
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Selain itu gue juga mau Clara buat pengakuan di GC sekolah, kalo ini tuh perbuatan dia. Gue mau dia bersihin nama gue!" geram Kasih saat tahu apa yang diinginkannya untuk membalas Clara.
"Cuma itu? Sekalian enggak dia gue suruh minta maaf ke elo langsung?" tawar Genta lagi.
"Enggak usah, enggak perlu. Sekalian aja minta maafnya di GC, gue males tatap muka sama cewek lo!" dengus Kasih.
"Lagian mana mau dia minta maaf ke gue, buat bikin pengakuan di GC aja gue rasa enggak mungkin mau dia. Dia kan salah satu manusia berkepala batu yang hidup di muka bumi ini!" Genta langsung tergelak mendengar cibiran gadis cantik itu untuk pacarnya.
Begitu pula sahabat-sahabat Kasih, mereka langsung tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan Kasih untuk Clara. Beruntung Genta tak tersinggung oleh tingkah mereka semua yang menertawakan pacarnya.
"Elo ngeraguin gue? Gue pastiin entar malem Clara bakal ngelakuin semua yang elo mau di GC dan besok pagi, dia akan minta maaf sama elo secara langsung!" ujar Genta penuh keyakinan.
"Let's see!" sahut Kasih dengan tatapan menantang.
Genta tersenyum simpul mendengar tantangan yang diberikan gadis cantik itu, "tapi gue mau hari ini, elo mau gue anter pulang!" pinta Genta.
Kasih hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya, "sayangnya hari ini gue pulang sama cowok gue!" sahut Kasih menyombongkan dirinya.
"Hari ini Rangga sibuk, nanti juga dia wa elo buat minta maaf enggak bisa nganter elo balik!" Genta langsung beranjak dari duduknya untuk menyudahi obrolannya dengan cewek menggemaskan itu.
"Gue enggak mau, mending pulang sendiri daripada dianter sama elo!" geram Kasih.
"Ya udah, kalo gitu gue enggak bakal ngebantuin elo buat ngebales Clara! Biarin aja GC rame lagi buat ngebully elo!" ancam Genta dengan senyum jahatnya.
"Aishhh, Ckckkk!" Kasih berdecak, mendesahh tak percaya.
***
Benar saja, Kasih langsung membrengut kesal ketika ia mendapatkan pesan wa dari Rangga berisikan permintaan maaf karena tak bisa memenuhi janjinya untuk mengantar Kasih pulang.
"Kenapa sih gue harus tau dari orang lain tiap apa yang mau dia lakuin!" gerutu Kasih kesal.
"Kenapa? Rangga beneran enggak bisa nganter pulang?" tanya Evelyn yang menangkap kegelisahan sahabatnya.
Kasih pun mengangguk dengan wajah murung.
"Mau dianter salah satu dari kita?" tawar Evelyn lagi.
Kali ini Kasih menggelangkan kepalanya, ia terlalu sungkan untuk merepotkan sahabat-sahabatnya karena tujuan pulang mereka tak ada yang searah dengan dirinya.
Apalagi Rania yang selalu punya les-les setiap pulang sekolah, tak mungkin ia tega merepotkannya.
"Terus elo pulang gimana?" pertanyaan penuh kekhawatiran terlontar dari mulut Axel kali ini.
"Nanti gue coba telpon Mas Dewa buat suruh jemput, kalo dia enggak bisa yaa terpaksa gue naik ojol!" jawab Kasih, ia pun mulai merapikan perlengkapan belajarnya yang masih berantakan di atas mejanya.
***
Kasih kembali mengerucutkan bibirnya, saat Dewa mengatakan tak bisa menjemputnya juga kali ini. Dia pun langsung membuka aplikasi ojek online untuk memesan ojek agar mengantarkannya ke rumah.
__ADS_1
Saat ini ia hanya seorang diri duduk di halte depan sekolahnya untuk menunggu ojek pesanannya datang, sedang ketiga sahabatnya sudah pulang atau pergi ke tujuan mereka masing-masing.
Hal yang menyebalkan setiap ia harus pulang ke rumahnya dengan ojek online adalah ia harus berkali-kali di tolak oleh driver nya. Karena memang arah pulang ke rumah Budenya adalah titik rawan macet, apalagi siang menjelang sore hari ini, tumpukan kendaraan ke arah rumah Budenya begitu membuat pening.
Berbeda jika Dewa datang menjemput, Kakak sepupunya itu banyak tahu jalan tikus menuju rumah mereka.
Setelah tiga kali ditolak, Kasih bisa bernafas lega saat seorang driver tetap mau mengambil dirinya sebagai penumpang. Ia pun duduk manis di halte dan berjanji akan melibihi ongkosnya dari yang harus dibayarkannya.
Setelah menuggu hampir sepuluh menit, ojek pesanannya pun datang dan berhenti tepat di depannya.
"Kak Kasih ya?" tanya sang driver ramah.
"Iya Pak!" jawab Kasih tak kalah ramah.
"Maaf ya kalo lama nunggunya. Silahkan Kak!" ucap si driver sambil menyodorkan helm untuk dikenakan oleh Kasih.
Kasih menerima helm tersebut sambil meringis, ia yang selalu kesusahan memasang pengikat helm yang berada di bawah dagu mau tak mau sering meminta tolong dipasangkan, begitu pula kali ini, "maaf Pak bisa tolong bantu saya pasangkan pengikat helmnya, saya agak kesulitan?" pinta Kasih malu-malu.
"Bisa Kak, bisa. Sini saya bantu!" sahut Driver tersebut dan dengan cekatan memasangkan pengikat helm Kasih.
"Sip,udah siap Kak?".
"Makasih ya Pak, maaf merepotkan!".
"Enggak apa-apa kok Kak. Ayo Kak jalan, makin sore makin macet daerah sana!" ajak sang driver yang langsung diangguki oleh Kasih.
Kasih pun dengan hati-hati langsung naik ke atas motor, namun saat dirinya belum duduk sempurna di atas jok motor. Suara nyaring klakson sebuah mobil mewah mengejutkan dirinya dan driver ojolnya.
Kasih yang tahu siapa pemilik mobil mewah tersebut pun terkejut, ia pun kembali turun dari atas motor saat Genta keluar dari mobil dan menghampiri dirinya.
"Kenapa?" tanya Kasih saat Genta sudah berada di depannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Kasih, Genta justru menarik kasar tangan mungil gadis itu untuk mengikuti langkahnya.
"Ehh, tunggu, tunggu! Elo apa-apaan sih hah?" dengan susah payah Kasih mengehentikan langkahnya yang diseret paksa oleh Genta, setelah berhasil berhenti, dengan gerakan kasar Kasih langsung menghempaskan tangan cowok kasar itu dari telapak tangan mungilnya.
"Kan gue udah bilang, pulang sekolah gue anterin elo balik. Kenapa sekarang malah mau naik ojol?" geram Genta.
Dengan kesal, Kasih pun menyalak ucapan Genta, "emang gue setuju elo anterin pulang? Enggak kan?".
"Gue enggak perlu persetujuan elo!" ketus Genta seenaknya.
"Jangan seenaknya aja lo ya! Gue enggak mau pokoknya!" gertak Kasih.
"Gue enggak peduli! Suka enggak suka, mau enggak mau, gue anterin elo pulang!" paksa Genta tak mau kalah.
"Atau elo lebih milih gue bikin gaduh lagi di GC sekolah. Gue bakal menyatakan cinta ke elo di GC!" ancam Genta diselingi senyum jahat khas cowok menyebalkan itu.
Kasih pun langsung membolakan matanya, ia tahu senekat apa cowok rese di depannya.
"Elo tau kan, gue enggak pernah main-main sama omongan gue!" lanjut Genta masih dengan intonasi suara yang menyebalkan, bahkan berkali-kali lipat menyebalkan di telinga Kasih saat ini.
"Ngeselin tau enggak Lo!" rengek Kasih kalah telak.
"Bodo amat!" cibir Genta penuh kemenangan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!"
Kasih yang hendak mengahampir sang driver untuk meminta tolong dilepaskan pengikat helmnya, juga untuk memberikan ongkos ojeknya langsung dicekal oleh Genta.
"Mau kemana?"
"Ishh! Gue mau minta tolong lepasin helm nya sama bapak ojek, gue enggak bisa ngelepasin sendiri. Sekalian gue mau ngasih ongkosnya juga!" jawab Kasih kesal.
Dengan gerakan cepat, Genta langsung membantu Kasih untuk melepaskan helm yang dipakainya, "ngapain sih elo tetep ngasih ongkos ke ojol itu, kan elo enggak jadi dianter dia?"
"Ehh, gue enggak biasa ya nyia-nyia in tenaga orang. Elo tau enggak, Bapak itu ojek ke empat yang gue pesen akhirnya mau ambil gue, udah tiga kali gue ditolak. Mungkin aja gue ini pelanggan pertamanya, sampe-sampe dia mau ambil gue yang arah jalannya tuh biang kemacetan!" salak Kasih kesal.
"Dan sekarang gue harus ngebatalinnya cuma karena gue harus ikut elo, kayak apa perasaan Bapak ojek itu coba. Udah seneng dapet orderan ehh malah dibatalin penumpangnya. Gue enggak sejahat itu!"
Genta langsung terkesima dengan pemikiran cewek ketus itu, dengan tanpa mau berargumen lagi, Genta memilih untuk mengembalikan helm pada si tukang ojek.
"Biar gue aja yang balikin!"
"Ehh, ini--!" Kasih menyodorkan uang lima puluh ribu untuk tetap diberikan pada sang driver, "tolong kasihin Bapak itu dan sampein maaf gue!"
Namun, tanpa diduga sama sekali, Genta tak mengambil uangnya dan tetap berjalan menghampiri si tukang ojek yang posisinya beberapa meter di depan mereka.
Kasih kembali membelalakan matanya, saat dia melihat Genta memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada tukang ojek tersebut.
Sempat menolak, akhirnya si tukang ojek menerima uang yang diberikan Genta sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Yang lebih mengejutkan lagi, si Bapak menengok ke arah Kasih dengan wajah bahagia, "Kak Kasih, makasih ya. Beruntung lho Kakak dapet pacar udah ganteng, baik lagi kayak Mas nya. Semoga langgeng ya Kakak sama Masnya!" ucap Bapak ojek berbinar.
"Aamiin, makasih Pak doanya!" sahut Genta mati-matian menahan gelak tawanya, ia tahu betul gadis cantik di hadapannya tengah memendam kedongkolan di hatinya.
Buuggghhh ..
Benar saja, saat si ojek pergi dari hadapan mereka. Kasih langsung menghadiahi Genta pukulan yang amat keras di lengannya.
"Najis tau enggak gue pacaran sama cowok cabul, tukang maksa dan nyebelin kayak elo!" cibir Kasih penuh kekesalan yang hanya disahuti gelak tawa oleh Genta.
"Gue malah seneng didoain gitu sama si Bapak ojek! Lagian kenapa sih elo enggak mau sama gue? Gue ganteng, kaya, populer. Apa lagi yang kurang, coba?" Genta mode narsis.
Kasih berdecih semakin kesal dengan kenarsisan Genta.
"Otak Lo yang kurang, terlalu gesrek!" ejek Kasih dan lagi hanya disahuti gelak tawa oleh Genta.
Menyebalkan memang cowok satu ini.
Jengah dengan kelakuan cowok random di hadapannya Kasih langsung ngeloyor pergi mendekati mobil mewah milik cowok yang masih aja asyik tergelak.
"Ishh, elo masih mau terus-terusan cekikikan di sana? Jadi nganterin gue enggak sih, hah?" salak Kasih.
Genta pun langsung berlari kecil menghampiri Kasih.
"Ayo masuk!" ajak Genta yang lebih dahulu masuk ke dalam mobilnya, dan langsung duduk manis di belakang kemudinya.
"Aaargggggg, elo mau ngapain hah? Awas aja Lo macem-macem!" pekik Kasih dengan suara menggelegar saat Genta mendekati dirinya yang baru saja duduk, bahkan Kasih langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, takut-takut jika Genta berbuat tak senonoh dengannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1