, kami tidak menggunakan praktek seperti itu agar kedai kami ramai. Ini semua karena murni memang saya yang gak suka pedas!" Kasih mencoba memberi penjelasan lagi.
__ADS_1
"Alesan lo aja itu, zaman sekarang mana ada cewek enggak suka pedes?" Cibir Genta.
Mendengar cibiran Genta yang sepertinya tak mau berhenti sama sekali, Kasih langsung mengambil piring kosong dan meletakan potongan daging kecil untuk ia suapkan ke dalam mulutnya.
"Maaf saya ambil sedikit ya Om-Tante, saya mau buktikan kalo apa yang diucapkan Genta itu enggak benar. Insya Allah kedai kami bersih, gak seperti Genta bilang!" Ucap Kasih, kemudiaan langsung menyuapkan potongan daging itu ke dalam mulutnya.
Saat potongan daging itu masuk ke dalam mulutnya, rasanya ingin sekali Kasih langsung melepehkannya, tetapi jelas itu tidak mungkin.
Dengan terpaksa Kasih mengunyah potongan daging itu dengan bibir bergetar, wajah memerah serta keringat yang mengucur deras. Dan dengan susah payah Kasih pun menelannya.
"Harusnya kamu gak perlu mendengarkan anak tak punya sopan santun itu!" Geram Adam menatap marah ke arah Genta karena melihat Kasih yang sepertinya begitu tersiksa memakan potongan daging bercita rasa pedas itu.
"Enggak apa-apa Om, kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati..!" Sahut Kasih dengan eksprsi kepedasan yang tak bisa ia tutupi.
"Kamu itu keterlaluan banget sih Genta!" Gertak Andhira.
"Yaelah Mom, dia cuma kepedesan gak sampe sekarat. Gitu aja lebay kalian!" Sahut Genta cuek kemudian mulai menyendokan makanannya ke dalam mulut.
Kasih yang sudah merasakan pusing, mual dan sesak memilih melepas apronnya kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarnya di lantai dua.
Bahkan sapaan salah satu pegawai yang berpapasan dengannya tak ia indahkan, sungguh ia merasa tersiksa dengan tubuhnya saat ini yang mulai merespon alerginya.
Dengan tergesa-gesa Kasih langsung meminum air putih sebanyak mungkin dari teko yang memang selalu tersedia di atas nakasnya, berharap agar mengurangi efek alergi yang tengah ia alami saat ini.
Namun ternyata semua sia-sia karena Kasih semakin merasa sesak di dadanya juga mual yang hebat hingga membuatnya tak lagi mampu menahan muntahannya.
Ia pun menjatuhkan tubuhnya dari ranjangnya ke lantai agar tak mengotori ranjangnya.
Sungguh saat ini Kasih seperti tengah menjemput ajalnya.
Ia terus menerus memuntahkan isi perutnya dengan dada yang semakin terasa sesak bahkan ia merasa ia sudah tak mampu lagi menghirup oksigen.
Tubuhnya pun tersungkur di atas lantai dengan nafas yang sudah satu-satu, wajahnya mulai membiru dengan tubuh bergetar hebat. Disaat sudah akan kehilangan kesadarannya, Kasih masih mendengar sayup-sayup seseorang memanggil namanya.
"Kasih..!".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1