Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Diremehkan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Elo enggak apa-apa gitu keliling sama gue seharian? Cewek elo enggak bakal marah apa, weekend gini malah elo tinggal? Apalagi kalo dia sampe tau, elo jalan sama gue?" serentet pertanyaan langsung Kasih beberkan saat mereka memasuki mobil Genta, dan si pemilik mulai menyetarter mobilnya.


Genta mendenguskan nafasnya berat, kesal bercampur gemas dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting yang dilontarkan oleh gadis cantik di sebelahnya, "emang gue peduli gitu?" balasnya cuek.


Kasih pun mencebikkan bibirnya, mencibir sikap Genta yang menurutnya tak sama sekali peka terhadap perasaan kekasihnya sendiri.


"Enggak kasihan sama dia? Mungkin aja sekarang dia lagi nungguin elo buat ngabisin weekend sama-sama?" sindirnya lagi.


"Ckk, kok elo yang gelisah sih? Gue yang cowoknya aja nyantai kok. Tenang aja, cewek gue itu nurut sama gue, enggak bakal ngambek kalo gue emang gak bisa ngapelin dia weekend ini!" decak Genta.


"Masa?" ledek Kasih memincingkan matanya.


Mendengar ledekan cewek di yang duduk anteng di sebelahnya, Genta hanya terkekeh. Ia tahu Kasih pasti meledeknya karena gadis cantik itu sudah faham betul sifat Clara.


Kasih berusaha tak memperdulikan kekehan Genta yang ia sendiri tak mengerti mengapa cowok aneh tersebut terkekeh-kekeh usai mendengarkan ledekannya, ia lebih memilih memperhatikan mobil yang saat ini dikendarai oleh Genta.


Kali ini Genta memang membawa mobil yang berbeda, mobil tipe SUV yang memang berbody besar, sedangkan biasanya mobil yang Genta bawa adalah mobil sport tipe convirtible yang berukuran kecil tetapi tetap mewah.


"Mobil baru?" iseng Kasih bertanya.


Genta langsung tersenyum bangga saat melihat Kasih yang sepertinya mengagumi mobilnya saat ini, "hmm, hadiah dari Daddy gue, karena gue udah jadi anak baik yang manis dan membanggakan beberapa bulan terakhir" jawab Genta mengada-ngada.


Sontak jawaban Genta langsung dicibir habis-habisan oleh Kasih sambil memasang wajah mual, "dihh, enggak mungkin banget. Jadi anak baik? Belum aja bokap elo tau kelakuan kriminal elo yang melecehkan gue di sekolahan?"


Lagi-lagi ucapan sindiran dari mulut Kasih, membuat hati Genta mencelos, ia pun tak menanggapi sindiran Kasih, melirik sekilas wajah cantik yang kembali mengisyartkan luka membuat Genta tak berani berucap-ucap lagi dan memilih untuk menatap ke depan, mengkonsentrasikan kemudinya.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" tanya Genta memecahkan keheningan diantara mereka. Genta memang belum mengetahui panti asuhan mana saja yang ingin dikunjungi oleh Kasih.


Kasih pun menjawab dengan memberikan tiga nama panti asuhan beserta alamatnya masing-masing, "tapi sebelum itu mampir dulu ke swalayan ya, ada yang mau gue beli, mumpung elo bawa mobil gede!"


Genta hanya menganggukan kepalanya, menyetujui permintaan gadis cantik yang kembali mendiaminya saat ini.


Genta langsung membelokkan kemudi mobilnya saat Kasih menunjuk ke arah pusat perbelanjaan kelas merakyat, ia pernah beberapa kali memasuki pusat perbelanjaan tersebut bersama teman-teman segenk nya.


"Mau beli apa?" tanya Genta saat sudah memarkirkan mobilnya dan tengah membuka seatbeltnya begitu pula dengan Kasih yang juga melakukan hal yang sama.


"Beberapa bahan pokok, enggak apa-apa kan? Atau elo takut kelamaan kalo nemenin belanja gue dulu?"


Genta tak menghiraukan pertanyaan Kasih, ia memilih tetap berjalan di sebelah Kasih yang langsung memberi jarak dari posisi Genta.


"Nyantai aja!" sahut Genta cuek.


Genta dan Kasih menyusuri tiap jalan untuk menuju ke lantai dasar dimana swalayan yang menjul berbagai kebutuhan rumah berada di sana.


"Elo bukan mau ninggalin gue kan?" Kasih balik bertanya dengan tatapan curiganya.


"Ckk, apaan sih? Enggaklah! Tenang aja nanti gue susul elo, gue cuma bentaran doang!" decak Genta.


Kasih memilih mengangguk mengiyakan permintaan Genta, ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke lantai dasar, sedangkan Genta memutar balik tubuhnya dan berjalan menuju toko tas yang lumayan besar yang tadi ia lewati.


Memasuki toko tas, Genta langsung disambut penuh antusias oleh para pegawai terlebih pegawai wanita yang langsung terpesona dengan sosok tampan bertubuh tinggi tegap dihadap mereka.


"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya seorang pegawai wanita dengan suara yang dibuat-buat dan gerakan tubuh genit, meskipun jengah Genta berusaha tak memperdulikannya dan memilih menjawab pertanyaan sang pegawai tanpa mau melihat ke arahnya.


"Gue mau cari tas sekolah cewek!" jawabnya sambil melangkahkan kaki menyusuri rak-rak dan etalase yang memajang beberapa tas.


"Mari saya bantu Mas, untuk usia berapa ya?" tanya sang pegawai lagi masih dengan nada genitnya.

__ADS_1


"Buat anak SMA! Buat cewek gue!" jawab Genta asal yang jengah melihat kegenitan sang pegawai, dan benar saja ekspresi si pegawai langsung berubah kecewa mendengar jawaban cowok tampan itu.


Meski terlihat kecewa, namun sang pegawai tetap profesional dalam melayani Genta, "oohh, banyak Mas, mari saya tunjukkan beberapa keluaran baru di toko kami. Semoga ada yang cocok!" ajak sang pegawai mengarahkan Genta ke area tas-tas sekolah yang berada di sudut toko.


"Sorry ya Kasih, gue nyatut elo sebagai cewek gue! Lagian ucapan adalah doa kan? Siapa tau nanti elo emang jadi cewek gue!" batin Genta terkekeh geli, ia juga membayangkan wajah kesal Kasih jika tau bahwa dirinya dijadikan pacar halu Genta untuk menghindari kegenitan pegawai tersebut.


Genta langsung tertarik dengan tas ransel berwarna hitam dengan bordiran setangkai bunga mawar di sudut sebelah kanan yang terlihat begitu manis.


"Yang itu berapa harganya?" tanya Genta menunjuk tas tersebut.


Pegawai wanita itu pun mengikuti arah telunjuk ke atas dimana letak tas yan menarik perhatian pemuda tampan yang begitu membuat sang pegawai berdebar, "Wahhh, ternyata selera Mas bagus ya. Ini juga koleksi terbaru toko kami, silahkan!" puji sang pegawai sambil menyerahkan tas tersebut pada Genta.


Genta langsung tersenyum menerima tas tersebut, membayangkan betapa manisnya tas tersebut jika digunakan oleh gadis pujaaannya.


"Berapa harganya?" tanya Genta langsung, karena memang tidak tertera harganya dan memang di mall tersebut sudah biasa tawar menawar harga.


"Emhh, delapan ratus ribu Mas" Genta langsung mengernyitkan dahinya dan menatap curiga pada sang pegawai yang menurutnya telah memberikan harga yang cukup tinggi.


Bukan tidak mampu atau pun merasa sayang membelikan barang dengan harga yang fantastis untuk seseorang yang disukainya, akan tetapi harga yang diberikan tidak masuk akal dan Genta tau betul kualitas barang yang dipegangnya saat ini.


Melihat tatapan curiga dari sang pembeli, buru-buru pegawai tersebut untuk mempersilahkan Genta menawar harga, "masih boleh kurang kok Mas harganya, tawar aja!".


"Apa menurut elo, gue enggak mampu beli tas ini dengan harga yang elo kasih tadi?" salak Genta menatap tajam si pegawai yang langsung membuat si pegawai gugup setengah mati.


"Gue bisa beli tas ini sepuluh atau kalo mau gue bisa beli kok toko ini!" pongah Genta dengan gaya sombongnya. "Lo bungkus nihh tas secantik mungkin, kalo perlu pake kertas emas, itu juga kalo toko Lo punya kertas emas!" Genta melemparkan tas tersebut dengan arogannya yang membuat sang pegawai menelan salivanya susah payah.


"Maaf Mas kami tidak memiliki kertas emas, kami hanya mempunyai kertas kado bias--" Genta memotong ucapan terbata si pegawai yang tengah tertunduk, sedang Genta memberikan senyum merendahkan sang pegawai, "gue tau itu, tapi paling enggak toko bisa packing tas ini dengan packingan terbaik dan inget jangan norak!" ketus Genta yang melewati begitu saja si pegawai.


Genta jelas tak terima diremehkan seseorang, apalagi yang meremehkannya adalah orang asing yang tak tahu menahu tentang dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2