
Kilasan bayangan hari menyakitkan itu berkelebatan di dalam ingatan Kavita. Terbentuk seperti rangkaian sebuah video dan berputar di dalam memori otaknya. Membuatnya semakin yakin jika keputusannya untuk pergi dari Adrian adalah suatu keputusan yang sangat tepat.
"Vit...! kok malah bengong? Kenapa? Kamu nggak setuju sama keputusan Mama? " Mama Indri menepuk pundak Kavita yang tampak melamun.
Kavita gelagapan dan menatap ibunya, "Hah? Setuju kok, Ma. Kavita setuju banget, "
"Malahan kalau bisa diproses lebih cepet, lebih baik ya, Kak, ya... " sahut Vero dengan mata mengerling menggoda sang kakak, entah apa maksudnya.
Namun Vita menanggapi godaan dari adiknya itu dengan keseriusan, "yap, bener banget tuh. Biar cepet juga bisa lepas dari jerat manusia jahat seperti dia, "
"Setuju...! " timpal Nadiva.
Jangan tanyakan ekspresi Valdi yang sudah senyum-senyum sendiri sejak tadi bagai orang yang baru saja mendapatkan jackpot.
Mama Indri menghela nafas lega, ia merasa bersyukur karena ternyata inisiatifnya disambut baik oleh putrinya. Tinggal menunggu proses yang selanjutnya saja, dan semuanya akan segera usai.
Disaat yang bersamaan, semua orang yang ada disana juga melihat berita yang ada di layar televisi berukuran besar di depan mereka. Berita yang sama yang disaksikan oleh Adrian beserta ayahnya tadi terpampang disana. Senyum geli dan penuh arti tersungging diantara mereka.
"Papa yakin, dengan adanya berita ini. Kasus perceraian Kavita pastia akan dapat diproses dengan mudah. Lagipula... apa mereka akan punya muka untuk keluar rumah dan datang ke persidangan itu? " komentar papa Indra begitu menyaksikan siaran berita tentang Adrian yang sudah menjadi viral kini.
"Wah... bener juga ya, Pah. Itu bisa kita jadikan bukti untuk memperkuat alasan kenapa Kavita meminta cerai dari laki-laki itu, " sahut mama Indri.
"Bodoh banget tuh orang, yang dipake otot doang! Otaknya entah dikemanain," Vero turut merasa puas dengan berita viral itu. Sebab jelas saja dengan kebodohan yang dilakukan oleh Adrian justru akan menguntungkan pihak mereka.
Nadiva dan Valdi hanya ikut mengangguk-angguk saja setuju. Mereka merasa tak punya hak untuk ikut berkomentar, namun dihati Nadiva ikut merasa senang jika kasus sahabatnya akan cepat usai.
Apalagi Valdi, meskipun bibirnya hanya diam tak berkomentar, namun diam-diam lelaki itu juga ikut bertindak melaporkan keributan yang terjadi dirumahnya yang disebabkan oleh keluarga Adrian. Apalagi sampai ada korban yang terkena tembakan juga waktu itu di rumahnya. Itulah lelaki sejati, yang mengutamakan tindakan daripada ocehan saja. Tentu saja timdakan yang benar dan penuh perhitungannya, bukannya tidakan buruk dan asal-asalan seperti yang dilakukan oleh Adrian.
__ADS_1
Baby Kava terbangun saat semua orang sudah selesai berembug, pengertian sekali bayi itu. Seorang babysitter membawanya ke ruangan dimana orang-orang berkumpul.
"Hey... anak Ayah bangun rupanya," sambut dokter Valdi pada bayi mungil yang ada di dalam troller, "sini sama Ayah, " lelaki muda itu menggendongnya, seketika tangis baby Kava terhenti.
"Uhuk! " papa Indrawan tersedak mendengar ucapan dokter Valdi. Lehernya menoleh pada sang istri, keduanya pun saling berpandangan.
Tatapan mereka mengisyaratkan tanya yang sama, "apa ada sesuatu diantara mereka? "
Bukannya gimana-gimana, tapikan menurut mereka, dokter Valdi itu masih muda, sukses, apalagi malah bujang. Apa iya lelaki itu menyukai putri mereka yang mungkin sebentar lagi menyandang status janda, terlebih sudah punya anak pula.
Sedangkan Kavero dan Nadiva yang sudah tau tentang bagaimana perasaan Valdi hanya terkekeh geli.
"Wah ... dokter Valdi luwes banget ya ngegendong baby Kava. Bahkan Kavita yang ibunya aja malah kaku pas Mama suruh gendong, "
Kavita mendelik, "Mama ih! Nggak perlu diperjelas juga dokter Valdi udah tau kali. Kan dia juga yang pertama kali naroh baby Kava dipangkuan Vita, "
Tapi Mama Indri baru kali ini mendengar dokter Valdi memanggil dirinya ayah pada cucunya. Apakah memang sesayang itu sang dokter tampan kepada anak dan cucunya.
"Ya baguslah kalau begitu, berarti kamu harus banyak belajar sama dokter Valdi tentang cara mengurus bayi. Mama udah hampir lupa karena udah lama nggak megang anak bayik, "
Kavita memutar bola matanya malas, terlihat jelas sekali kalau mamanya berpura-pura, sebab semalam sang bunda lah yang dengan sigapnya mengurusi baby Kava. Dari mulai memandikan, menggantikan popok, juga membedongnya. Sekarang bilang lupa secara tiba-tiba.
"Heddeh... Mama... Mama. Nggak lucu sandiwaranya, " batin Kavita gemas.
"Udah sih, Kak. Di iya'in aja! Toh Bang Valdi nya nggak keberatan kok. Iya'kan, Bang? " lagi, Vero menggoda sang kakak.
Dokter Valdi tersenyum dan mengangguk, tangannya sibuk menimang-nimang baby Kava yang kini terjaga dengan tatapan mata fokus padanya.
__ADS_1
"Baby Kava ngapain liatin kayak gitu? Ayah ganteng ya, iya? " godanya pada bayi berumur dua bukan itu.
Baby Kava tersenyum, tangan mungilnya bergerak-gerak hendak menggapai wajah dokter Valdi yang berada di atasnya.
"Unch... gemes banget sih. Kalo gini 'kan Ayah nggak bisa ninggalin kamu pulang nanti, "
Mendengar ucapan Valdi pada bayinya, Kavita pun beranjak dari duduk dan mendekat pasa keduanya.
"Memangnya kamu mau pulang, Di? " tanya Kavita pada Valdi.
Bukannya menjawab pertanyaan Vita, Valdi justru mengerutkan keningnya, "Memangnya kenapa? Ayah nggak boleh pulang ya... tuh, Dek. Kata Bunda, Ayah nggak boleh pulang. Gimana menurut Adek? " iseng Valdi bertanya hal yang membuat Kavita mencubit lengannya.
"Ih, Valdi! Jangan bikin gue kesel ya. Siapa juga yang ngelarang lo pulang, "
"Itu tadi barusan. Tapi kok Bunda ngomongnya gitu sih, ntar baby Kava ikut-ikutan loh. Nggak baik, " tugas Valdi.
"Hissh... "
"Acie... cie... yang ayah bunda'an. Bikin ngiri deh, "
"Stop ya, kalian jangan mulai! " warning Kavita pada kedua orang terdekatnya itu.
"Hahaha... " bukannya takut, Kavero dan Nadiva malah terbahak.
"Udah deh, Vit. Lo nggak usah malu-malu lagi sama kita. Biasa ajah, dan ngamanin ajah, okey, "
Kavita tak ingin kepedean hanya karena panggilan Valdi padanya, juga perlakuan lelaki itu pada dirinya juga bayinya. Sebab belum pernah ada pernyataan apapun dari Valdi padanya. Jadi ia ingin semuanya menjadi lebih jelas agar tak menjadi suatu hal yang hanya perkira-kiraannya saja dan nantinya menjadikannya malu karena salah mengira. Tidak mungkin juga kan Kavita berbesar kepala begitu, bisa-bisa dirinya ditertawakan oleh Vero dan Nadiva nantinya. Begitu yang ada di fikirkan Vita yang memang tidak tau menahu jika Vero serta Diva bahkan sudah menantang Valdi kala itu.
__ADS_1
Maka dari itu, Kavita hanya ingin agar semuanya mengalir dengan apa adanya saja tanpa dibuat-buat. Biarlah akan seperti apa nanti kedepannya.