
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Kenapa diem?" tanya Genta tersenyum, membuka matanya dan menatap Kasih yang masih ternganga mendengar pernyataanmya tadi.
"Elo percaya sama apa yang gue bilang tadi, huh?" Genta tersenyum smirk melanjutkan pertanyaannya.
"Ohh, come on Kasih, gue cuma mau godain elo aja!" tawa Genta menggelegar ketika Kasih memberikan tatapan menghunus ke arahnya.
"Gue cuma enggak suka elo hindari, gue masih banyak urusan yang belum selesai sama elo. Jadi jangan pernah bersikap dingin sama gue!" tegas Genta memandang tajam ke arah gadis cantik itu.
"Gue udah enggak ada urusan apa-apa lagi sama elo! Apa yang elo mau udah gue turutin kemarin, kita udah selesai!" balas Kasih tak kalah tegas.
"Tapi sayangnya kita akan terus berurusan. Mau enggak mau, suka enggak suka!" Genta tersenyum smirk, kemudian meninggalkan Kasih.
Kasih memejamkan matanya, dadanya terasa sesak mengingat apa yang dikatakan oleh Genta benar adanya.
Dia akan tetap berurusan dengan cowok berandal itu selama dia bdersekolah di sini. Mau tidak mau, suka tidak suka.
Dengan langkah gontai, Kasih kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke kelas.
Dalam hatinya ia berkata, meskipun dia tetap harus berurusan dengan Genta akan tetapi ia akan menjaga jarak dengan cowok berandal itu.
"Assalamualaikum..!" sapa Kasih lesu memasuki kelasnya.
"Kebiasaan deh tiap jadwal teater pasti gak bersemangat gitu!" sahut Rania setelah membalas salam Kasih, sedang Kasih hanya tersenyum malas menanggapi celoteh sahabatnya.
***
Jam istirahat, lagi-lagi Kasih tak ditemani oleh Rangga. Sang pacar begitu sibuk dengan urusannya sebagai ketua OSIS, padahal dirinya sangat ingin menghabiskan jam istirahat bersama Rangga.
Paling tidak jika ada Rangga di sampingnya bisa membuat Genta enggan mendekatinya.
__ADS_1
Tapi sayang lagi-lagi harapannya tidak terkabul, karena saat ini Kasih menangkap sosok jangkung nan mempesona Kakak Kelasnya sedang berjalan ke arahnya, ia pun berdecih kesal.
"Selamat siang semua, selamat siang Kasih!" sapa Genta tersenyum lebar.
Meskipun wajahnya penuh lebam, akan tetapi tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
"Boleh gue duduk sini? Udah enggak ada lagi bangku kosong soalnya!" izinnya lagi dan tanpa menunggu jawaban mereka berempat, Genta langsung mendudukan dirinya di samping Kasih. As always.
"Alasan!!!" cebik Kasih melihat tak suka ke arah sang kakak kelas.
Jelas sekali Genta memang mencari-cari alasan agar bisa duduk bergabung dengan mereka, karena Kasih melihat sendiri sudut meja yang biasa ditempati Genta and the genk tersisa beberapa bangku kosong dan tak ada yang berani bergabung dengan mereka.
"Gue sama anak-anak teater yang senior udah sepakat sama satu cerita buat ditampilkan di acara perpisahan dan lomba tahun ini. Mungkin hari ini belum ada latihan, tapi kita sedikit membedah cerita tersebut dan kalo waktunya cukup kita pilih pemain yang pas buat meranin tiap karakter di cerita tersebut!" Genta tak memperdulikan sikap ketus Kasih dan memilih untuk memberitahukan rencananya.
"Jadi gue harap elo dan Rania enggak absen hari ini!" lanjut Genta menatap Kasih dan Rania bergantian.
Kasih dibuat tertegun, karena sesungguhnya ia sudah berniat sekali untuk absen mengikuti latihan teater, tetapi bagaimana bisa Genta mengetahui niatnya tersebut.
Dilihatnya Genta tersenyum licik saat pandangan mereka saling bertemu, Genta seakan menegaskan jika apa yang dikatakannya di lorong sekolah tadi adalah benar.
Bahwa mereka akan tetap berurusan satu sama lain mau tak mau, suka tak suka.
Kasih dan ketiga sahabatnya bahkan dibuat ternganga tak percaya saat Genta yang hendak melangkah sempat-sempatnya membelai lembut kepala dan punggung Kasih layaknya perlakuan seorang pacar pada kekasihnya.
"What the hell?" batin Kasih mengumpat.
***
"Mau aku temenin?" tawar Rangga saat menghampiri Kasih di kelasnya ketika jam pulang.
Rangga bisa melihat keengganan Kasih untuk mengikuti kegiatan organisasi yang dipilihnya, membuat dirinya berinisiatif menawarkan diri untuk menemani sang kekasih.
"Enggak usah Kak, aku enggak apa-apa. Takut malah enggak nyaman nanti. Apalagi Kak Rangga tau sendiri, Genta pasti makin berulah kalo ada Kakak di sana. Aku gak mau ada keributan!" tolak Kasih.
"Aku tunggu kamu sampe selesai di ruang OSIS ya?" Rangga memilih mengalah, karena apa yang dikatakan oleh Kasih masuk akal.
__ADS_1
"Yakin? Enggak takut kelamaan Kak? Aku selesainya mungkin bisa jam lima lebih lho, sekarang baru jam dua siang!"
"Yakin, tenang aja. Banyak yang aku kerjain di ruang OSIS, pasti bakal enggak berasa kok nungguinnya. Kamu konsentrasi aja sama latihan kamu" Rangga mencoba menyakinkan.
Kasih tersenyum senang mendengarnya, Rangga benar-benar berusaha ada untuk dirinya. Membuatnya merasa benar-benar memiliki seorang malaikat penjaga di sisinya.
"Makasih ya pacar!" ucap Kasih tiba-tiba membuat Rangga mengernyitkan dahinya bingung, akan tetapi juga gemas dengan tingkah Kasih.
"Untuk?".
"Untuk berusaha ngejagain dan ngelindungin aku!" jawab Kasih menggemaskan.
Rangga reflek mencubit hidung mancung Kasih pelan merasa gemas dengan tingkah pacar cantiknya itu.
Dan ini sisi lain yang membuat Kasih semakin menyukai Rangga, Rangga begitu memperlakukannya dengan sopan.
Hal yang paling intim yang Rangga lakukan adalah menggandeng tangannya dan memeluknya, itu juga hanya sekali saat Kasih di rawat di rumah sakit.
"Ayo pacar, aku antar ke tempat latihan!" seloroh Rangga mengulurkan tangannya untuk membantu Kasih berdiri dan menggandengnya.
Dengan senang hati Kasih pun menerima uluran tangan Rangga dan menggenggamnya.
Sepanjang perjalan menuju tempat latihan Kasih, mereka menjadi pusat perhatian para murid yang masih betah berada di lingkungan sekolah atau mungkin juga siswa-siswi yang tengah mengikuti ekstrakulikuler yang mengharuskan mereka tetap berada di sekolah pada jam pulang siang ini.
Mereka terlihat sangat serasi, Kasih meskipun bukan dari kalangan orang kaya, akan tetapi ia terlihat cantik terawat dengan kulit bersih.
Dan Rangga jelas terlihat sangat tampan, karena ia yang memang memiliki garis keturunan bangsa Inggris, sama seperti Genta.
Sesampainya di depan pintu aula, Rangga menarik kedua tangan Kasih dan menggenggamnya dalam posisi berhadapan.
"Semangat latihannya ya, jangan ragu bilang ke aku kalo Genta macem-macem sama kamu, oke!" ucap Rangga menyemangati dan menasehati.
Mereka tak menyadari interaksi mereka menyita perhatian semua yang berada di aula, tak terkecuali Genta.
Genta sendiri berdecih kesal melihat pemandangan kedua sejoli yang tengah di mabuk kasmaran itu.
__ADS_1
"Cihh, begitu doang gaya pacaran mereka? Sebatas pegangan tangan, ngebosenin amat!" cibir Genta melihat ke arah Kasih dan Rangga yang masih saja betah bergandengan tangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=