Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Tertekan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Genta merebahkan kepalanya di headboard sambil memejamkan matanya, meresapi nyeri dihampir seluruh wajah dan tubuhnya.


Bukan hanya rasa sakit saja, akan tetapi tangisan Kasih saat mereka berciuman tadi sedikit mengganggu dirinya.


"Kenapa harus nangis cuma perkara ciuman sih?" batin Genta yang memang tidak peka.


Hal tersebut bukan tanpa sebab, karena selama ini gadis-gadis dengan suka rela disentuhnya dan tak seorang gadis pun yang menangis hanya karena berciuman. Jangankan berciuman, gadis-gadis yang yang rela diajak berpetualang di atas ranjang pun akan merasa bangga karena bisa melakukannya dengan seorang Genta Mahardika Dawson.


"Tapi kenapa juga hati gue perih ngelihat dia nangis gitu?" batin Genta mendengus kesal.


***


Awalnya Kasih enggan diajak untuk ke kantin oleh ketiga sahabatnya terlebih saat seantero penghuni sekolah yang dilewatinya selalu berbisik tentang masalah pagi tadi membuatnya tambah enggan untuk keluar dari kelasnya, tetapi dengan segala bujuk rayu para sahabat ia pun luluh dan mengikuti ketiga sahabatnya.


"Ada masalah apa sih Mas Dewa sama Genta sebenernya?" tanya Axel disela ia menikmati semangkok baksonya.


"Enggak usah ngebahas itu dulu, bisa enggak? Gue lagi males ngejelasinnya!" sungut Kasih yang hanya mengaduk-aduk siomay tanpa bumbu kacang di hadapannya tanpa berminat sama sekali untuk menyantapnya.


"Padahal kita bertiga penasaran banget!" keluha Rania dengan wajah memelas, membuat Kasih menghembuskan nafasnya berat dan mau tak mau ia pun akhirnya menceritakannya.


"Mas Dewa marah gara-gara Genta nyium gue, dia enggak terima!".


"Gila, perkara nyium doang Mas Dewa Lo itu bisa segitu kalapnya?" Axel langsung bergidik ngeri membayangkan tubuh atletis Dewa saat menerjang Genta.


"Ya itulah Mas Dewa, paling enggak rela kalo gue disakitin atau pun disentuh sembarangan".


"Ihh, melted hati gue. Keren banget dah Mas lu!" puji Evelyn terkagum-kagum.

__ADS_1


Kasih merotasi matanya malas, tak tahu saja sahabatnya ini betapa menyebalkan dan playboynya sang Kakak sepupu.


"Terus Lo tadi dari UKS ngurusin Genta?" cecar Rania dengan wajah tak suka, sedang Kasih hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Elo tadi nangis kan abis dari sana, kenapa?" Axel langsung memfokuskan pandangan ke Kasih yang matanya terlihat kembali berkaca-kaca.


Menatap satu per satu sahabatnya dengan perasaan sesak di dada, tapi dia tak mungkin memberitahukan bagaimana dirinya telah direndahkan oleh Genta tadi.


"Gu.. gue.. kangen sama Kak Rangga!" ucap Kasih berbohong.


"Dihh si lebay, baru juga semalem enggak ketemu sama dia udah bilang kangen. Bucin akut lu!" cibir Rania terkekeh begitu pula Axel, tapi tidak dengan Evelyn yang menangkap kegelisahan Kasih.


Ia yakin bahwa sahabat cantiknya itu tengah menyembunyikan sesuatu yang menyesakkan dada.


"Udah sih ntar juga pulang bareng kan Lo?" celetuk Rania membuat Kasih memaksakan senyumannya.


***


"Kita duluan ya, Kasih!" pamit Axel dan Rania kompak saat jam pulang, sedang Evelyn lebih memilih menunggu di dalam kelas berdua dengan Kasih sengaja untuk menemani sang sahabat yang terlihat lebih pendiam seharian ini.


"Iya tadi dia wa suruh gue nunggu sebentaran karena masih ada diurus di ruang OSIS."


Merasa tak tahan melihat sang sahabat yang seakan memendam kegelisahan, Evelyn memang berencana untuk mengorek apa yang sudah terjadi pada Kasih.


Beberapa kali Evelyn menangkap Kasih yang tak fokus memperhatikan pelajaran tadi, melihat ke arah guru akan tetapi pandanganannya kosong, beberapa kali menghelas nafasnya berat seakan-akan ingin melepaskan sesuatu yang berat di dadanya.


"Ada apa?" tanya Evelyn langsung membuat Kasih mengernyitkan dahinya bingung.


"Seharian ini gue lihat elo gelisah terus sejak pagi tadi?".


"Gara-gara perelisihan antara Mas Dewa dan Kak Genta?".


Meskipun Kasih mengangguk menjawab pertanyaannya, itu tak serta-merta membuat Evelyn langsung percaya. Ia justru menatap dalam ke mata cantik sahabatnya untuk menyelami kejujuran atas jawabannya.

__ADS_1


Tapi Evelyn tak menemukan itu, ia justru yakin sahabatnya ini ada masalah yang lebih pelik yang tengah dihadapi gadis ceria yang seharian ini justru hanya murung saja.


"Cerita sama gue Kasih! Ada apa? Jangan disimpen sendiri" rayu Evelyn membelai lembut surai indah sahabatnya.


Tanpa diduga sama sekali, Kasih langsung menubruk tubuh Evelyn, memeluknya sangat erat dengan tangis yang sudah tak bisa ditahan lagi. Bahkan tubuhnya kini sudah bergetar hebat di dalam pelukan Evelyn.


Cukup lama Kasih melampiaskan sesak di dadanya, disaat sudah merasa lebih baik. Kasih yang masih sesegukan langsun menarik tubuhnya dari dekapan tubuh sahabatnya.


"Ada apa, hm?" tanya Evelyn memberikan tissue basah pada Kasih untuk menyusut sisa air matanya.


"Apa gue kelihatan kayak cewek gampangan?" bukan menjawab, Kasih justru minta pendapat tentang dirinya dari sang sahabat.


Mendengar pertanyaan Kasih, Evelyn hanya mengernyitkan dahinya bingung.


"Tadi di UKS Genta ngancem gue, bakal jeblosin Mas Dewa ke penjara karena udah bikin dia babak belur--!" Kasih sempat menjeda ceritanya untuk mengambil nafas lebih dalam juga menguraikan sesak di dadanya.


Sedang Evelyn dengan sabar menunggu Kasih untuk melanjutkan ceritanya tanpa mau memburunya sama sekali.


"Dia ngasih tiga pilihan ke gue buat ngebatalin laporannya, pertama gue disuruh putus sama Kak Rangga terus jadian sama dia, kedua dia nyuruh gue tetep pacaran sama Kak Rangga tapi backstreet sama dia dan ketiga dia minta berciuman sama gue--!".


"Dan gue milih yang ketiga.."


Tangis Kasih kembali meledak setelah memberitahukan pilihan yang dia pilih.


Evelyn sendiri langsung merasa geram dengan tingkah Genta yang seenaknya.


"Gue ngerasa direndahkan, gue terhina.. Gue, gue ngerasa udah ngekhianatin Kak Rangga. Gue jijik sama diri gue sendiri, hiks..!" lanjut Kasih dengan tangis pilunya.


"Kenapa Genta selalu ngelecehin gue? Gue bukan cewek yang seenaknya bisa dia sentuh, gue emang miskin, tapi gue punya harga diri.." geram Kasih penuh kemarahan.


"Apa karena gue enggak sekaya dia, jadi dia bisa seenaknya sama gue? Apa gue enggak boleh dihargai karena gue miskin?" Kasih terlihat benar-benar tertekan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Genta.


"Enggak Kasih, elo berhak dihargain. Emang dasar Gentanya aja yang keterlaluan, dia yang enggak bisa menghargai perempuan. Dia nganggep semua cewek bakal bertekuk lutut sama dia, sampe dia lupa gimana caranya ngehargain cewek!" Evelyn menarik kembali tubuh Kasih ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jangan sampe ada yang tau kejadian yang gue alami ini ya Eve, terlebih Mas Dewa dan Kak Rangga. Gue enggak mau ada keributan lagi diantara mereka, gue enggak mau bersenggolan lagi sama Genta. Gue takut" Kasih begitu mengiba mengatakan permintaannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2