Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Identitas Rahasia Aditya


__ADS_3

Nama Aditya saputra Wijaya disematkan pada Aditya karena hal itu adalah sebuah penyamaran agar tak ada orang yang curiga jika Aditya bukanlah anak kandung dari tuan Wijaya. Meski dari segi wajah Adrian dan Aditya sangat lah jauh berbeda, Adrian yang berwajah tegas dan sangat dewasa seperti orang eropa, sedangkan Aditya lebih seperti orang Korea, tampan imut dan menggemaskan. Tapi dengan nama mereka yang sama, jadi semua orang tetap akan berfikiran jika Aditya memanglah adik kandung dari Adrian dan anak dari tuan Wijaya.


Nama asli Aditya adalah Aldito Alberto Arkenzio sebagaimana nama asli ayah kandungnya yang bernama Alberto Arkenzio. Seseorang penting yang terpaksa harus menyamar dan menyembunyikan diri dari dunia karena suatu hal. Sehingga harus terpaksa juga menukar putranya dengan putri shabat nya demi keamanan mereka semua.


Aditya saat ini sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat yang akan membuatnya bertemu dengan seseorang yang sudah sangat dirindukannya. Senyumnya terkembang seiring dengan fikirannya yang sudah melanglang buana terlebih dahulu.


Dengan semangat 45 Aditya melangkah keluar dari kamarnya setelah menyambar jaket dan kunci motor miliknya.


"Mau kemana, Dit? " tanya Mami Shinta begitu Aditya sampai di lantai bawah.


"Emm.. ada urusan diluar, Mi. Mungkin butuh waktu beberapa hari atau beberapa minggu sampai urusannya selesai, " jawab Aditya yang sudah menggendong ransel di pundak.


Mami Shinta mengerutkan kening, "emangnya kemana? Kok lama banget sampe berminggu-minggu? "


"Ya ada lah.. ntar Adit kabarin kalo udah sampe, " Aditya menyalami Mami Shinta dan mencium pipi kanan kiri serta kening sang bunda sebagai salam perpisahan.


"Udah mau mulai rahasia-rahasiaan nih sama Mami? " ucap Mami Shinta yang kemudian mencebikkan bibir merajuk.


Aditya memeluk ibunya yang memasang mode ngambeg tersebut, "jangan ngambeg dong, Mih. Adit cuma mau jalan-jalan aja keliling Indo sebel balik lagi ke Luar, " ujar lelaki itu merayu ibunya.


"Yaudah.. tapi janji ya, kalau udah sampe kabarin Mami, dan terus kasih kabar ke Mami pokoknya.. oke? " ucap Mami Shinta memberi syarat.


"Siap Mami... " jawab Aditya menghormat.


Usai acara berpamitan dan rayu merayu, Aditya pun bergegas keluar rumah dan menuju garasi untuk mengambil motor besar miliknya yang terparkir disana.


Baru saja ia menstarter motornya, ia melihat kelebat mobil Adrian yang datang dan terparkir di halaman rumah tersebut.


Aditya mengerutkan keningnya melihat sang kakak yang keluar dari mobil yang pintunya di bukakan oleh supir. Keadaan Adrian sungguh berantakan, wajahnya yang kucel dan kusut bagaikan pakaian tak disetrika, matanya menghitam bak mata panda, kalau panda sih comel ya, tapi berhubung itu Adrian jadinya ya serem kek zombie.


Tubuhnya yang sedikit lebih kurus dari sebelumnya berjalan lunglai seperti tak memiliki tulang belulang. Belum lagi lelaki itu hanya mengenakan kaos polos berlengan pendek serta celana training panjan dan berkendala jepit. Sungguh, itu bukan seperti Adrian yang biasanya.


Andai saja Adrian hanya berjalan kaki, mungkin orang-orang akan mengiranya sebagai gelandangan baru. Untung saja dia kemana-mana masih diantar supir dan dikawal oleh bodyguard.


Dalam hati Aditya tertawa miris, "Kasihan juga sih ngelihat keadaan Bang Adrian kayak gitu sekarang, gak keurus sama sekali. Tapi kalau inget Kavita yang mungkin juga menderita karena ulah orang itu, sepertinya hal itu belumlah sepadan, " Aditya hanya menghela nafas dan mulai menjalankan motornya.


Pemuda itu mengabaikan keadaan sang kakak yang sudah seperti mayat hidup. Kini pikirannya sudah kembali dipenuhin oleh seorang wanita cantik yang memiliki postur tubuh semampai bak bintang model, dengan rambut berwarna hitam nan panjang yang sering tergerai tengah tertawa dengan merdunya.


Tanpa Aditya sadari, pergerakannya itu diamati oleh salah seorang bodyguard Adrian. Si wakil ketua para bodyguard itu menyipitkan mata memindai penampilan adik dari bosnya. Aditya tampak rapih dengan celana panjang dan jaket berwarna serba hitam serta sepatu boots berwarna coklat tua. Tak lupa sebuah ransel berukuran lumayan besar bertengger di punggungnya, juga helm full face yang pemuda itu kenakan. Semua itu tak luput dari penilaian Bimo yang sering dipanggil Bimbim, si bodyguard.


"Mau kemana itu Den Aditya? Kayak mau pergi jauh dan lama, pakai bawa ransel segala, " gumam Bimbim yang terdengar oleh teman di sampingnya.


"Ah, kata siapa pakai ransel kayak gitu harus pergi jauh dan lama? Tuh, si Pino.. kemana-mana pakai ransel terus dia meskipun pergi nggak nginep, " tunjuk teman Bimbim pada bodyguard lain yang bertubuh tambun dan sedang asyik memakan roti.


Bimbim mendelik pada temannya setelah ia menoleh pada orang yang ditunjuk tadi, "itu si Pino bawa bekel karena dia terus kelaperan, jangan samain ma Den Ditya yang badannya bagus begitu, nggak mungkin dia tukang makan juga, dan tas nya itu isinya makanan, " ujar Bimbim kesal.


"Ya siapa tau aja 'kan, orang ganteng dan keren juga doyan makan. 'Kan mereka juga manusia biasa, " balas temannya tak mau kalah.


"Tapi itu nggak mungkin, menurut feeling gue nih ya, Den Aditya pasti lagi menjalankan misi sama seperti kita, " ucap Bimbim dengan yakinnya.

__ADS_1


"Sok tau lu, "


"Emang gue tau.. wlee.. "


"Yah.. dia pakai wlee kek bocil, "


"Biarin, "


"Ehm... " suara deheman menghentikan aksi konyol dia orang bodyguard yang sedang gabut itu.


"Ya, Tuan.. " ucap Bimbim sigap yang langsung berlari mendekat ke arah tuan mereka.


"Suruh beberapa anak buah kamu untuk menjaga adikku itu, Mami khawatir banget sama dia, " ucap Adrian memberi perintah.


"Mengikuti Den Aditya, Tuan? " tanya Bimbim memastikan.


Adrian mengangguk, "tapi jangan sampai Aditya tau kalau dia sedang dikawal, karena dia tidak suka mendapatkan pengawalan, " ujar Adrian lagi memperingatkan.


"Baik, Tuan, " Bimbim mengangguk mengerti, ia pun berbalik lalu memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengawal Aditya kemanapun lelaki itu pergi.


"Tomi.. Toni.. " panggil Bimbim pada dua orang anak buahnya.


"Ya, Bos wakil? " kedua orang itu berdiri dengan siap di hadapan Bimbim.


"Kalian dapat tugas khusus dari Tuan Adrian, "


"Mengawal adiknya Tuan Adrian, yaitu Den Aditya, "


"Siap, Bos... "


"Tapi... "


Kedua orang itu sudah berbalik, mendengar kata tapi, mereka kembali berbalik pada Bimbim lagi.


"Ya, Bos wakil? "


"Tapi jangan sampai Den Aditya tau kalau dia sedang dikawal, karena dia tidak suka dikawa. Jadi kalian tau apa yang harus dilakukan? " tanya Bimbim seraya menaikkan sebelah alisnya.


Kedua bodyguard itu saling pandang, "kita harus mengawalnya secara sembunyi-sembunyi, Bos? "


"Nah, pintar.. kalian harus sembunyi-sembunyi, dan laporkan apa saja kegiatan Den Aditya pada saya, biar saya lapor pada Tuan Adrian. Mengerti?"


"Mengerti, Bos wakil..


" Kita udah boleh pergi, Bos? "


"Yaudah pergi sono! Ntar keburu hilang jejak Den Aditya nya, "


"Siap, Bos. Permisi.. " kedua orang itu berjalan ke arah mobil, tapi semenit kemudian mereka berbalik lagi.

__ADS_1


"Ada apa lagi sih? "


"Kita pakai kendaraan apa, Bos? "


Bimbim menepuk jidatnya, "iya juga.. lupa gue, " Bimbim meminta kunci mobil yang paling kecil pada salah satu anak buahnya yang lain.


"Nih.. pakai mobil warna pink itu! " titah Bimbim.


"Link, Bos? " Bimbim memgngguk mantap.


"Mana ada bodyguard se keren kita pakai mobil pink, Bos, "


"Sejak kapan kalian keren? Justru itu mbuat penyamaran kalian akan sempurna, "


"Yaudah deh, " Tomi dan Toni berlalu dengan lesu menuju mobil mungil berwarna soft pink yang terparkir di paling ujung.


"Lu aja yang nyetir, Tom! " Toni melemparkan kunci yang ia bawa pada Tomi.


"Enak aja gue, lo aja duluan yang nyetir. Ntar gantian, " perdebatan Tomi dan Toni masih menjadi perhatian Bimbim, bahkan Adrian mulai terganggu dengan suara perdebatan kedua orang itu.


"Ehm... "


Tomi dan Toni menoleh dan mendapati Adrian sudah berada di belakang mereka dengan tangan bersedekap.


"Eh, Tuan... " ucap keduanya dengan cengengesan.


Adrian menatap kedua orang itu dengan datar, "masih niat kerja nggak? "


"Siap, Tuan.. "


"Niat, Tuan.. "


"Kami permisi, Tuan, " Tomi dan Toni mengangguk dan ngacir masuk ke dalam mobil.


Adrian mendengus menatap kepergian dua orang anak buahnya itu, lalu wajahnya kembali lesu.


Sementara di jalan raya...


"Kita harus nyari Den Aditya kemana, Tom? " tanya Toni yang lebih dulu mendapat jatah menyetir mobil.


"Ya cari sajalah sampai dapat, daripada dipecat sama Tuan Adrian dan jadi pengangguran, " jawab Tomi yang membayangkan nasib istri dan anaknya di kampung halaman.


Aditya yang ternyata belum jauh dari rumahnya karena mampir terlebih dahulu di lom bensin, jadi tau jika dirinya ternyata diikuti.


Lelaki itu menghela nafas, "bisa kacau semua rencanaku kalau aku diikuti, "


🔥🔥🔥


Akalin, Dit.. Akalin...

__ADS_1


__ADS_2