
"Vero...! Diva...? Kangen... " seru Kavita dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya. Kedua tangannya sudah terentang untuk mendapatkan pelukan dari kedua orang yang sudah sangat dirindukannya tersebut.
Saat gadis itu masih asyik menata coklat dan permen yang ada di dalam laci Valdi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang merupakan adik serta sahabatnya yang memang sudah beberapa hari ini tak ia jumpai. Karena saat terakhir Vero dan Diva datang ke rumah sakit adalah saat sore hari yang bertepatan dengan Kavita yang sedang tertidur waktu itu, sehingga ia tak bertemu dengan mereka berdua.
"Sama ... gue juga, " seru Nadiva pula seraya menghambur kedalam pelukan sahabatnya itu, sedangkan Kavero hanya terdiam menatap keduanya serta menahan rasa khawatir yang menjalar di hatinya.
"Gimana, Bang? Udah siap? " tanya Vero pada Valdi yang hanya dengan gerakan mulut saja tanpa mengeluarkan suara.
Valdi mengangguk ragu, lalu melambaikan tangan nya pada Vero agar lelaki itu mendekat. Kemudian Valdi membisikkan apa yang menjadi rencananya, apakah sama atau bisa di jalankan bersamaan dengan rencana yang telah dibuat oleh Vero.
Vero mengangguk-angguk kecil mendengarkan dengan seksama apa yang Valdi sampaikan, "oke juga sih, Bang. semoga aja nggak ketauan ya, Bang, " ucapnya kemudian.
Belum juga Valdi dan Vero memulai persiapan, pintu ruangan tersebut diketuk dari luar yang membuat keempatnya sontak saling pandang. Tetapi Vita yang belum tau apa-apa justru meminta Valdi untuk membukakan pintu tersebut.
"Di, ada yang nyariin tuh! Bukain napa pintunya, kesian kan kalo pasien?! " ucap Vita menginterupsi ditengah ketegangan yang dirasakan oleh ketiga orang lainnya.
"Jangan ... ! " seru ketiga orang tersebut saat Vita yang tak sabaran justru sudah terlebih dahulu memutar roda kursi rodanya dan menjalankannya menuju arah pintu untuk membuka pintu ruangan itu.
"Kenapa? " tanya Vita dengan kepala menoleh pada Valdi, Vero serta Diva yang ada di belakangnya. Namun tangan kanannya juga sudah membuka kunci pintu dan memutar handle pintu tersebut.
Diva masih saja berteriak, "jangan dibuka pintunya, Vit...! " dengan mata yang tertutup erat karena saking paniknya tak mau melihat siapa yang ada di luar sana. Bagaimana jika itu adalah Adrian ataupun anak buahnya?
"Vita... stop... ! " Begitu pula Valdi dan Vero yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk berlari mengejar agar pintu itu tak terbuka.
"Kak Vita jangan dibuka, " Vero menangkap dan segera menahan daun pintu yang mulai terdorong kedalam untuk terbuka.
__ADS_1
"Kalian tu pada kenapa sih sebenernya? Daritadi teriak-teriak jangan ... jangan mulu! Masak iya ada pasien mau dicuekin, " seru Kavita yang merasa kesal pada dua orang laki-laki yang kini berdiri di hadapannya dengan menghadap dirinya dan bersandar pada pintu. Bukan bersandar sih lebih tepatnya kedua orang itu menahan pintu itu agar tak terbuka.
"Pokoknya kalo gue bilang jangan ya artinya jangan dibuka! Ngerti lo?! " ujar Valdi yang terus mendorong pintu itu ke belakang agar kembali menutup.
Vero pun tak kalah panik dan terus berusaha menahan pintu itu yang terasa di dorong kuat dari arah luar sana.
Hingga terjadilah aksi dorong mendorong pintu antara Vero dan Valdi dengan orang yang ada diluar sana yang entah siapa itu.
Valdi memberi kode pada Diva agar gadis itu membawa Kavita menjauh dari sana agar tak ikut terdorong nantinya. Nadiva mengangguk dan mendekat, lalu menarik pegangan kursi roda Kavita dan berjalan mundur.
"Ini pada kenapa sih? Dateng-dateng pada aneh banget sikap kalian, " Kavita merasa semakin jengkel karena tak ada yang menanggapi ucapannya lagi.
"Oh, jangan-jangan kalian mau nge-prank gue ya, " lanjut Kavita dengan mata menyipit memindai satu persatu wajah dari ketiga orang tersebut.
Vero dan Valdi memaksakan tawa disela perjuangan mereka mempertahankan si pintu agar tetap dalam keadaan tertutup paling tidak sampai Nadiva berhasil membawa Kavita untuk bersembunyi terlebih dahulu.
"Kalo lo mau ke toilet ngapain mesti ngajakin gue sih? " kesal wanita itu karena Diva tak menyahuti ucapannya sampai gadis itu menutup dan mengunci pintu kamar mandi tersebut dari dalam.
"Gue mau minta tolong sama lo, Vit! " ucap Diva dengan nafas terengah m seraya berjongkok di depan sahabatnya itu.
"Apaan? " ketus Kavita.
Nadiva nyengir kuda, "tolong benerin pengait bra gue ... lepas, " kemudian gadis itu berbalik dan memunggungi sahabatnya. Dan benar saja, jika bra yang dikenakan oleh Nadiva pengaitnya terlepas. Karena tadi Nadiva sendiri yang melepaskannya saat mendorong kursi roda Kavita untuk ke kamar mandi, dan saat itulah ide konyol itu muncul ditengah kepanikan yang melanda jiwanya.
"Yaelah, gak ngomong daritadi lo, " Kavita meraih bra Diva dengan tangan kanan dan kirinya lalu mengaitkannya pada posisi yang sesuai dengan intruksi dari Nadiva.
__ADS_1
"Ya malu lah gue, masak iya ngomongin soal bra di depan cowok-cowok sih. Gue kan masih gadis, gak kayak yeiy yang udah jadi mak-emak, " sungut Diva yang bersandiwara tetapi setengah serius juga.
"Iya-iya ... gue emang udah emak-emak. Udah bukan gadis. Nggak masalah, yang penting gue punya baby boy yang ganteng dan unyu abis, wlee ... ngiri 'kan lo! " ujar Vita membela statusnya.
Ia tak merasa tersinggung atau apapun pada sahabatnya itu, karena memang itulah kenyataan apa adanya. Yang terpenting jangan pernah menyinggung soal ayah dari anaknya, itu saja. Jika sampai itu terjadi, barulah Kavita pasti akan benar-benar marah.
"Iya .. iya, ngiri banget gue. Besok gue juga mau bikin baby yang comel bin unyuk kek gitu ah, kalo udah ada pasangannya. Pan kalo mo bikin ndiri kagak bisa," ujar Diva seraya tertawa. Tawa yang kemudian menular pada Kavita.
"Emangnya mikroba, bisa berkembang biak sendiri, " sahut Kavita pula kemudian keduanya tertawa bersama.
"Oh iya, Div. Tuh orang cowok berdua kenapa pada aneh gitu sih tingkahnya?" tanya Kavita pada Nadiva setelah tawa meereka mereda.
Sebuah pertanyaan yang membuat Nadiva langsung melipat bibirnya, karena merasa bingung mau menjawab apa.
"Emm ... itu, gue juga nggak tau. Urusan laki-laki mungkin, " jawabnya kemudian, mencoba mencari aman saja agar sahabatnya itu tak kembali banyak bertanya.
"Iya juga kali ya. Tapi ini lo udah 'kan urusannya di kamar mandi? Keluar yuk! Engap nih... " ajak Kavita hendak membuka pintu.
Nadiva kembali mencegahnya, "bentar, Vit. Gue mau pipis, iya... pipis, " ucapnya.
"Lo mau gue nungguin lonoiois disini gitu? Yang bener aja, Div!" tanya Kavita tak percaya pada sahabatnya.
"Kalian udah belum, woy! "
"Hah? "
__ADS_1
😄😄😄