
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Kasih tersenyum lebar melihat sosok Rangga berada di depan pintu aula latihannya, dia yang baru saja selesai briefing dengan para pembina langsung mengirimi pesan pada sang pacar untuk menghampirinya.
"Langsung pulang atau mau makan dulu?" tawar Rangga mengacak-acak puncak kepala Kasih penuh sayang.
βJajan aja deh, jangan makan-makanan berat. Kemarin abis makan mie ayam aku enggak ikut makan malem karena masih kenyang. Ehh tengah malem malah kelaparan, makan deh akhirnya!" keluh Kasih mengerucutkan bibirnya.
"Ya enggak apa-apalah, emang kenapa kalo tengah malam makan?" tanya Rangga menggoda.
"Kalo tiap tengah malem makan, lama-lama aku Ndut dong Kak?" jawab Kasih sok manja membuat Rangga langsung tertawa gemas.
"Jadi yakin nih jajan doang?".
Kasih langsung mengangguk menjawab pertanyaan pacar tampannya itu, ia pun langsung menggandeng tangan Rangga dan berjalan menunju parkiran.
"Mau jajan apa?" tanya Rangga lagi.
"Pizza sama martabak keju!" jawab Kasih cepat.
Rangga langsung ternganga dengan jawaban sang pacar, apa bedanya makan mie ayam dan jajanan yang dimintanya saat ini. Bukannya, sama-sama makanan berat yang mengenyangkan, hanya beda jenisnya saja?
"Becanda dehh, aku cuma mau beli sostel sama cilok aja di depan sekolah kita!" mengerti apa yang dipikirkan oleh cowoknya, Kasih langsung meralat ucapannya diiringi dengan cengiran khasnya.
Sesampainya di gerbang sekolah, Kasih langsung menuju ke penjual jajanan yang ia inginkan di seberang sekolahnya. Sempat berdebat dengan sang pacar karena menolak uang untuk membeli jajanan dari Rangga, Kasih terpaksa mengalah ketika Rangga dengan wajah seriusnya mengancam akan memborong jajanan yang diinginkannya.
"Abang sostelnya dua ya, yang satu pake mayonaise aja. Satunya lagi pake mayonaise dan saos cabe!" requestnya pada penjual sostel yang langsung diiyakan dengan mimik jenaka sang penjual.
"Siap Neng!".
Selagi menunggu sostelnya dibuat, Kasih beralih ke penjual cilok di sebelahnya.
"Abang aku mau ciloknya dua puluh ribu dijadiin dua ya, satu pake bumbu kacang sama kecap, yang satu kecapnya aja!".
Sama seperti Abang si penjual sostel, Abang penjual cilok pun merespon permintaan Kasih dengan jenaka.
__ADS_1
"Siap disajikan sesuai request an Neng cantik!".
"Jajan juga Juragan Kebab?" tanya suara seseorang yang langsung membuat suasana hatinya buruk seketika.
"Ngapain lu di sini?" sembur Kasih tanpa berminat merespon pertanyaan Genta tadi.
"Jajanlah, emang lu doang yang boleh jajan di sini?" jawab Genta dengan tampang tengilnya, kemudian ikut memesan dua sostel.
Enggan meladeni ketengilan Genta, Kasih lebih memilih menikmati butir demi butir cilok kecapnya sambil menunggu sostelnya selesai dibuat.
Genta yang memperhatikan apa yang sedang dinikmati gadis galak dihadapannya ini langsung menyemburkan tawanya, membuat Kasih, pedagang dan beberapa siswa yang juga sedang membeli jajanan memusatkan perhatian padanya.
"Kenapa lagi lu?" tanya Kasih memincingkan matanya.
Ia yakin sekali jika alasan cowok rese di hadapannya saat ini tertawa adalah dirinya.
"Itu cilok pake kecap doang enak, Gel?".
Tepat seperti dugaannya, Kasih pun langsung membrengutkan wajahnya kesal. Tapi tunggu, Gel? Apa maksudnya?
"Gel? Apaan tuh?"
"Bogel" gelak tawa Genta semakin menggelegar ketika menjawab pertanyaan cewek mungil di hadapannya.
Terlebih saat Kasih langsung memasang wajah yang seakan ingin menelannya hidup-hidup, makin keras saja suara tawanya.
"Enggak jelas lu!" sembur Kasih menatap kesal cowok menyebalkan yang masih saja asyik dengan tawanya.
Setelah menerima sostel yang sudah matang, Kasih pun memutuskan untuk langsung beranjak meninggalkan Genta yang masih terbahak-bahak.
Saking inginnya untuk menghindari cowok menyebalkan itu, Kasih yang sibuk memasukkan uang kembalian ke dalam sakunya sambil menyebrangi jalan tanpa melihat kanan-kiri tak menyadari ada motor yang melaju cukup kencang akan melewatinya.
"TINNNNNN..!!!!"
Hingga suara klakson motor yang sangat memekakkan telinga bersamaan dengan suara decitan rem motor mengejutkan semuanya.
Bersyukur posisi Genta yang masih dekat dengan Kasih refleks menarik lengan Kasih hingga tubuh Kasih mundur dan mendarat di tubuh tinggi tegap Genta.
"Elo enggak apa-apa?" tanya Genta khawatir menjauhkan tubuh Kasih dari tubuhnya sambil menyentuh bahu Kasih yang terlihat gemetar.
__ADS_1
"Gu.. gue enggak ap--!"
Genta tak menghiraukan jawaban Kasih lagi ketika si pengendara motor datang menghampiri mereka dengan wajah tak kalah khawatir, begitu pula dengan Rangga yang juga sedang berjalan menuju ke arah kekasihnya.
Dengan wajah emosi Genta langsung merangsek ke arah cowok yang juga mengenakan seragam sekolah mereka itu.
"Ehh anjing elu bisa bawa motor nyantai enggak kalo masih di area sekolah, bangsat!!" geram Genta melayangkan satu pukulan telak ke wajah cowok tersebut.
Semua dibuat terkejut dengan apa yang baru saja Genta lakukan, terlebih Kasih.
Saat Genta masih berusaha merangsek ke arah cowok itu untuk kembali melayangkan pukulannya lagi, dengan gerak cepat Kasih langsung menahan lengan Genta agar tak lagi memukuli cowok malang itu.
"Genta stop, bukan sepenuhnya salah dia juga kali. Gue yang ceroboh tadi. Elu itu demen banget sih bikin keributan!" Gertak Kasih menahan erat lengan Genta.
"Nyadar Lo kalo elo ceroboh hah? Untung ada gue tadi, bayangin kalo tadi enggak ada gue, masih hidup enggak lu? Dasar bodoh!".
Kasih sempat tersentak mendengar hinaan bodoh yang Genta ucapkan, akan tetapi mulutnya seakan terkunci tak bisa membalas umpatan cowok menyebalkan yang wajahnya terlihat begitu khawatir dan kesal secara bersamaan.
Genta langsung menghempaskan tangan Kasih yang masih menahan lengannya erat dengan gerakan yang kasar, tanpa memperdulikan keterkejutan Kasih, Genta langsung meninggalkan Kasih menuju ke mobilnya, dimana Clara yang tengah berdiri memandangnya dengan pandangan lara.
"Bang Genta, sostelnya!" teriak si penjual sostel yang tak digubris sama sekali oleh Genta.
Sedang Kasih langsung menghampiri cowok yang masih terduduk di atas aspal sambil memegang pipinya yang memar akibat pukulan yang dilayangkan oleh Genta.
"Sorry ya elo jadi bonyok gini!" ucap Kasih penuh sesal sambil berusaha membantu cowok tersebut untuk berdiri.
"Gue yang kudunya minta maaf sama elo, mungkin kalo tadi gue enggak ngebut, enggak bakal ada kejadian kayak gini. Elo pasti kaget banget, wajar kalo cowok elo segitu marahnya sama gue!".
Kasih langsung mendelikkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Genta, cowoknya?
"Najis!!" batin Kasih mengumpat.
"Dia bukan cowok gue, temenan aja enggak!" cibir Kasih dengan mimik tidak suka.
"Lah, gue pikir dia cowok elo. Marahnya macem dia cowok elo aja!".
"Lagian emang elo enggak tau kalo Genta itu cowoknya Clara?" tekan Kasih memperjelas.
"Kita tau lah siapa Genta, dia emang jalan sama Clara. Tapi kan doi juga bukan tipe cowok setia!" ejek cowok itu membuat Kasih menganggukan kepalanya setuju.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=