Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Impian Mulia Aditya


__ADS_3

Adrian yang mengamuk sudah diamankan oleh pihak kepolisian dan dibawa kembali ke ruangan Aditya sebelum diajak pulang oleh kedua orang tuanya kembali ke kota. Sebab papi Wijaya masih harus mengurus kepindahan Aditya juga agar bisa di rawat di rumah sakit yang ada di kota, supaya mereka tak terlalu jauh jika harus menunggu atau sekedar menjenguk anak bungsu mereka itu nantinya.


Lelaki itu terduduk di sofa masih dengan nafas yang masih memburu. Rasa kesal dan kecewa yang menghinggapi hatinya tak mampu lagi ia bendung sebab dirinya sudah terlalu banyak berharap dengan informasi yang diberikan oleh anak buahnya. Maka dari itu dirinya seperti hilang kesadaran dan membabi buta menghajar Beno selaku si pemberi informasi palsu.


"Vita... Vita... Vita... kamu sungguh membuatmu gila, " gumamnya dengan air mata berderai mengingat kembali hari-hari yang telah ia lalui bersama istrinya itu dulu. Betapa bodoh dirinya yang dahulu pernah menyia-nyiakan gadis sebaik Kavita.


Mami Shinta turut merasakan kepedihan yang dirasakan putra sulungnya itu saat ini, karena dirinya pun juga tak kalah merasa kehilangannya seorang menantu yang cantik juga baik seperti sosok Kavita. Padahal ia berharap sangat banyak pada pernikahan Adrian dan Kavita selain harapan agar keluarganya mempuyai penerus yang dilahirkan oleh Kavita.

__ADS_1


Namun ia yang tau jika Vara, menantu pertamanya itu memiliki penyakit kronis yang bisa kapan saja merenggut nyawanya, maka ia berharap jika Kavita bisa menjadi obat kehilangan untuk semua orang jika sewaktu-waktu wanita itu meninggal.


Tapi apa daya, keluarganya justru kehilangan kedua menantu mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satunya pergi karena sakit hati, dan yang satu lagi pergi untuk selama-lamanya menghadap kepada Sang Pencipta.


Berbeda dengan Mami Shinta yang juga ikut menitikkan air mata, Aditya justru bersedih dengan sengitnya melihat sang kakak yang menurutnya hanya sok merasa kehilangan istrinya itu.


Papi Wijaya bersama tim dokter rumah sakit yang terdiri dari beberapa orang itu masuk ke ruangan perawatan Aditya yang disana ada banyak orang namun hening, para penghuninya sedang merenungi perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Silahkan di periksa terlebih dahulu, Dok. Jika keadaannya sudah memungkinkan, saya akan segera memindahkannya ke rumah sakit yang ada di kota dekat tempat tinggal kami. Disini terlalu jauh untuk keluarga kami jika ingin menjenguknya, " tutur papi Wijaya.


Kedua bola mata Aditya membola efek terkejut mendengar penuturan dari ayahnya. Dia masih ingin berada di rumah sakit itu dengan harapan besar bisa kembali bertemu dengan Kavita, si wanita pujaan yang bisa membuatnya bertindak nekat sampai-sampai dirinya mengalami kecelakaan itu.


Tapi bagaimana ia bisa mengungkapkannya kepada sang ayah, dan dengan alasan apa? Tidak mungkin ia dengan jujur mengatakan jika ingin bertemu dengan Kavita yang masih merupakan menantu dalam keluarganya dan menjadi bahan pencarian mereka, itu sama saja dengan dirinya menyerahkan Kavita kepada keluarganya.


Ia benar-benar tak ingin hal itu terjadi. Yang ia inginkan justru sebaliknya, yakni dapat menolong Kavita dan membawa wanita itu pergi sejauh mungkin sari keluarganya dan membangun sebuah kehidupan yang bahagia kembali bersama dengannya. Sungguh impian yang mulia, Aditya.

__ADS_1


__ADS_2