
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Ngapain lo di sini?" Salak Genta saat sudah saling berhadapan.
"Bukan urusan elo..!" Geram Kasih tak kalah ketus.
"Oohh jangan-jangan elo nyari nafkah di sini ya, kerja part time di sini biar bisa nongkrong di tempat-tempat bonafit?" ledek Genta dengan senyum merendahkan.
"Kalo iya kenapa, kalo enggak kenapa? Sibuk amat sih lo ngurusin urusan orang lain?" Decak Kasih.
"Berapa gajinya di sini?" Genta begitu senang bertemu Kasih seakan telah menemukan hiburannya sendiri dengan menjahilinya.
"Kepo lo!! Lo sendiri ngapain di sini?" Tanya Kasih ketus.
"Mau lunch lah, masa mau benerin mobil. Gak ngotak lo beneran!" Jawab Genta mengesalkan.
"Ketelen emang lo makan di sini?" Sindir Kasih.
"Tadinya mah yakin ketelen, tapi pas tau lo kerja di sini agak ragu gue!" Ledek Genta membuat Kasih berdecak kesal.
"Lo mau nanya toilet kan? Noh toilet buat pelanggan kedai ini!" Tunjuk Kasih yang enggan menimpali kejahilan Kakak kelasnya tersebut.
"Anterin gue dong, tungguin di depan pintunya gue takut ada yang ngintip. Tapi kalo lo yang mau ngintip mah gak apa-apa, kalo perlu gak usah ngintip langsung aja masuk ke dalem bareng gue!" Ledek Genta memasang wajah mesumnya.
"Idiihhh najis, jangan gila lo ya!" Kasih benar-benar dibuat kesal, ia pun memilih langsung meninggalkan Genta untuk kembali membantu Ranti di kedai.
__ADS_1
Sedang Genta langsung terpingkal-pingkal mendengar umpatan cewek berisik itu, untuk kemudian pergi menuju toilet yang ditunjuk oleh Kasih tadi.
Sesampainya di kedai, Ranti langsung meminta Kasih menyambut tamu penting yang dimaksud Dewa tadi, karena bersamaan dengan kedatangan tamu penting tersebut, Ranti juga kedatangan truk pembawa bahan pokok yang sering memasok bahan-bahan makanan kebutuhan kedainya.
"Aku gugup Bude kalo sendirian, apalagi ini pelanggan penting. Kasih takut mengecewakan!" Ucap Kasih mencoba menolak perintah Ranti secara halus.
"Kamu harus belajar Sayang, harus percaya diri. Mas Dewa harus bantu Bude soalnya ada beberapa barang yang harus Bude retur ke pemasok, kamu kan enggak ngerti prosesnya. Mau ya, palingan mereka cuma nanya beberapa menu aja. Sama kayak pelanggan lain aja!" Sahut Ranti merayu agar Kasih percaya diri.
"Iya deh kalo gitu, Kasih ke sana!" Meskipun menyetujui namun guratan kekhawatiran tetap tergambar dari wajah cantiknya.
"Gak apa-apa Sayang mereka orang-orang baik kok, jangan khawatir!" Sekali lagi Ranti mencoba mengikis kekhawatiran keponakannnya itu.
Setelah sedikit merapikan diri dan dengan membawa buku catatan pesanan dan pena, Kasih menuju ke ruangan yang ditempati tamu penting kedai mereka.
"Permisi, selamat siang!" Sapa Kasih tersenyum ramah yang langsung disahuti oleh para tamu yang benar-benar terlihat bahwa mereka bukan orang sembarangan.
"Kamu masih muda sekali Nak?" Ucap seorang Ibu berwajah sangat cantik dan anggun menyapa Kasih.
"Cantik sekali kamu, nama kamu siapa?" Tanya wanita itu lagi membuat Kasih tersipu malu mendengar pujian untuknya.
"Terima kasih, nama saya Kasih Nyonya!" Jawab Kasih sopan.
"Nama yang cantik, secantik orangnya!" Pujian kali ini datang dari seorang pria berkharisma yang kemungkinan adalah suami wanita tadi.
"Terima kasih, Tuan!" Sahut Kasih.
Kasih sempat menatap lekat-lekat tiap anggota keluarga yang ada dihadapannya tersebut yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak yang sudah dewasa, hatinya sempat terasa nyeri dimana ia melihat sebuah keluarga bahagia sedang menghabiskan waktu bersama.
Sedang ia, masih semuda ini harus sudah hidup tanpa orang tua. Ahh andai saja Ayah Bunda masih ada, betapa bahagianya bisa menghabiskan waktu bersama seperti keluarga dihadapannya ini.
__ADS_1
"Mom-Dad, aku gak ngerti makanan Jogja itu, belum pernah sama sekali takut gak cocok sama lidah aku, aku pergi makan sama temen aku aja ya!" Hingga suara berat yang teramat dikenalnya membuyarkan lamunannya, ia pun menengok ke belakang memastikan ketakutannya.
"Elo?" Pekik Kasih dengan suara keras yang langsung membuat terkejut seisi ruangan.
"Ehh maaf..!" Menyadari kesalahannya, Kasih langsung tertunduk malu, sedang Genta seperti mendapat jackpot melihat Kasih melayani keluarganya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Andhira menatap keduanya bergantian.
"Salah satu secret admier ku di sekolah Mom!" Jawab Genta yang langsung dicibir oleh Kasih seperti kebiasaannya.
"Idihhhh, Naj__!" Kasih langsung menutup mulutnya agar tak melanjutkan cibirannya pada Genta yang saat ini mendudukan dirinya di sebelah sang Mommy, teringat jika saat ini Genta adalah tamu kedainya juga ada keluarga Genta yang begitu berwibawa.
"Kamu itu over confident banget jadi cowok, Mommy rasa justru mungkin kamu yang diam-diam mengagumi gadis cantik ini!" Sahut Andhira menatap penuh kagum ke arah Kasih.
"Dihhh, ogah banget. Dia itu bukan tipe aku, emang sih wajahnya cantik tapi lihat dong Mom body nya kayak anak kecil gitu. Pendek dan kurang berisi!" Cibir Genta yang langsung dihadiahi jeweran oleh Andhira.
"Kamu gak boleh gitu Genta sama perempuan, lagian apa salahnya sama postur pendek Kasih malah bikin awet muda tau! Kakak kasih tau ya, sekarang ini yang lebih penting adalah cewek berhati cantik, buat apa body nya bagus kalo hatinya enggak. Nah kalo Kasih nih, Kakak bilang dia itu udah paket komplit tau enggak!" Kini pembelaan keluar dari mulut Adhisti, Kakak perempuan Dewa.
"Lagian nih Ta, kalo gue seumuran elo. Yakin banget deh gue bakal jatuh cinta sama Kasih, lihat dong selain cantik dia enggak malu bantu-bantu kedai keluarga. Padahal di luar sana banyak anak seumuran dia asyik ngemol, nyalon, nongkrong-nongkrong!" Arsya tak mau kalah memuji Kasih, membuat Kasih tersenyum penuh kemenangan.
Dalam hati sebenarnya Genta tak memungkiri ucapan keluarganya tentang Kasih, tetapi entah mengapa ia lebih memilih terlihat tak setuju dengan pendapat keluarganya tentang cewek berisik di depannya ini.
"Tetep aja buat gue mah, body nomor 1. Udah sih malah pada ngabahas dia, aku udah laper banget!" Decak Genta pura-pura sebal.
Mereka pun kini sibuk memilih-milih menu, juga sesekali meminta Kasih menjelaskan menu yang agak asing ditelinga mereka dan dengan sabar dan ramah Kasih pun menjelaskannya.
Setelah memilih menu yang diinginkan dan sudah dicatat oleh Kasih, Kasih yang hendak permisi untuk menyiapkan hidangan dipanggil oleh Genta, ia tahu sekali cowok rese itu hanya ingin mengerjainya.
"Gue es teh manis ya jangan lupa, jangan terlalu manis tapi juga jangan kerasa hambar. Harus berasa manisnya tapi enggak sampe bikin eneg ya. Es nya juga taro digelas terpisah jangan digabung ke air tehnya!" Sungguh saat ini rasanya Kasih ingin menyumpal mulut Genta dengan tisu makan yang berada di atas meja.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=