
Aku terbangun di tengah malam karena merasa ingin buang air kecil, tapi Adrian tidak ada di sampingku.
"Kemana dia, apa di kamar mandi? " gumamku sambil menyibak selimut.
Di luar hujan masih setia mengguyur sejak sore tadi, rasa dingin menelusup hingga menembus kulit meski AC sudah ku matikan. Aku berjalan ke kamar mandi, saat aku membuka pintu ternyata kamar mandi kosong, tidak ada Adrian di dalamnya.
Usai dengan urusanku di kamar mandi, aku bermaksud ingin mengambil air mineral di dapur sekalian mengecek Adrian yang mungkin ada di ruang kerja. Menurut penjelasan Vara tadi, ruang kerja hanya berbatas di dong dengan kamar yang aku tempati.
"Nggak ada juga, kemana Mas Adrian? "
Aku menoleh kesana kemari, seluruh ruangan tampak remang-remang karena sudah diganti oleh lampu pijar malam. Dan aku tak mendapati siapapun tengah berkeliaran di tengah malam dan hujan seperti sekarang ini.
"Tidak mungkin dia sedang olahraga ataupun nonton 'kan ya, dingin-dingin gini. Kalau iya berarti kurang kerjaan banget dong, " aku mengisi air mineral dari galon ke dalam botol, karena air mineral kemasan sudah dimasukkan semua kedalam kulkas.
"Bisa kembung atau malah masuk angin ntar minum air dingin, " ingin rasanya aku meminum sesuatu yang hangat atau panas untuk menghangatkan tubuh, tapi malas rasanya karena mataku masih sangat mengantuk.
Aku masih berusaha mencari keberadaan Adrian, hanya sekedar ingin tau dimana keberadaan nya dan sedang apa dia.
Saat melewati kamar tamu yang di tempati oleh Vara, aku mendengar suara orang yang sedang bicara.
"Vara ngomong sama siapa? " batinku kepo.
Sebenarnya aku bukanlah orang yang terlalu ingin tau urusan dan permasalahan orang lain, tapi Vara ini menjadi pengecualian bagiku, karena dia sangat mencurigakan.
Aku melangkah mendekat, ingin bertanya kenapa ia masih terjaga di jam yang sudah lewat dari dua belas malam, ini bahkan hampir dini hari.
"Aku kangen sama kamu, Sayang.. "
Deg.
Suara itu, aku sangat mengenal suara itu.
"Mas Adrian? " gumamku.
Aku sangat yakin jika suara itu adalah suara suamiku. Mana mungkin aku salah mengenali suara suamiku sendiri.
"Aku juga kengen banget sama kamu, tapi sekarang nggak mungkin. Ada Vita di rumah ini sekarang, " aku mendengar perkataan Vara.
__ADS_1
Hatiku memanas, mataku menganak sungai. Jantungku serasa dihujam dengan belati yang sangat tajam. Tubuhku gemetar, ingin rasanya aku membuka pintu di hadapan ku ini dengan kasar lalu berteriak sekencang-kencangnya pada dua orang yang sudah berkhianat di belakangku.
Jadi ini arti dari kecurigaanku selama ini?
Mereka memang benar-benar menjalin hubungan?
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku meremat botol yang ku genggam dengan kedua tangan.
"Tapi aku sudah kangen banget sama kamu, Vara. Kita udah seminggu nggak ketemu. Kondisi kamu juga lagi fit 'kan sekarang? "
"Hmm, "
"Ayolah, Vara Sayang.. masak kamu tega sih sama aku yang udah kayak gini, "
"Kamu 'kan bisa minta sama Vita, Adrian, "
"Tapi aku maunya kamu, Vara. Bukan Vita! " terdekat suara Adrian sedikit meninggi, ia terdengar kesal.
Air mataku lolos dan berjatuhan ke pipi, apa-apaan semua ini?
Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba mendorong pintu yang tidak ditutup sampai rapat, aku mengintip dari celahnya, dan apa yang kulihat sungguh membuat hatiku hancur berkeping-keping.
"Aaaaa, " aku berteriak di dalam hati. Tenggorokan ku terasa tercekat, sedikitpun kata tak mampu terucap, rasa sakitnya tak dapat lagi ku ungkapkan dengan kata-kata apalagi perbuatan. Logikaku hilang entah kemana.
Botol yang semula tergenggam erat, terlepas begitu saja hingga menimbulkan suara. Bersamaan dengan itu, aku berlari sekuat tenaga menuju kamarku. Samar-samar aku mendengar suara orang panik yang juga disusul langkah kaki.
Tapi seolah pelari maraton, aku mampu berlari dengan cepat padahal aku menaiki tangga. Rasa sakit juga emosi yang membuncah seperti memberikan kekuatan tersendiri bagi tubuhku.
Sesampainya di kamar aku membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Aku bersandar pada daun pintu dan luruh ke lantai.
"Nggak mungkin, aku pasti salah lihat tadi, " aku menggeleng-nggelengkan kepala mencoba menepis suatu hal yang sudah benar-benar kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
Ku pukul-pukul dadaku yang terasa sesak, tangisku mulai pecah. Aku berteriak memaki Adrian dan Vara. Tega-teganya mereka berbuat seperti itu di belakang ku.
Kenapa bayang-bayang sialan itu tetap tak mau hilang dari pikiranku. Bahkan semua terasa semakin jelas tergambar di mataku.
Dua orang yang merupakan suamiku dan wanita yang mengaku sebagai sepupunya, ternyata merupakan sepasang kekasih. Bahkan mereka seperti sudah biasa melakukan hubungan suami istri dari pembicaraan mereka yang sempat kutangkap tadi.
__ADS_1
Apa mereka memang sepasang suami istri? Berarti aku madunya? Aku perebut suami orang?
"Kalian tega! "
"Kalian jahat! " teriakku seperti orang kesetanan.
Aku mengamuk, menepis semua bayang-bayang dia orang yang tenaga bermesraan tadi dari fikiranku.
Bayangan saat kedua orang itu tengah bercumbu mesra, perlakuan Adrian sangat manis dan lembut. Sambutan manja dari Vara yang tersenyum bahagia. Pagutan mesra disertai pelukan rindu itu benar-benar menyakiti hatiku.
Bahkan Adrian hampir saja melepaskan pelindung terakhirnya. Sedangkan Vara, wanita itu.. dia sudah, sudah..
"Aaaaaaaakh...! pergi bayang-bayang brengsek! " kalau begini terus aku bisa gila.
Baru pertama kalinya aku merasakan cinta, merasakan belaian laki-laki, tidak tahunya lelaki brengsek. Kenapa papa menjodohkan aku dengan lelaki brengsek semacam Adrian. Dan bodohnya lagi kenapa aku menerimanya, bahkan aku sudah terlebih dulu tergila-gila padanya sebelum papa memintaku menikah dengan lelaki itu.
Aku tak pernah menyangka jika kehidupan pernikahanku yang semula indah dalam khayalanku, akan dihiasi oleh orang ketiga, atau malah aku yang menjadi orang ketiga disini?
Jika memang mereka sudah menjalin hubungan sebelum pernikahan kami, berarti akulah orang ketiganya, berarti aku orang jahatnya?
Apa aku pelakornya?
Apa aku perusak kebahagiaan mereka?
Semua pikiran dan dugaan terus berputar-putar di otakku.
"Enggak! Bukan aku yang jahat disini, tapi Adrian. Dia yang mengkhianati Vara, dia yang menipuku, bukan aku, " ucapku menyangkal pada diri semdiri.
"Adrian yang penipu, tapi wanita itu juga penipu. Dia munafik!"
Aku merasa jijik dan muak teringat wajah Vara yang sok polos, pandai sekali dia bersandiwara di hadapanku. Apakah kedua orang itu pemain sinetron?
Apapun keadaan dan kenyataan nya, tetap akulah yang tersakiti disini. Akulah korban dari keegoisan mereka. Sebenarnya pa tujuan mereka melakukan semua ini padaku.
Tubuhku yang lemah kepaksa berjalan kearah ranjang. Aku membuka laci nakas, mencari sebuah botol yang berisi sesuatu yang mampu membuatku tenang.
Bersambung...
__ADS_1