Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Hasil Dekorasi Vara


__ADS_3

Begitu sampai di kamar utama, yang kata Vara adalah kamarku dan Adrian. Lelaki itu langsung masuk begitu saja ke dalam kamar mandi tanpa merasa sungkan atau canggung pada Vara.


"Maaf ya, Var. Mas Adrian nyelonong gitu aja ke kamar mandi, padahal kamu masih disini, " ucapku merasa tak enak pada Vara, dan meminta maaf atas nama Adrian.


Vara mengibaskan tangannya, "biasa aja lagi, Vit. Dia emang orangnya gitu, gue udah biasa ngadepin dia begitu, " Vara langsung menutup mulutnya dan melipat bibirnya seperti orang yang baru saja keceplosan.


"Eh, maksud aku itu, kita kan sepupuan, dan kita juga akrab, jadi udah biasa tau kalau sikapnya kayak gitu. Gitu maksudnya, " ucap Vara menjelaskan dengan nada bicara yang kamu seperti sedang berbohong.


"Oh gitu, " aku mengangguk-angguk.


"Terus, soal rumah ini, kamu juga udah biasa kesini? " Vara sedikit terkejut mendengar pertanyaan dariku.


"Bukan biasa lagi, Vit. Aku tinggal disini, "


"Itu, oh iya. Rumah ini dulu aku yang cariin pas sebelum Adrian married, jadi aku tau seluk beluknya, " kecurigaan ku semakin besar saja terhadap Vara.


"Bukannya waktu itu dia bilang kalau dia baru aja pulang dari luar negeri, kenapa sekarang bilang kalau dia yang nyariin rumah ini buat Adrian? " heran ku dalam hati.


"Yaudah, kita ngobrol-ngobrol dimana gitu yuk, yang seger udaranya, dan asyik view nya, " ajakku seraya berjalan keluar kamar terlebih dulu.


Kenapa butuh waktu untuk Vara menyusulku keluar? Apa yang dilakukannya di dalam?

__ADS_1


Aku berbalik untuk mengecek kembali ke kamar, tapi Vara sudah muncul dengan tergesa-gesa dan dengan nafas yang memburu, ia juga mengusap bibirnya yang terlihat basah.


"Kita ke taman samping aja, yuk! Disana ada kolam ikan dan air mancur, kalau di belakang rumah itu kolam renang, " tangannya menunjuk bagian belakang rumah yang tertutup tembok, sepertinya itu dapur.


Vara sudah seperti tour guide bagiku. Ia menunjukkan dan menjelaskan seluruh isi dalam rumah ini, mulai dari ruang tamu berukuran berapa dan berisi apa saja, lalu ruang keluarga, ruang olahraga, ruang musik, rumah ini memiliki berapa kamar, dan ada apa saja juga siapa saja yang tinggal di dalamnya selama ini.


"Depan itu ruang tamu, dengan hiasan guci-guci aja di setiap sudut, soalnya Adrian nggak terlalu suka lukisan, " jelas Vara padaku.


"Kalau di ruang keluarga, cuma ada tivi dan beberapa koleksi penghargaan milik Adrian, sama foto-foto keluarga, " aku mendengarkan setiap perkataan Vara dengan seksama.


"Terus, dilantai atas itu selain kamar utama, ada juga ruangan olahraga, buat nge gym, olahraga, yoga dan lain-lain. Terus ada ruang musik, tapi komplit ada semacam home teaternya juga, jadi bisa nonton-nonton disana," Vara terus berceloteh menjelaskan semuanya tanpa aku minta sambil kita berjalan ke taman samping rumah.


"Nggak kok, aku suka banget. Makasih ya Vara, kamu udah baik nyariin rumah seindah ini buat kami, " aku meraih tangannya, terasa dingin di cuaca yang lumayan terik.


Ia menarik tangannya pelan, "iya, Vit. Sama-sama, kamu nggak usah sungkan sama aku, kita kan sodara, "


"Kamu baik banget sih, Vara, " aku memeluknya, ia menegang, dan dengan ragu membalas pelukanku.


Saat memeluknya, aku seperti melihat tulisan pada salah satu pot bunga yang disusun di rak besi.


"I love you, Vara. Kalimat itu lagi? "

__ADS_1


Deg.


Kembali jantungku serasa tertimpa batu yang amat besar, sesak.


"Kok aku ngerasanya kayak kamu ya yang tinggal disini?" tanyaku dengan ragu, takut dia tersinggung.


Vara tertawa yang tampak dibuat-buat, "ya kan aku yang nyariin rumahnya dan mendekorasi isinya, jadi tentu aja aku tau ada apa saja dan siapa saja disini, "


"Kamu ini gimana sih, Vit. Kan tadi aku udah bilang, "


"Oh, iya juga ya. Maaf, aku lupa, " jawabku nyengir kuda.


Tapi tetap saja aku merasa ada yang dia sembunyikan, gelagatnya saja sangat mencurigakan. Belum lagi perkataan nya yang berubah-ubah, semakin menambah kecurigaanku saja.


Hingga malam menyapa, Vara belum juga pergi dari rumah ini, yang kata Adrian adalah rumah kami. Selesai makan malam, aku kira ia akan pamit agar kami bisa beristirahat. Bahkan aku tidak jadi pergi ke butik karena harus mendengarkan semua penjelasannya tentang rumah ini. Juga semua ceritanya saat ia menggarap rumah ini dulunya.


Sampai hujan deras mengguyur, dan Adrian menawarinya untuk menginap. Serius?


Aku menghargai kebaikan Adrian untuk menawari sepupunya itu menginap disini. Lagipula masih ada pembantu dan tukang kebun juga disini, jadi bukan hanya Vara yang menginap di rumah ini selain kami.


Beraambung...

__ADS_1


__ADS_2