
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Kasih dan Rangga mendengar keributan saat mereka melewati ruang tamu usai mereka kembali setelah menikmati mie ayam mereka. Mereka juga membawa beberapa bungkus untuk diberikan kepada Ranti, Dewa, dan karyawan yang bekerja di kedai Ranti.
"Udah Ibu peringatkan kamu Wa, gak perlu kamu sampe bikin keributan di sekolah Kasih apalagi bikin ribut sama Nak Genta!" suara Ranti begitu menggelegar penuh amarah.
"Aku enggak terima Bu, Kasih diperlakukan enggak senonoh sama cowok brengsek itu..!" jawab Dewa dengan nada rendah tapi siapa pun tetap bisa menangkap kemarahan di nada suaranya.
"Ibu ngerti Nak, Ibu ngerti. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya bikin babak belur anak orang, apalagi anak itu punya kuasa di sekolah Kasih. Ibu justru takut kalo akibat ulah kamu, Genta makin menjadi-jadi gangguin Kasihnya!" terdengar suara Ranti begitu sedih bercampur marah dan kecewa.
"Bude..!" sapa Kasih membuat keduanya langsung menghentikan perdebatan mereka, terlebih saat melihat keberadaan Rangga.
"Udah pulang Sayang, maaf ya Bude ternyata enggak berhasil nyuruh Mas Dewa kamu buat enggak macem-macem di sekolahan kamu!".
Kasih hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Budenya, karena ia sendiri pun mengerti karakter Kakak sepupunya itu seperti apa-apa.
"Udah Bude, enggak usah dibahas lagi. Aku enggak apa-apa, lagian Mas Dewa sampe kelepasan gitu juga pasti karena sayang banget sama aku. Iya kan Mas Dewa?" ucap Kasih mencoba mencairkan suasana.
"Ayo makan mie ayam favorit kita semua, tadi aku sama Kak Rangga mampir ke sana. Bawa sekalian buat Bude dan Mas Dewa!" Kasih menyodorkan Plastik berisi mie ayam kesukaan mereka.
"Tadi Kak Rangga juga bawain buat semua pegawai di sini. Baik ya pacar aku?!" Kasih mengerlingkan matanya ke arah Rangga yang tengah mengulum senyuman untuknya.
***
Malamnya usai mengerjakan PR dan bertelfonan dengan Rangga, Kasih yang bersiap untuk tidur dikejutkan oleh kedatangan Dewa ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Melihat sang Kakak seperti ingin membicarakan sesuatu, Kasih langsung duduk di atas ranjangnya, melambaikan tangannya untuk meminta sang Kakak duduk di dekatnya.
"Genta bikin masalah lagi enggak?" tanya Dewa tanpa tendeng aling-aling.
Kasih hanya menggelengkan kepalanya, tak mungkin ia akan menceritakan kejadian menyakitkan yang dialaminya tadi.
"Maaf kalo gue enggak bisa ngontrol emosi gue!" Dewa terlihat begitu menyesali tindakannya.
"Kenapa harus minta maaf? Aku tau kok Mas Dewa begitu karena Mas Dewa sayang sama aku, pengen ngelindungin dan ngejagain aku. Kasih malah mau ngucapin makasih banyak Mas Dewa udah begitu tulus sayang sama aku, ngelakuin semuanya demi untuk melindungi aku. Makasih ya Mas Dewa!" Kasih langsung memeluk tubuh Dewa, ia pun langsung menumpahkan air matanya di dada bidang sang Kakak.
Entah tangisan itu karena Kasih yang terharu dengan sikap melindungi Dewa atau air mata penyesalan karena ia menyembunyikan kejadian menyakitkan yang dilakukan oleh Genta di ruang UKS tadi pagi.
"Elo kenapa nangis?" tanya Dewa tetap membelai lembut punggung Kasih yang tengah terisak.
"Aku bersyukur banget punya Kakak sepupu kayak Mas Dewa, aku janji enggak akan pernah ngecewain Mas Dewa. Aku janji enggak akan ngebiarin orang lain nyakitin aku lagi supaya Mas Dewa enggak perlu lagi mukulin orang lain!" jawab Kasih terisak.
Dewa hanya tersenyum mendengar celoteh adik sepupunya, karena di dalam hatinya sampai kapan pun ia akan melindungi adik kesayangannya itu.
***
Dia hanya terus berdoa agar seharian ini saja untuk tak bertemu dengan Genta, ia masih trauma dengan apa yang telah dilakukan oleh Genta.
Bahkan semalam Kasih tak menanggapi sama sekali beberapa telepon dan pesan yang dikirimkan oleh Genta, dan ia yakin jika ulahnya semalam akan membuat Genta mencarinya.
Dengan langkah malas dan diiringi doa agar hari ini Tuhan tak mempertemukannya dengan cowok berandal itu, Kasih mulai memasuki gedung sekolahnya.
Tapi sepertinya lagi-lagi Tuhan enggan untuk mengabulkan doanya, karena ketika ia sampai di lorong yang agak sepi menuju ke kelasnya, seseorang menarik tangannya dengan kasar dan mendorongnya ke dinding.
"Elo ngehindarin gue?" Genta langsung mengunci tubuh Kasih dengan meletakan kedua tangannya di sisi kanan kiri tubuh Kasih.
__ADS_1
"Mau apa lagi Genta? Kita udah enggak ada urusan lagi" meskipun mencoba terlihat berani, akan tetapi Kasih begitu ketakutan saat ini.
Dia takut jika Genta lagi-lagi melecehkannya, karena ia tau sebrandal apa cowok yang berada di hadapannya saat ini.
"Gue enggak suka elo ngehindarin gue begini!" tegas Genta dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukannya perjanjian kemarin pagi begini? Setelah gue berciuman sama elo, kita udah enggak saling kenal lagi" Kasih mengingatkan.
"Dan gue enggak langsung ngiyainnya kan? Gue cuma janji bakal ngerahasiain perbuatan kita di UKS kemarin!" Genta pun tak mau kalah untuk mengingatkan Kasih.
Genta bisa menangkap gestur gelisah adis cantik di hadapannya tersebut, dan itu membuatnya tersenyum puas melihat Kasih seakan di bawah kendalinya.
"Terus mau elo apa sekarang?" tanya Kasih memberanikan diri membalas tatapan Genta.
"Gue enggak suka dihindari, bisa elo bersikap biasa aja sama gue?" pinta Genta menatap lekat wajah cantik Kasih.
Kasih hanya terus membalas tatapan Genta, sedang otaknya tengah berpikir bisa-bisanya Genta memintanya bersikap biasa saja setelah apa yang telah mereka perbuat kemarin.
Kasih menghela nafasnya dalam-dalam, mencoba membuang amarahnya pada cowo brengsek di hadapannya. Ia ingin berdamai, merasa lelah terus menerus berurusan dengan cowok tampan ini.
"Oke kalo elo maunya begitu, gue enggak masalah. Tapi dengan satu syarat, tolong berhenti ngelecehin gue!" tegas Kasih menatap tajam Genta.
"Mungkin menurut elo gue cuma cewek miskin, enggak perlu dihargai dan juga mungkin buat elo gue sama begonya kayak cewek-cewek yang bertekuk lutut di hadapan elo--!" Kasih menjeda kalimatnya untuk meredam emosinya.
"Gue emang miskin Genta, tapi gue punya harga diri. Gue sakit setiap elo ngelecehin gue, gue cuma pengen tenang belajar di sekolahan ini. Gue enggak tau salah gue sama elo apa sampe-sampe elo terus gangguin gue. Gue--!".
"Gue suka sama elo..!" Genta menyelak ucapan Kasih dengan pernyataan yang mengejutkan.
Kasih langsung membolakan matanya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
Sayangnya, Genta saat ini sedang memejamkan matanya sambil menundukkan kepala, hingga Kasih tak bisa melihat kesungguhan dari ucapan yang baru saja Genta lontarkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=