
"Biarkan Vita pulang ke rumah kami dulu, mungkin dia kangen tinggal sama Mama papanya. Dia pengen dimanja sama orangtuanya," ucap Mama Indri setelah dokter menyatakan Vita sudah boleh pulang hati itu.
"Tapi, Ma.. Vita itu sudah menjadi tanggungjawab saya, dan anak dalam kandungannya juga butuh saya sebagai ayahnya, " tolak Adrian secara halus pada ibu mertuanya.
"Tapi Vita juga butuh saya, saya mamanya. Saya tau yang terbaik untuk anak saya, " seru Mama Indri yang merasa semakin kesal.
Adrian memijat pelipisnya, "kita itu baru aja beberapa hari pindah ke rumah kita, masak iya udah harus pisah rumah? Lalu apa tanggapan orang-orang nanti terhadap kami, Ma? "
"Hallah! Peduli apa sama tanggapan orang-orang? ! " Mama Indri mengibaskan tangannya.
"Yang paling penting itu kebahagiaan anak saya, Kavita. Biar dia merasa aman dan nyaman selama masa kehamilannya. Dan nggak terbebani oleh masalah yang ada, "
Kening Adrian berkerut mendengar perkataan ibu mertuanya, "masalah apa? kami merasa nggak ada masalah apa-apa kok. Iya 'kan, Vit? " Adrian menatap Vita berharap kalau wanita itu akan menjawab iya.
Tetapi Kavita hanya diam termangu. Ia merasa galau.
"Kalau memang diantara kalian itu tidak ada masalah, untuk apa Vita bisa sampai dirawat di rumah sakit ini? Itu pasti karena kamu yang nggak becus jagain dia 'kan?" mama dari Kavita itu mulai emosi, ia menunjuk-nunjuk dada Adrian yang berdiri di depannya.
"Tapi memang kita berdua baik-baik aja kok, " sangkal Adrian tak mau mengaku kalau memang dirinya tak perduli pada istri nya tersebut.
"Terus, kenapa juga kamu nggak pernah jengukin apalagi nungguin Vita selama dia dirawat disini? "
Adrian menelan ludah kasar, pertanyaan dari ibu mertuanya telak membuatnya kehabisan kata untuk menyangkal. Kini dirinya harus mulai mencari alasan yang masuk akal.
"I-itu... itu karena Adrian sibuk. Iya. Aku sibuk lagi bikin cabang baru di luar kota, jadi nggak bisa bolak balik dalam jangaka waktu yang cepet. Ini buktinya, begitu pulang aku langsung kesini kan, " Adrian sedikit lega karena bisa memberi alasan yang tepat kepada Mama Indri.
Tanpa ia sadari jika alasannya itu justru malah membuat tanda tanya tersendiri bagi papa Indra, ayah mertuanya.
Papa Indra mengejutkan kening, "bukankah cabang baru di kota Batu itu sudah selesai bahkan sebelum mereka menikah? Atau memang Adrian sudah membuka cabang baru lagi... tapi kenapa aku bisa sampai tidak tau? " lelaki paruh baya itu bertanya-tanya dalam hati.
Sedangkan Vita bingung antara mau membela ibunya atau suaminya. Keduanya sama-sama orang terpenting dalam hidupnya. Mereka juga mempunyai porsi cinta masing-masing dari Vita. Dan menempati tempat tersendiri pula dihati wanita berusia dua puluh lima tahun tersebut.
__ADS_1
"Vita kangen mama papa, tapi aku juga kangen banget sama Mas Adrian.. gimana dong? " batin Vita gamang.
"Ini kenapa sih, kok malah kalian jadi ribut seperti ini? " Papa Indra mencoba melerai istri dan menantunya yang sejak tadi berdebat tiada ujungnya.
Vero malah dengan asyiknya menonton perselisihan itu dengan memakan camilan kacang kulit dan kuaci. Sepertinya pemuda itu menganggap jika ia sedang menonton sinetron dengan judul 'Pertikaian Menantu dengan Ibu Mertuanya'.
"Kamu juga, Ver. Bukannya melerai mereka, tapi malah asyik-asyikan duduk sambil ngemil kacang," seru papa Indra pada anak laki-laki semata wayangnya.
Vero mengendikkan bahu acuh, dia sama sekali tak mau lagi terlibat dengan Adrian. Karena ia sudah merasa jenuh dan tidak ingin merasa emosi lagi karena berurusan dengan kakak iparnya yang menurutnya lelaki brengsek itu.
"Maaf, Pa. Vero nggak mau ikut-ikutan lagi. Yang terpenting buat Vero sama kayak yang dibilang Mama tadi. Yaitu kebahagian Kak Vita dan keselamatan anaknya, udah itu aja, " balas Vero dengan santainya.
"Ck, " Papa Indra berdecak, tak habis fikir juga dengan Vero yang bisa dengan santainya menyaksikan perdebatan antara mama dan kakak iparnya, tanpa berniat sedikitpun melerai mereka.
Papa Indra memijat keningnya yang berdenyut karena mendengarkan perdebatan yang belum juga ada habisnya.
"Sibuk katamu?" tanya Mama Indri berseru.
"Ya, saya percaya kalau kamu itu orang sibuk. Tapi sesibuk-sibuknya seorang CEO, ku pasti punya banyak karyawan dan bawahan kamu yang lainnya 'kan? " ucap wanita paruh baya itu yang kini berkacak pinggang, sedangkan satu tangannya menunjuk Adrian.
"Hallah! Banyak alasan kamu. Bilang aja kalau pekerjaan kamu itu lebih penting daripada anak saya, atau malah ada alasan lain, " kini mama Indri bersedekah dengan mata yang melirik Adrian sengit.
Rasanya ia benar-benar ingin memaki menantunya yang sangat menyebalkan itu. Bisa-bisanya Adrian mengajaknya berdebat tanpa berniat untuk mengalah sedikitpun dengannya.
"Bukan begitu, Ma. Vita itu istri aku, tentu aja dia penting. Tapi kan pekerjaan ini aku lakukan demi dia juga, Ma. Demi masa depan anak kami juga nantinya, " Adrian mencoba memberi pengertian mama Indri.
Entah dapat darimana ia kata-kata se-bertanggungjawab itu. Padahal dalam hatinya ia merasa jengah.
"Kamu itu cuma kebanyakan alasan, Adrian! "
"Ma..." panggil Papa Indra lembut.
__ADS_1
"Padahal kamu nggak akan bangkrut kalau cuma harus nungguin Vita dan calon anak kamu di rumah sakit selama seminggu aja, " cerocos mama Indri tanpa menghiraukan panggilan suaminya.
"Ya.. tapi aku juga-"
"Enough (cukup)!" Perkataan Adrian terpotong oleh teriakan Kavita.
"Aku dengerin daritadi kalian tuh nggak ada yang mau ngalah. Tanpa bertanya bagaimana mauku kalian berdebat sesuka hati kalian! " seru Kavita dengan tangisnya yang mulai pecah.
"Kalian nggak ada yang mau tau bagaimana pendapatku, bahkan bagaimana perasaanku kalian juga nggak peduli, "
Wanita itu sudah merasa jengah sekaligus sedih dengan perdebatan yang seakan tiada ujungnya antara mama dan suaminya. dua orang yang disayanginya tersebut.
"Kalian bilang kalau kalian menyayangiku, tapi bagaimana perasaanku lihat kalian bertengkar kayak tadi aja kalian nggak mau tau, " Papa Indra mendekati putrinya yang kini menangis tersedu itu. Ia mendekap Kavita ke dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang.
"Sst... kamu nggak boleh nangis, Sayang. Papa akan selalu ada dan selalu menyayangi kamu. Kavita yang sabar... ingat, kamu udah mau jadi seorang ibu, " lelaki paruh baya itu mengusap air mata putrinya dengan kedua ibu jari.
"Jadi kamu itu udah sepenuhnya dewasa, kamu harus bisa mulai cuek dengan keadaan sekitar yang sekiranya membuat kamu susah, sedih, marah atau bahkan kecewa, "
"Yang paling penting harus kamu utamakan adalah kebahagian kamu, dan kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Biarkan dia tumbuh dengan kebahagiaan, yang nantinya ia juga akan menjadi anak yang bahagia dan ceria. Bukannya penuh amarah dan luka, "
Papa Indra menangkup wajah putrinya yang sembab. Ia tersenyum, senyum yang memang sengaja ia salurkan untuk sang putri yang selalu menjadi little princess untuknya.
Kavita mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Papa benar, Vita nggak boleh egois. Vita harus memikirkan anak Kavita juga kalau mau sedih-sedih. Makasih nasehatnya, Pa, " di peluknya manja sang ayah, persis seperti saat dirinya masih kecil dulu.
"Nah, itu baru little princess Papa yang selalu ceria, " Papa Indra menoel hidung Kavita yang mancung seperti dirinya.
"Ish, Papa. Kavita bukan little princess lagi. Aku udha menjelma menjadi ibu ratu sekarang, " ucap Kavita yang pura-pura merajuk.
"Oh ya, Ibu ratu Adrian? " Kavita sejenak lupa semua luka yang pernah suaminya berikan kepadanya.
__ADS_1
"Adrian, Papa mau ngomong sama kamu!".
Bersama. bung