
"Dimana Kavita? Hah?! Dimana? " teriakan Adrian menggema di ruangan bayi yang sontak saja membuat semua bayi yang berada disana terjingkat kaget dan menangis sekencang-kencangnya.
Kegemparan pun terjadi. Adrian mengamuk dan memukuli Beno habis-habisan yang dinilainya sudah mengerjai dirinya yang sudah begitu berharap banyak dengan laporan yang disampaikan oleh Beno tadi mengenai Kavita yang ada di rumah sakit tersebut.
Betapa ia sudah menghayal akan bagaimana meminta maaf pada Kavita, akan bagikan bersikap dan akan berbicara apa saja pada istri yang sudah sangat dirindukannya itu. Juga pada bayinya yang begitu ingin ia lihat, seperti siapakah bayi tersebut, apakah seperti dirinya yang tampan dan gagah atau menuruni mamanya yang cantik jelita.
Namun semua angan itu hancur sudah karena ia tak mendapati Kavita apalagi anaknya disana. Jangankan Kavita, sepintas bayangan wanita itu saja tidak ada sama sekali di ruangan itu.
"Berani-beraninya kamu membohongi saya, Beno! Kamu mau melihat saya kembali hancur dengan harapan palsu yang udah kamu buat, iya? Hah? jawab! " kembali teriakan disertai pukulan dan tendangan itu membuat para bayi menjerit ketakutan.
__ADS_1
Beno hanya terdiam tak mampu menjawab, karena percuma saja baginya untuk menjawab Adrian yang sedang gelap mata seperti saat ini. Para anak buahnya pun dilarang untuk membantunya, karena ia merasa tanggungjawab atas laporan yang ia berikan sendri pada tuannya itu.
Pihak keamanan rumah sakit dikerahkan, meski awalnya mereka takut-takut karena adanya para anak buah Adrian yang banyak, tetapi demi keamanan dan kenyamanan para bayi mungil, mereka pun memberanikan diri juga untuk mengamankan Adrian yang sudah seperti orang kesetanan. Apalagi pihak kepolisian yang tadi pamit kepada Adrian ternyata masih ada di sekitaran rumah sakit itu untuk melihat situasi disana, jadi para satpam rumah sakit sekalian meminta bantuan kepada mereka.
Orang tua Adrian yang mendapatkan laporan mengenai tindakan Adrian dari salah satu anak buah Adrian yang melaporkan Adrian yang menggila di ruangan bayi, langsung berlari tergopoh-gopoh mencari keberadaan putra sulung mereka untuk menenangkan dan membawa anak mereka itu pulang saja agar tak lagi membuat kekacauan.
"O ow... sungguh bodohnya dirimu, Bang. Mempermalukan diri sendiri, menghacurkan reputasi sendiri pula, ckckck, " gumam Aditya yang melihat ulah Adrian saat memukuli Beno di ruangan bayi seraya berteriak-teriak seperti orang gila. Lelaki itu melihatnya pada siaran langsung yang ada di salah satu akun internet melalui ponselnya.
"Sayang sekali... " Aditya dengan santai nya memakan buah yang tadi sudah dikupas dan di potong-potong oleh mami Shinta sebelum l ibunya itu ikut pergi menghampiri sang kakak.
__ADS_1
"Tapi gimana keadaan Kavita tadi ya? Apa mereka semua sudah berhasil mengamankannya? Semoga aja udah sih, karena gue pun gak akan bisa berbuat apa-apa kalau sampai ketahuan Bang Adrian mengenai dimana keberadaan mereka, "
Untuk meredam rasa khwatir dan penasarannya, Aditya kembali mengubungi Diva, mengirim kan pesan pada gadis itu dan menanyakan perihal keadaan Kavita beserta bayinya.
Diva membalas jika semua sudah aman terkendali dan mengucapkan terimaksih pada lelaki itu.
"Makasih, Dit. Berkat lo, kita bisa bawa Kavita dan anaknya di wkatubyang tepat. Gue nggak bisa bayangin kalo sampai laki-laki syco itu nemuin Kavita dan anaknya, bisa-bisa sangat bahaya. Liat dia dengan gilanya memukuli anak buahnya sendiri aja, ngeri gue, " balas Diva panjang lebar.
"Lo juga liat? " gumam Aditya. "Terang aja, itu kan siaran langsung dan umum, jadi siapa aja bisa liat,"
__ADS_1
Apapun itu yang terjadi pada Adrian. Mengetahui jika Kavita sudah aman membuat Aditya menghela nafas lega. Meskipun ia masih belum bisa berhasil untuk bertemu dan mengungkapkan rasa yang selama ini disimpannya pada Kavitta, tapi ia merasa lega karena gadis yang disullkainya itu dalam keadaan aman di tempatnya berada sekarang.