
Papa Indrawan dan mama Indri hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah para anak muda di hadapan mereka itu, sudah lama mereka tak menyaksikannya secara langsung. Hati keduanya menghangat, tak ingin kebahagiaan itu sirna begitu saja. Maka tekad dalam hati keduanya, akan melindungi keluarga mereka itu dengan segenap jiwa dan raga mereka. Terutama dari serangan keluarga Wijaya nanti jika sudah mendapatkan surat dari pengadilan agama perihal gugatan perceraian Kavita dan Adrian.
"Wijaya pasti tidak akan tinggal diam, Mah. Jika sampai tau gugatan yang Mama ajukan itu, setaunya juga pasti Kavita yang ngajuin kan, " ucap papa Indra pada istrinya. Para anak muda tadi kini sedang berada diluar sana.
"Ya, Mama tau. Maka dari itu Mama sudah mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Jangan Papa kira Mama ini asal-asalan aja ya. Mama tuh sudah memperhitungkan semuanya. Tapi satu tekad Mama, kebahagiaan Kavita dan cucu kita yang utama, " jawab mama Indri.
"Iya, Ma. Papa tau, itu juga yang Papa fikirkan. Cukup sudah kesedihan Kavita bersama dengan laki-laki yang ternyata tidak pernah mencintainya itu, " papa Indrawan pasti selalu menundukkan kepala jika ingat tentang betapa semangatnya ia waktu dulu akan menjodohkan Kavita dengan anak ko sahabat lamanya, yang rupanya hanya akan berakhir seperti sekarang ini.
"Bukan hanya itu aja, Pah, masalahnya. Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh sahabatmu itu, dan semua hal itu jelas merugikan kita, terutama Kavita sebagai orang yang menjalaninya. Mulai dari orang ketiga, dan masih banyak lagi yang belum terungkap, Mama juga belum tau secara jelas, " itu semua hanya bisa terucap di dalam hati Mama Indri saja, sebab ia tak ingin suaminya kembali kepikiran dan akan membuat jantungnya kembali kambuh nanti jika ia mengatakannya secara langsung padanya. Biarlah dirinya dan Vero saja yang menangani masalah Kavita. Begitu tekadnya.
"Semua ini salah Papa, Ma. Andai aja dulu Papa nggak tergiur sama semua tawaran Wijaya, pasti nggak akan begini akhirnya. Papa seperti seorang ayah yang menukarkan kebahagiaan anaknya untuk aset perusahaan, " ucap Papa Indrawan lemah.
"Hush! Papa nggak boleh ngomong kayak gitu! Mama tau maksud Papa sangat baik dengan menikahkan Kavita dengan anak sahabat Papa yang memang selama ini baik sama Papa kan. Tapi masalah hati mungkin memang nggak bisa dipaksakan, " mama Indri mengelus punggung Papa Indra untuk menenangkan lelakinya itu.
"Iya, Mah... Papa bodoh, Papa udah terpedaya dengan bujuk rayunya, "
"Sudahlah, Pa, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang waktunya kita memperbaiki semuanya yang sudah terlanjur terjadi. Kita harus semangat menatap masa depan, demi anak-anak dan cucu kita, "
Papa Indra tersenyum dan mengangguk, "makasih ya, Mah. Mama sudha sangat perhatian sama Papa, dan juga tetap setia sama Papa selama ini, bahkan saat Papa melakukan kesalahan, saat Papa sakit. Mama selalu setia disamping Papa, "
"Sama-sama, Pah, " pelukan Mama Indri berikan kepada sang suami tercinta.
"Ekhem..." suara seseorang senagha berdehem di belakang mereka. "Aelah, di luar Bang Valdi sama Kak Vita romantis-romantisan, di dalem Mama sama Papa mesra-mesraan. Apalah dayaku yang jomblo ini, Ya Tuhan, " ucap Vero memelas.
Papa Indra dan Mama Indri terkekeh dibuatnya.
"Udah sih, Ver. Nggak usah lebay gitu kenapa. Belum waktunya buat kamu sekarang. Semuanya akan ada waktunya masing-masing, saat ini kan kamu masih harus fokus sama pendidikan kamu dulu. Baru pikirin pasangan kemudian, " nasehat sang ayah.
__ADS_1
"Iya-uya... Papa sama Mama keluar, yuk! Dicariin baby Kava tuh, dia udah bisa ketawa tau, "
"Oh ya? " serasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vero. Kedua paruh baya itu gegas bernajam dari duduk mereka dan berjalan keluar.
Pemandangan mengharukan kembali mereka dapatkan dari dua sejoli yang bukan pasangan di hadapan mereka.
"Andai mereka pasangan, pasti harmonis sekali. Itu, sekarang aja mereka kompak banget kayak gitu, kan? "
"Hooh, "
"Kalian juga sepemikiran ternyata sama Vero, " Vero menyela di antara kedua orangtuanya dan merangkul keduanya.
Senyum penuh arti pemuda itu tampakkan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri dimana kedua orangtuanya masih ada dalam rangkulannya.
"Maksud kamu, Ver?"
"Kasian kakak kamu lah, Ver. Hatinya pasti belum baik-baik aja saat ini, "
"Maka dari itu, Mah. Biar Kak Vita cepet move on. Nggak ada gunanya kan, lama-lama sakit hati sama lelaki yang bahkan nggak punya hati itu, "
"Mangnya kakak kamu mau? "
"Dokter Valdi juga memangnya nggak keberatan? "
"Ya... Mama sama Papa liat aja sendiri! Lalu simpulkan, tentang apa yang menjadi pengamatan Mama dan Papa itu, "
Di depan sana, tepatnya di kursi taman halaman depan rumah yang asri dan berusaha segar pagi itu.
__ADS_1
"Anak Ayah pinter ya... udah bisa cenyum-cenyum dan ketawa sekarang," ucap Valdi menggoda baby Kava yang sudah dianggapnga anak sendiri itu.
"Anak ayah, anak ayah. Anak Bunda kalo pinter gini! " sembur Kavita sewot.
"Terus kalo pas nggak kayak gini baru anak Ayah gitu? " sungut Valdi turut tak terima.
"Enak aja! Anak Bunda mah pinter terus ya, Nak, ya... "
Baby Kava hanya bisa tersenyum melihat perdebatan kedua orang di hadapannya itu.
"Ish... maruk juga Bunda ini. Orang baby Kava nya aja nggak keberatan kok, kenapa Bunda yang sewot ya, Dek, ya, "
"Hiih... Valdi! " seru Kavita jengkel.
"Ayah, Bunda... " balas Valdi lembut. Tatapannya tak lepas dari bayi mungil yang berada di dalam stroller.
Berbeda dengan keadaan di villa keluarga Valdi, di istana megah milik Adrian kembali terjadi kegemparan.
"Apa-apa ini...! " teriak papi Wijaya menggema.
"Adrian...! " teriaknya lagi.
Adrian yang baru saja tersadar dari pingsan nya masih memijat pelipisnya, kepalanya masih terasa pening, namun sudah ada suara yang meneriakkan namanya dari bawah sana.
"Adrian...! " lagi, kini suara ibunya yang melengking dari arah kamar tamu.
"Pertunjukan segera dimulai... "gumam Aditya dari belakang ibunya.
__ADS_1