Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Buka Pintunya!


__ADS_3

Vero langsung mengubungi Diva begitu sambungan telepon nya dengan dokter Valdi terputus. Siapa lagi yang bisa ia hubungin jika bukan sahabat dari kakaknya itu, karena hanya mereka saja yang selama ini mengetahui permasalahan yang terjadi dalam kehidupan Kavita.


"Ada apa, Ver? Pagi-pagi udah nelpon gue aja lo. Kangen lo ama gue? " cerocos Nadiva begitu ia mengangkat telpon dari Vero.


Vero memutar bola matanya, "jadi cewek nggak usah ke-pedean banget kenapa sih?! Gue mau kasih tau masalah urgent ama lo, awas loncat dari tempat! " ucap lelaki itu memperingatkan.


"Apanya?" tanya Diva iseng.


"Elo nya lah... " sahut Vero.


"Masalah urgent apaan? Lo kek gak seneng deh liat idup gue tenang bentaran aja, " ucap Diva dengan tangan yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, sedangkan ponselnya ia letakkan dalam keadaan loudspeaker.


Vero mendengus, "yaudah sih klo gak mau dikasih tau, bye... " ucapnya yang sudah langsung akan mematikan dnabungab telponnya itu.


"E e eh ... ni bocah ambegan an banget dah, apaan dulu urgent nya?" seru Diva mencegah. Ss sebenarnya sejak tadi dia juga hanya bercanda, karena memang belum tau ada masalah genting apa yang tengah Vero hadapai pagi ini.


"Adrian saat ini ada di rumah sakit yang ditempatin sama Kak Vita, " ucap Ka Vero dengan cepat dan tegas.


Sontak saja hal berita tersebut membuat Nadiva kaget bukan kepalang hingga tanpa sadar ia berteriak, "apa?!"


Vero menjauhkan ponselnya dari telinga karena tak ingin indera pendengaran nya menjadi rusak gara-gara mendengar suara dengan volume di luar batas normal tersebut.


"Nah ... beneran lompat 'kan lo! Kalo belum tau aja masih becanda mulu, giliran tau. Terbang... terbang deh lo! " kesal Vero.


"Sorry, Ver. Gue nggak tau kalo beneran maslah urgent kek gini. Gue pikir lo lagi prank gue lagi tadi, " ujar Diva setengah merasa bersalah.


Vero membuang nafas kasar, ia pun menyadari jika selama ini juga banyak keliru karena sking banyaknya bercanda danain prank-prank dengan wanita itu, hingga bisa menjadi seperti saat ini.

__ADS_1


"Iya, gue juga yang salah kalo selama ini emang udah suka nge-prabk elo, " aku Vero pula.


"Yaudah, sekarang jemput gue, cepet! Kita langsung kesana dan berantas hama itu bersama-sama, " ajak Diva dengan semangat membara.


Tak ada sedikitpun rasa takut di hatinya akan menghadapi Adrian yang mempunyai banyak sekali pengawal itu. Entahlah, apa itu benar-benar suatu keberanian atau hanya mencoba untuk memberanikan diri saja. Yang terpenting ada semangat disana untuk berusaha membantu sahabat tercinta.


"Oke, gue cabut sekarang juga ke tempat lo. Se kalian nanti kita bahas rencana apa yang bakal kita lakuin disana. Kalo bisa tanpa ketemu manusia itu kita bisa menyingkirkannya, itu akan lebih bagus. Karena jujur aja, gue masih belum sudi buat ngeliat wajah tuh orang, " ujar Vero dengan pandangan mata menerawang.


"Iya, gue juga sih, " ucap Nadiva setuju.


Mereka saja yang tak mengalami hal kejam itu secara langsung bisa merasakan sakit hati yang teramat dalam kepada Adrian seperti saat ini, lalu bagaimana dengan Kavita yang mengalami hal itu secara langsung? Pastilah rasa sakit dan trauma itu tidak akan mudah untuk dihilangkan begitu saja dari dalam hati serta fikirannya.


"Yaudah, gue jalan. Lo siap-siap, ntar gue sampe disana lo udah harus standby di depan gerbang rumah, " pesan Vero sebelum matikan telpon tersebut.


"Iya, " tanpa berpamitan lagi, Vero sudah langsung mematikan sambungan telepon itu dan mengantongi ponselnya ke dalam saku celana yang dikenakannya.


Lelaki itu menghela nafas dalam sebelum beranjak dari tempat.


Kemudian ia segera menyambar jaket serta ranselnya dan berjalan menuju ke garasi dimana mobilnya berada.


Tak berapa lama Kaveri sudah sampai di rumah Nadiva, dan benar saja sesuai dengan pesannya tadi, gadis itu sudah menunggunya di depan gerbang rumah meski harus menutup wahh dengan tas nya karena hari sudah menjelang siang dan cuaca panas sudah menerpa.


"Apa rencana lo? " tanya Diva begitu mereka berdua sudah sama-sama ada di dalam mobil.


"Kita harus nyamar biar nggak ketahuan sama itu orang, " jawab Vero.


"Nyamar? Kenapa gitu? "

__ADS_1


"Karena pertama kita nggak punya persiapan apa-apa selain sebuah samaran ini. Kedua gue bener-bener nggak mau jadi emosi gara-gara harus berhadapan langsung sama si breng-sek itu, " terang Vero berucap.


Nadiva mengangguk-anggukkan kepalanya, "bener juga kata lo. Yaudah sih, gue ikut aja rencana lo. Semoga semuanya bisa berjalan sesuai rencana dan cowok gila itu nggak akan pernah ketemu sama yang namanya Kavita Saputri Indrawan, "


"Hm, bener banget. Nggak sudi gue, " sahut Vero.


"Apalagi gue, " ekspresi Diva sudah seperti orang yang habis memegang kotornya cicak saja, bergidik geli tak karuan.


Kedua orang itu sudah mulai fokus dngan rencana dan apa yang akan mereka lakukan disana nanti. Nadiva yang langsung mempersiapkan dirinya sedemikian rupa, sedangkan Vero dibantu dengan gadis itu turut bersiap pula.


Setelah selesai, tertawalah Nadiva melihat penampilan mereka yang kini menjadi orang asing pada diri sendiri.


"Semoga aja dengan kayak gini, tuh orang nggak bakalan kenal sama kita. Jadi kita bisa degan leluasa menjalankan rencana kita nantinya," ucap Kavero dan diangguki oleh Nadiva.


Kedua orang itu sudah siap dan turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit melalui pintu darurat yang sudah diberitahukan oleh Valdi kepada Ver tadi.


"Lets go! Bersatu kita teguh, bercerai kita ... cari ganti! " keduanya menganggukkan kepala, dan berjalan mengendap seklah kata-kata yang sedang mengintai.


Hedeh... semboyan macam apa itu?


Mereka berdua bisa dengan mudahnya sampai di ruangan dokter Valdi tanpa adanya suatu halangan yang berarti. Mereka menghela nafas lega begitu sampai di dalam sana. Tak terkecuali Kavita yang merasakan senang mendapatkan kejutan dari adik semata wayang dan juga sahabatnya itu di lagi hari menjelang siang yang cerah itu.


Kavita yang memang tak diberitahukan apapun oleh Valdi tentang masalah yang tengah di hadapi, tentu saja tak tau menahu jika ketiga orang itu sedang tegang.


Pintu ruangan Valdi di ketuk oleh seseorang dan membuat ke empat orang itu saling melempar pandang.


"Buka pintunya kalau tidak akan kami dobrak! " sebuah suara berseru dari luar sana menginterupsi keempat orang di dalamnya.

__ADS_1


🔥🔥🔥


Nah loh... ketauan ama siapa tuh!


__ADS_2