Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Kode Alam


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih terus saja mengelus-elus boneka anjing pemberian Genta, entah mengapa Kasih lebih menyukai boneka tersebut yang dirasanya pas untuk dipeluk serta dibelai-belainya karena bulu-bulu yang terasa lebih lembut di tangannya.


Setibanya Dewa di kamar perawatan Kasih, dan sempat beberapa saat bercengkrama dengan Rangga, kini mereka hanya berdua di kamar perawatan. Dewa meminta Ranti untuk tak perlu kembali ke rumah sakit, karena malam ini Dewa memang berniat untuk menemani Kasih.


"Emang Mas Dewa enggak kuliah besok?" Tanya Kasih memecah kesunyian diantara mereka berdua, karena sedari tadi Dewa asyik sendiri menyaksikan balap motor sambil makan rice bowl yang sepertinya sungguh enak.


"Kuliah, besok gue cuma ada satu mata kuliah aja itu juga siang jadi aman!" Jawab Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tivi datar yang berukuran lumayan besar terpasang di dinding.


"Besok Bude buka kedainya enggak? Kalo enggak karena mau nemenin Kasih mah mending tetep buka aja, aku enggak apa-apa kok sendirian. Biasanya pasien VIP pelayanannya diutamakan!" Ucap Kasih berhasil mengalihkan pandangan Dewa ke arahnya.


"Idihhh, ke GR an banget lo, Ibu tetep bukalah palingan besok nyuruh Mbak Yuni yang nemenin elo di sini" cibir Dewa kemudian kembali memusatkan perhatiannya ke layar datar yang masih menayangkan balap motor luar negeri kesukaannya.


Kasih hanya menaikkan sudut bibirnya melihat tingkah sang Kakak yang terus saja asyik dengan kegiatannya sendiri.


Ia kemudian memilih memandangi kedua boneka pemberian Genta dan Rangga bergantian, dari kedua boneka tersebut Kasih bisa menyimpulkan jika Rangga lebih peka dan perhatian pada seorang perempuan, juga lebih mengerti tentang perempuan.


Sedang Genta bisa ia simpulkan jika Genta adalah tipe-tipe cowok cuek yang asal dan enggak ada pengertiannya sama sekali, bagaimana bisa cowok itu memberikan boneka dengan perawakan garang ke cewek seimut dan semanis dirinya, ishh.. menyebalkan!.


***


Paginya, Kasih baru saja menyelesaikan mandinya. Ia memang tipe anak mandiri dan tak mau menyusahkan, jadi meskipun masih lemas ia tetap berusaha untuk melakukan ritual mandinya tanpa dibantu oleh perawat walaupun seorang perawat tadi sudah mengajukan diri untuk membantunya membersihkan diri.


Sedang Dewa, masih saja berselancar di mimpinya membuat Kasih benar-benar merasa kesal. Bagaimana tidak, sepanjang malam Dewa terus saja asyik dengan kegiatannya tanpa sama sekali menemani untuk sekedar ngobrol sampai ia menjemput kantuknya.

__ADS_1


Akan tetapi Dewa lebih memilih asyik sendiri dengan acara tivinya, karena selesai dengan acara balapan motor, Dewa melanjutkan menonton pertandingan sepak bola tim kesebelasan favoritnya, well double menyebalkan bukan terlebih sekarang melihat Dewa yang masih lelap dalam tidurnya ingin rasanya Kasih menancapkan selang infus ke hidung mancung sang Kakak.


"Ishhh, nyebelin banget sihh. Nemenin apaan, dari malem asyik sendiri yang sakit dicuekin. Lihat aja aku aduin ke Bude!" Cibir Kasih penuh ancaman.


Saat Kasih tengah menikmati sarapan paginya, Dewa pun akhirnya terbangun dan merenggangkan tangannya ke atas.


"Pagi, adekku yang cantik. Udah mendingan?" Sapa Dewa mendekati ranjang adiknya.


"Mana nih yang katanya nemenin orang sakit? Malah asyik sendiri dan baru bangun lagi!" Sembur Kasih menatap sebal sang Kakak yang masih saja bisa menampilkan senyum menyebalkannya.


"Lah emang kalo nemenin orang sakit kudu gimana Kasih Sayang?".


"Ya temenin ngobrol kek, bantuin ngurusin keperluan aku kek. Bukannya malah nonton tivi sampe larut, nyuekin aku. Terus baru bangun sekarang, ngebiarin aku ngapa-ngapain sendirian" sembur Kasih dengan wajah kesal.


"Nanti bakal aku aduin Mas Dewa ke Bude, lihat aja!" Ancam Kasih karena melihat Dewa diam saja dan hanya terus-terusan mengulum senyum.


"Kalo udah balik ke mode galak sama berisik kayak gini berarti adek gue udah baik-baik aja, udah ke setelan awalnya. Lega gue!" Ledek Dewa yang langsung dihadiahi pukulan tangan Kasih di lengannya.


"Dek, tuh boneka anjing siapa yang ngasih sih? Masa boneka mukanya galak gitu dikasihin ke orang sakit, nahh lu nya juga kayaknya demen banget melukin tuh boneka? Bagusan juga tuh boneka kucing, imut, lucu gemesin gitu!" Dewa memang memperhatikan Kasih semalam yang terus asyik memeluk dan mengelus-elus boneka anjing tersebut, bahkan saat ingin membenarkan selimut ketika Kasih terlelap, Kasih tetap memeluk erat boneka tersebut.


"Tapi enak buat dipelukin Kak, dielus-elusnya lembut di tangan. Kasih suka..!" Jawab Kasih.


"Emang dari siapa sih?" Tanya Dewa lagi penasaran.


"Genta!" Jawab Kasih.


"Kapan dia dateng?" Kasih bisa menangkap suara kesal Kakaknya tersebut, ia yakin sekali jika Dewa mengetahui biang keladi penyebab dirinya harus sampai di rawat di rumah sakit saat ini adalah Genta.


"Kemarin sore, dia minta maaf ke aku terus ngasih boneka anjing ini sebagai permintaan maaf!" Jawab Kasih dengan suara lirih.

__ADS_1


"Asli, gue kesel sama tuh cowok. Rasanya kayak ada yang nge ganjel di ati gue kalo belum bikin babak belur tuh bocah!" Geram Dewa dengan mata memerah dan rahang mengeras akibat terlalu marah.


"JANGAN!!" Pekik Kasih tiba-tiba.


"Kenapa? Lo suka sama tuh cowok?" Tanya Dewa penuh selidik.


"IDIIIIHH... NAJIS!!" Cibir Kasih dengan suara keras membuat Dewa langsung tergelak dan melupakan sebentar kekesalannya pada Genta.


"Ya abis lo kayak gak rela gitu buat gue ngehantam tuh cowok!" Jengah Dewa.


"Bukan gitu, lagian aku lihat dia kayaknya nyesel banget kok dan juga lihat dong Mas keluarga Genta udah mau ngeluarin uang banyak buat biaya perawatan aku di kelas mewah lagi, itu kan artinya mereka bertanggung jawab. Masa masih mau dihantam juga?".


"Iya, iya..!" Sahut Dewa mengalah meskipun terdengar nada suara yang masih saja menyimpan kekesalan.


"Terus tuh boneka kucing dari siapa?" Tanya Dewa mengalihkan pembicaraan.


"Kak Rangga!" Jawab Kasih malu-malu.


"Kok elo aneh sih, lebih seneng melukin, ngelus-ngelus boneka pemberian Genta dibanding boneka pemberian cowok pdkt an elo? Atau jangan-jangan ini kode alam, kalo ternyata entar elo malah berjodoh sama Genta?" Goda Dewa yang langsung membuat Kasih membolakan mata indahnya.


"Idihh najis. Amit-amit, amit-amit! Enak aja nih Mas Dewa kalo ngomong!" Salak Kasih kesal membuat Dewa terbahak-bahak.


"Dibilang jangan sembarang nojas-najis, nojas-najis juga lu. Pamali tau enggak, enggak boleh benci orang sampe segitunya. Takut-takut malah jodoh lu entar sama dia!" Dewa seakan enggan berhenti menggoda adiknya yang wajahnya sudah merah padam menahan kekesalannya.


"Ngeselin banget sih ihh, udah sana mandi jangan godain aku terus!" Usir Kasih mendorong tubuh Kakaknya dengan kasar.


"Gue kasih saran nama yang pas buat tuh anjing ya!" Kasih langsung memicingkan matanya mendengar ucapan sang kakak.


"GenKa, Genta-Kasih. Cocok kan? Fix jodoh nih kalian pasti!" Kasih langsung melemparkan bantal ke arah Dewa yang terus tertawa menikmati kekesalannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2