
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Gue enggak bisa nerima ini, ini terlalu mahal buat gue!" tolak Kasih tegas.
Dia ingat betul nominal harga yang tertera pada tas tersebut kemarin. Dan untuk orang seperti dia, pasti akan aneh jika memakai barang branded dengan harga fantastis.
"Kenapa? Bukannya elo suka sama tas ini?" tanya Genta.
"Siapa sih yang enggak suka sama tas sebagus dan semahal ini? Semua pasti sukalah, termasuk gue!" jawab Kasih.
"Terus?"
Kasih dibuat berdecak kesal dengan sikap Genta yang tak peka.
"Ishh, elo itu bego apa gimana sih? Orang kayak gue kalo pake barang kayak gini jelas bakal jadi omongan tau enggak!" Kasih menatap jengah lawan bicaranya yang sepertinya masih juga belum faham maksud ucapannya.
"Omongan gimana?"
See, benarkan cowok menyebalkan ini belum juga mengerti arah pembicaraannya.
"Tas ini tuh seharga enam motor matic, dan elo lihat gue. Gue bisa sekolah di sekolahan elo aja karena beasiswa, terus kalo tiba-tiba gue ke sekolah gemblong tas ini, mereka bakal mikir gimana coba? Pasti mereka kira gue ini simpanan sugar Daddy alias om-om. Ngerti sekarang?"
Genta yang akhirnya faham maksud pembicaraan gadis cantik itu justru langsung tergelak, membuat Kasih makin dongkol saja.
"Kenapa Lo malah ketawa sih?" tanya Kasih kesal.
"Elo peduli omongan orang?" ucap Genta balik bertanya.
"Ya iyalah gue peduli!" salak Kasih.
"Ngapain sih lu nyia-nyia in hidup Lo buat peduli sama omongan orang lain?" ejek Genta tak habis pikir dengan gadis cantik di depannya.
"Enggak semua omongan orang lain gue denger kok,. Gue enggak mau aja ada yang berprasangka macem-macem gara-gara tas ini. Gue cuma mau hidup tenang di sekolah!" elak Kasih.
"Jadi, maaf gue enggak bisa nerima tas ini. Lagian kan gue enggak minta, gue cuma minta lapis legit yang waktu itu. Ini terlalu wah buat gue. Sekali lagi maaf!" ucap Kasih sambil membereskan tas itu kembali ke paper bag nya dan memberikan kepada Genta.
"Beneran elo enggak mau?" tanya Genta sekali lagi, mencoba menyakinkan keputusan Kasih.
Kasih pun langsung mengangguk yakin akan keputusannya. Jelas hal tersebut membuat Genta menghela nafasnya berat.
"Gue enggak biasa ngambil lagi barang yang udah gue kasihin ke orang lain, jadi kalo emang elo enggak mau nerimanya mending elo buang ajalah!" ucap Genta.
Mata Kasih langsung membola saat Genta memintanya untuk malah membuang tas mahal tersebut.
"Dibuang?" pekik Kasih.
"Iya, dibuang. Kan gue udah bilang gue enggak pernah ngambil barang yang udah gue kasih ke orang. Jadi buang ajalah kalo emang enggak mau" sahut Genta enteng.
"Ini tujuh puluh jutaan lho harganya, gue masih inget banget! Lo bisa dapet enam motor matic, lho?" ujar Kasih.
__ADS_1
"So?"
Lagi dengan cueknya Genta seakan tak mempersalahkan nominal barang yang ia beri, meskipun harganya selangit.
"Udah ahh, gue mau balik dulu. Udah siang gue mau jalan-jalan sama Ayang!" pamit Genta dengan tampang tengilnya.
"GENTAAAAA, INI TASNYAA!" teriak Kasih, tapi Genta tetap saja berlalu dengan cueknya.
Kasih menatap paper bag di tangannya, bingung akan diapakan tas pemberian Genta tersebut.
Dibuang? Dia tak segila untuk membuang barang bernilai puluhan juta. Dipakai? Jelas saja tak akan mungkin dia lakukan, merasa tak pantas memakai barang semahal itu.
"Jual aja kali ya, lumayan kan duitnya buat beli motor!" Kasih terkekeh sendiri dengan pikirannya.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk sementara menyimpan tas tersebut sampai dia bisa menentukan apa yang akan dilakukannya dengan tas branded tersebut.
"Dikasih apaan Lo sama cowok sialann itu?" tanya Dewa saat Kasih melewatinya untuk pergi ke kamar.
"Nih!" jawab Kasih menyodorkan paper bag ke depan wajah Dewa.
"Ada acara apa, dia pake ngasih-ngasih barang mahal kayak gini buat elo?" terdengar nada suka dari mulut Dewa.
"Katanya ucapan makasih karena aku udah nganterin dia kemarin!" jawab Kasih kembali menurunkan paper bag nya dari hadapan sang Kakak.
"Yakin lu cuma ucapan makasih doang, enggak ada niat terselubung lainnya?" tanya Dewa curiga.
Kasih hanya menggedikkan bahunya, yang jelas untuknya saat ini hanyalah menyimpan baik-baik tas mahal itu sampai dirinya tahu akan diapakan barang tersebut.
"Emang isinya apaan sih?" tanya Dewa lagi penasaran.
Sama seperti Kasih saat awal mengetahui harga tas tersebut, Dewa pun membolakan matanya mendengar harga fantastis untuk sebuah tas sekolah.
"Seriusan harganya segitu?" tanya Dewa takjub.
"Iya serius, aku ngelihat sendiri kok kemarin bandrol harganya!" jawab Kasih menyakinkan.
"Udah ah, bentar lagi gantian jam istirahat kita. Aku mau taro tas ini dulu. Inget ya Mas Dewa udah janji mau neraktir aku makan di cafe baru persimpangan sana, Mas juga janji aku bebas makan seberapa banyak dan boleh bungkus juga!" lanjut Kasih bersemangat.
***
Pagi ini agak Kasih merasa ada yang berbeda dengan siswa siswi di sekolahnya saat menatap dirinya, Kasih merasa seperti ditatap dengan tatapan merendahkan oleh beberapa siswa dan siswi sekolahnya.
"Yakin gue sih, dia enggak cuma ngandelin beasiswa aja bisa sekolah di sini. Mentang-mentang cantik, bisa-bisanya dia ngembat dua sodara terpopuler di sekolah ini!" sindir salah seorang siswi yang dilewatinya.
Mendengar kata beasiswa, dirinya pun yakin jika ia lah yang menjadi objek pembicaraan. Namun ia tetap diam, berusaha tak perduli dengan nyinyiran siswi tersebut.
Masih berusaha tak terusik sama sekali, Kasih meneruskan langkahnya untuk menuju ke kelasnya.
"Gimana rasanya gandeng dua cowok paling tajir, paling populer di sekolah ini ya?" ejek siswi lainnya yang diikuti gelak tawa teman-temannya.
"Sayang, gue enggak setajir dua Dawson. Meskipun dari segi tampang, gue juga enggak kalah menawan. Tapi apa mau ya dia sama gue!" seorang siswa ikut menimpali ejekan pada Kasih, bahkan siswa tersebut dengan terang-terangan memandang rendah Kasih.
"Kalian ini pada kenapa sih sama gue? Gue pernah bikin masalah apa sama kalian hah?" gertak Kasih tak tahan dengan sindiran-sindiran yang dia dengar.
__ADS_1
"Elo gak salah Kasih, yang salah tuh elo terlalu cantik sampe-sampe dua Dawson elo gaet semua. Kita itu iri jadinya" sahut seorang siswi cengengesan.
"Maksud elo?" tanya Kasih sungguh-sungguh tak mengerti perkataan Kakak kelasnya itu.
"Bagi tips nya dong Kasih biar digilai banyak cowok ganteng dan keren di sekolah ini!" pinta seorang lainnya lebih ke menyindir.
Bahkan seorang siswi dengan beraninya langsung berdiri di sebelah Kasih untuk membisikan sesuatu.
"Lebih ganas mana antara Genta dan Rangga? Gue rasa Genta, soalnya gue sendiri pernah ngerasain nya!".
Benar-benar tak tahu malu, seorang gadis mengumbar aibnya sendiri dengan sangat percaya diri.
"Sayangnya gue enggak tau karena gue bukan termasuk deretan cewek bego kayak elu yang mau aja ditidurin sama Genta!" ejek Kasih.
"KURANG AJAR LO, MUNAFIK TAU GAK LO!" teriak cewek tersebut mendorong kasar tubuh mungil Kasih yang langsung jatuh terjengkang karena tidak sempat menghindar.
Dan Kasih adalah Kasih, ia tak akan pernah mau terlihat lemah di depan siapa pun terlebih di depan orang-orang yang tidak menyukainya.
Dengan cepat Kasih langsung menendang tulang kering cewek bringas tersebut yang juga langsung membuat cewek tersebut terkapar kesakitan.
"Kenapa hah, elo enggak terima kalo elo itu emang termasuk cewek bego?" balas Kasih berteriak.
Dengan posisi yang sudah bangun, Kasih langsung menduduki perut gadis yang masih dalam posisi telentang tersebut saat dirinya mengangkap gelagat jika cewek tersebut akan kembali menyerangnya.
"Asal elo tau ya cewek bego, bener gue emang pacaran sama Kak Rangga dan untuk tuduhan elo juga kalian semua kalo gue macarin Genta juga itu salah besar!" ucap Kasih.
"Gue dan Genta bahkan enggak pernah berteman sama sekali. Paham kalian semua!" geram Kasih menatap tajam satu per satu orang-orang yang menyindirnya tadi.
"Dan buat elo, gue ingetin sama elo ya. Jangan pernah ngerasa bangga karena pernah tidur bareng Genta, asal elo tau elo itu justru terlihat murahan dan enggak punya harga diri!" tunjuk Kasih dengan ibu jarinya pada wajah gadis yang berasa di bawahnya.
Setelah puas dan merasa tak ada perlawanan lagi, Kasih pun bangkit dari atas tubuh cewek yang terlihat berantakan tersebut dan sebelum beranjak dari hadapan orang-orang yang membully nya, Kasih memberikan tatapan tajam satu per satu pada mereka semua.
"Pasti ada yang enggak beres nih, gue harus cari tahu!" batin Kasih dongkol.
Selama berjalan ke kelasnya pun Kasih masih menerima tatapan mengejek dari beberapa orang yang dilewatinya, bedanya tak ada satu pun yang nyiyir di hadapannya.
Sesampainya di kelas, meskipun kesal Kasih tak lupa mengucapkan salam dan seperti biasa ada beberapa temannya yang menjawab salamnya, ada juga yang cuek karena sedang asyik sendiri.
"Elo enggak apa-apa?" tanya Axel seperti biasanya saat melihat wajah Kasih muram.
"Kalian tau kan ada apa sebenarnya? Tolong kasih tau gue!" pinta Kasih dengan helaan nafas berat.
"Elo belum baca chattingan grup sekolah?" tanya Evelyn yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Kasih.
"Coba buka deh!" perintah kali ini datang dari Rania.
Dengan cepat Kasih pun langsung mengambil ponselnya dari ransel dan membuka grup chattingan sekolahnya.
Mata Kasih langsung membelakak ketika membaca satu per satu pesan yang tertera di sana. Ia pun langsung menscroll ke atas untuk melihat foto yang sedang dibahas oleh siswa dan siswi sekolah SMA Tunas Harapan Bangsa.
Dan lagi Kasih dibuat terkejut saat dua foto dirinya dengan dua laki-laki yang berbeda seakan berciuman.
Dia ingat, foto itu diambil saat semalam dirinya hampir akan tenggelam. Dia pun yakin jika Genta dan Rangga menciumnya saat itu hanya untuk memberikan nafas buatan.
__ADS_1
Tapi sayang orang yang mengambil foto tersebut begitu pandai mengambil angle foto, hingga terlihat seakan-akan mereka berciuman.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=