
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Genta memandang langit kamarnya setelah selesai bertelfonan dengan Kasih, memikirkan semua yang dikatakan oleh gadis berisik yang sudah mengusik malam-malamnya akhir-akhir ini.
Kali ini menjadi obrolan terlama dan terdalam yang dilakukan antara dirinya dan Kasih, tak pernah menyangka mereka bisa berbicara panjang lebar membahas sesuatu yang begitu dalam.
"Emang elo enggak kasihan sama Clara? Elo enggak pernah mikir masa depan kalian bakal gimana? Seaman-amannya kalian bermain, pernah enggak sih elo mikir bisa jadi kalian kesandung dan akhirnya ngebuat kalian mengemban tanggung jawab yang belum waktunya dan menyesalinya!"
Serentet pertanyaan yang Kasih ucapkan seakan-akan menampar dirinya.
"Sebajing-bajingan elo yang emang udah bajingan, elo pasti tetep nyari perempuan baik-baik kan? Kecuali emang elo niat serius sama Clara, tapi kalo cuma sekedar seneng-senengnya masa muda aja. Apa elo enggak Kasihan sama Clara? Dia juga pasti pengen punya pendamping yang baik, tapi pendamping yang baik apa bisa nerima kondisi dia? Enggak semua kan?".
Genta sempat tertawa mengingat Kasih tetap mengumpatinya disela menasehatinya.
"Ternyata Bocil kayak dia dewasa juga pemikirannya!" ucap Genta terkekeh geli sendiri.
Ia kemudian beranjak dari ranjang, berniat untuk menghirup udara malam di balkon yang memang mengarah ke area kolam renang.
Genta yang baru saja menyandarkan tangannya di railing balkon, langsung disuguhi pemandangan dimana Rangga tengah asyik bervideo call dengan Kasih di tepian kolam renang.
Dilihatnya sang sepupu begitu lepas tertawa, entah apa yang mereka berdua bahas saat ini.
***
"Hari ini Om dan Tante ada di rumah jam berapa?" tanya Rangga ketika mereka sedang sarapan pagi.
"Om sore udah di rumah, hari ini cuma ninjau beberapa proyek di lapangan. Kalo Tante kamu katanya hari ini mau di rumah aja, enggak ke butik. Kenapa emang Ngga?".
"Hari ini aku mau ngajak pacar aku ke sini, mau aku kenalin ke Om dan Tante, enggak apa-apa kan Rangga ajak pacar Rangga ke sini?" izin Rangga, meskipun sedikit ragu dan tak enak hati.
"Si Kasih, gadis cantik yang bantu-bantu di kedai masakan Jogja itu? Yang diisengin Genta sampe masuk rumah sakit?" entah menyindir atau sedang memastikan, yang jelas terlihat sekali Andhira begitu bersemangat.
__ADS_1
"Iya Tante!" jawab Rangga tersipu malu.
"Ajak, ajak Kasih main ke sini. Tante juga pengen kenal sama dia, si cantik yang baik hati. Dari awal ketemu, Tante tuh udah suka banget sama gadis cantik itu, pokoknya feeling Tante enggak akan pernah salah deh. Beruntung banget kamu bisa pacaran sama gadis cantik itu!" Andhira begitu menggebu-gebu membahas tentang Kasih.
Sedangkan Genta, meskipun tak berkomentar sama sekali, tak dipungkiri perasaanya begitu senang mendengar jika cewek berisik itu akan datang ke rumahnya.
Tak ingin terlihat jika ia sama bersemangatnya dengan sang Mommy, Genta memilih terlihat acuh sambil terus menikmati sarapannya.
"Jam berapa kalian akan datang?" tanya Adam yang juga terlihat senang.
"Palingan sore jam lima an!" jawab Genta refleks membuat semua yang berapa di meja makan menengok ke arahnya.
"Sok tau kamu!" salak Andhira.
"Dia itu anak teater Mom, dan hari ini kamu ada jadwal latihan!" sahut Genta, kemudian buru-buru meminum susunya hingga tandas.
"Aku berangkat!" pamit Genta.
Ia langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya, tak lupa mencium kedua sisi pipi Andhira seperti biasa.
"Bener yang dibilang Genta, Ngga?" tanya Andhira memastikan ucapan anak laki-lakinya tadi.
"Berarti sekalian makan malam di sini aja, biar nanti Tante masakin makanan favorit dia. Yang jelas dia enggak makan pedas kan? Kamu tau enggak makanan favorit dia apa?" cecar Andhira penuh semangat, membuat sang suami hanya menggelengkan kepalanya.
Adam tahu sekali jika sang istri sudah menyukai seseorang, istrinya tak akan bisa menutupi perasaan sukanya.
"Nanti Rangga tanyakan ke Kasih ya Tante, Rangga juga belum tau kesukaan dia apa!" jawab Rangga bangkit dari duduknya untuk berpamitan dengan Om dan Tante nya.
"Rangga berangkat ya, Tante, Om!".
***
"Gue denger, elo mau dateng ke rumah nanti?" tanya Genta saat mereka bersiap untuk briefing drama yang akan mereka buat.
"Iya, semalem Kak Rangga ngundang gue buat ketemu Om dan Tante. Kenapa? Masalah?" Kasih memincingkan matanya mendapat pertanyaan dari musuh tampannya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, enggak masalah juga. Seneng malahan elo mau dateng, nyokap gue tadi juga semangat banget tau elo mau main!" Genta tak memperdulikan sikap jutek yang selalu Kasih tunjukkan pada dirinya.
Semalam setelah mengobrol panjang lebar dan begitu dalam, Genta yakin sekali sifat dan sikap Kasih berbanding terbalik dengan yang ditunjukkannya saat ini.
Genta pun memaklumi mengapa Kasih bersikap ketus padanya di sekolah, semua karena gadis pemberani itu tak ingin menjadi objek pembullyan yang akan dilakukan oleh para siswi pengagum dirinya.
"Ooh, gue kira elo keberatan gue mau main ke sana!" cibir Kasih tak memperdulikan jika Genta terus saja menampilkan senyuman di depannya.
"Ooh iya, Om sama Tante suka apa? Nanti biar gue bawain kesukaan Beliau-Beliau!" tanya Kasih tak kalah bersemangat.
Tentu Kasih harus membawa buah tangan bukan untuk datang ke rumah seseorang. So, sedari malam dia pun berpikir kira-kira apa yang pantas dibawanya untuk Om dan Tante dari pacarnya tersebut.
"Enggak usah bawa apa-apa..!" jawab Genta cepat.
"Enggak bisa gitu dong, masa gue gak bawa buah tangan. Gak sopan banget!" salak Kasih langsung menatap tajam Genta saat ini.
"Isshh, udah sih buruan!!" paksa Kasih agar Genta mau memberitahukan kesukaan kedua orang tuanya.
Karena terus di paksa, Genta pun memilih mengalah dan memberitahu kesukaan kedua orang tuanya.
"Nyokap dan Bokap gue paling suka kue lapis legit di toko kue--!" Genta menyebutkan nama toko kue terkenal di bilangan Jakarta Selatan.
Kasih langsung membelalakkan matanya mendengar nama salah satu toko kue ternama yang baru saja disebutkan oleh Genta.
"Harganya berapa ya kira-kira?" batin Kasih bertanya-tanya, karena ia yakin sekali kalau dirinya harus menggocek kantong cukup dalam untuk membeli kue di tempat tersebut.
"Udah gak usah maksain diri, atau kalo enggak Lo beli kue itu di tempat lain aja, yang lebih terjangkau!" usul Genta yang bisa menangkap kegelisahan Kasih.
"Enggaklah, gue tetep akan beli kue lapis legit di sana. Gue punya uang kok!" sahut Kasih cepat.
Kasih langsung menghubungi Axel yang juga sedang mengikuti ekstrakulikuler paskibra, berniat untuk meminjam uang karena uang miliknya ada di rekening Dewa.
Ia langsung tersenyum lega saat Axel mengatakan akan memberikan uang tersebut.
"Elo minjem uang temen elo?" tanya Genta memastikan.
__ADS_1
"Iya, soalnya uang gue disimpen di rekening Mas Dewa. Besok gue balikin kok, elo jangan bilang-bilang ke orang lain apalagi ke ortu lu!" ancam Kasih menatap tajam Genta yang hanya terkekeh melihat wajah galaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=