
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Rangga bisa menangkap raut wajah penuh kekhawatiran di wajah cantik Kasih saat ini, "tenang aja, Papa-Mama aku baik kok. Adik perempuanku juga menyenangkan. Kamu enggak usah khawatir!".
Kasih mengangguk, tapi tetap mengigit bibir bawahnya pertanda jika ia masih gugup.
"Untuk Papa-Mama dan adik perempuan Kak Rangga oke lah, tapi aku gimana dong ini?" tanya Kasih gugup.
"Gimana apanya?".
Kasih mencebikkan bibirnya, "Kak Rangga bilang kan hari ini ulang tahun Kak Dhisti. Masa Dateng ke ulang tahun gak bawa kado apa-apa?".
Rangga langsung tergelak, dan dengan gerakan memutar dia mengambil kotak kado yang ia letakkan di kursi belakang mobilnya.
"Sekarang udah tenang?" tanya Rangga sedikit meledek Kasih yang tetap memasang wajah gelisah.
"Itu kan kado dari Kak Rangga buat Kak Dhisti, lah kado dari aku kan belum ada?" Kasih mencebik.
"Sayang, ini kado dari kita berdua. Kamu enggak perlu ngasih kado sendiri!" ucap Rangga berusaha menenangkan.
"Emang bisa? Satu kado atas nama kita berdua?" tanya Kasih polos.
"Bisa dong Cantik, kan kita dateng berdua!" Rangga mencubit pipi Kasih yang sedikit chubby.
"Tapi aku enggak tau itu isinya apa? Masa ada orang Ngado tapi enggak tau isinya?" lagi-lagi Kasih mencebikkan bibirnya.
"Isinya tas, belinya juga sama di tempat tadi siang kamu jalan sama Genta!" entah menyindir atau memang ingin memberitahukan, akan tetapi lagi-lagi Kasih tersentil dengan ucapan pacarnya itu.
"Aku enggak jalan, aku cuma nemenin dia ke sana. Itu juga atas perintah Bude!" Salak Kasih.
"Iya, iya. Udah jangan cemberut lagi. Ayo masuk!" ajak Rangga mengusap-usap lembut kepala sang kekasih yang masih saja membrengut.
Kasih sempat menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu utama yang terbuka, ia menghela nafasnya dalam untuk mengurangi kegugupannya.
"Aku yakin kamu itu cewek tercantik di pesta ini, jadi gak perlu gugup, okeh!" bisik Rangga mencoba untuk menaikkan kepercayaan diri gadis cantik itu.
"Iyalah aku yang tercantik, aku kan pacar kamu, jadi dipuji-puji!" cibir Kasih membuat Rangga tergelak.
__ADS_1
Tapi sepertinya apa yang diucapkan Rangga benar adanya, karena saat Kasih memasuki rumah hingga menuju halaman belakang dimana pesta diadakan, semua pandangan langsung tertuju pada dirinya.
Kasih
Pandangan penuh rasa kagum bahkan membuat Rangga ikut bangga bisa menjadikan Kasih sebagai pacarnya.
"Emang aku cantiknya kebangetan ya Kak? Segitunya mereka ngelihatin aku nya?" dengan narsisnya Kasih meminta pendapat pada sang pacar.
"Cantik, pake banget, banget, banget!" sahut Rangga memuji.
"Lebay ihhh!" cibir Kasih, akan tetapi tetap tersipu juga.
Rangga terus menggandeng tangan kekasihnya hingga tiba ke tempat sang pemilik acara.
Seperti yang lain, keluarga besar Dawson yang melihat Kasih pun langsung terpesona dengan kecantikan gadis mungil yang baru saja tiba.
Hingga riuh yang tengah terjadi, menjadi hening saat Kasih berdiri di sana.
"Ya ampun ini Kasih kan? Cantik sekali!" puji Adhisti memecah keheningan yang tiba-tiba menyeruak sejak kehadirannya, sedang Kasih hanya tertunduk malu.
"Kamu bener-bener pinter cari pacar ya Ngga" sahut Adam semakin membuat Kasih tersipu.
"Masih jauh Tante Dhira, Kasih mau ngejar cita-citanya dulu. Mau jadi Dokter spesialis jantung dia" sahut Rangga mengerling ke arah Kasih.
"Iya, Tante setuju tuh. Kejar cita-cita kalian dulu, toh kalian juga masih muda" Andhira terus menerus menatap lembut Kasih selama berbicara, sungguh dia telah jatuh cinta pada gadis sederhana yang sangat cantik itu.
Bahkan ia harus menepiskan perasaan jahatnya yang terkadang berbisik 'ah andai Genta yang menjadi kekasih gadis cantik di hadapannya'.
Sudahlah, memang Rangga lebih beruntung dari sang anak. Harus diakui, sikap dan sifat Rangga jauh lebih baik dibanding anaknya, maka dari itu Rangga memang lebih pantas mendapatkan Kasih yang juga memiiki sikap dan sifat yang sama.
Rangga
"Kayaknya udah ada yang enggak sabar mau kenalan sama calon mantu, tuh!" tunjuk Arsya pada meja dimana keluarga Rangga tengah duduk bersama.
Rangga pun langsung berpamitan untuk menemui keluarganya yang jauh-jauh datang dari Inggris.
Kasih sempat menghentikan langkahnya, terlalu gugup untuk menemui keluarga sang pacar. Rasanya ia belum siap sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rangga.
"Gugup!" jawab Kasih apa adanya.
"Enggak usah gugup, mereka toh juga udah kenal sama kamu" ujar Rangga membuat Kasih bingung.
Kapan mereka berkenalan? Bahkan ini adalah kali pertama dirinya bertatap muka dengan keluarga Rangga.
Mengerti jika sang kekasih sedang dilanda kebingungan, Rangga pun langsung menjelaskan, "Aku udah pernah, sering malahan kirim foto kamu keluarga aku. Aku juga udah bilang kalo kamu itu pacar aku. Mereka ke sini pun bukan hanya buat ikut acara rutin kumpul keluarga dan ngerayain ulang tahun Kak Dhisti, tetapi juga mereka khusus dateng mau ketemu kamu secara langsung!".
Kasih langsung mendelikkan matanya, tak pernah menyangka jika telah sejauh itu mengambil sikap tentang hubungan mereka di depan keluarga Rangga.
"Ayo!" ajak Rangga lagi menyadarkan dirinya dari lamunan.
"Malam Pa-Ma, Vania!" sapa Rangga sopan menyalimi tangan kedua orang tuanya, juga mencium puncak kepala adik cantik kesayangannya.
Begitu pula Kasih yang juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rangga, kecuali mencium puncak kepala Vania dan hanya sekedar mencium pipi kanan dan kiri adik pacarnya itu.
"So she is my future sister-in-law? So beautiful..!" puji Vania yang langsung merangkul akrab lengan Kasih.
Meski kikuk, Kasih berusaha tersenyum dan terlihat nyaman dengan perlakuan akrab Vania.
"Do you like her?" tanya Rangga meminta pendapat sang adik.
"Of course I like her. She's so beautiful!" jawab Vania, kali ini bahkan tanpa ragu langsung menyandarkan kepalanya di pundak Kasih.
Vania, gadis kelas delapan SMP itu memang sangatlah ceria. Dia selalu mudah berbaur dengan siapa pun.
Sikapnya yang blak-blakan memang terbentuk dari tempat dia tumbuh besar. Vania lahir memang di Indonesia, akan tetapi setelah usianya dua tahun hingga sampai sekarang ia tumbuh di Inggris sana.
"I think, we also fell in love with your girl!" ujar sang Papa, Sean.
Makin tersipu saja Kasih dibuatnya, tak pernah menyangka jika sehangat ini penerimaan dirinya oleh keluarga Rangga.
"Kali ini jaga baik-baik gadis cantik kamu, jangan sampe Genta lagi-lagi merebut apa yang kamu punya!" pesan sang Mama ketus dan tegas.
"Tania!!" tegur Sean tak kalah tegas.
Sedang Kasih hanya mengernyitkan dahinya sambil melirik penuh tanya ke arah Rangga.
Ia pun berfikir untuk menanyakan ucapan Mama Rangga barusan pada sang kekasih.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=