
Kavita berjalan-jalan pagi masih dengan duduk di atas kursi rodanya, tentu saja ia ditemani oleh dokter kesayangan, yaitu Valdi. Kecanggungan yang terjadi antara keduanya seakan telah melebur begitu saja seiring mereka terlelap ke alam mimpi mereka semalam.
"Di... " panggil Vita pada Valdi yang sudah mulai terbiasa hanya memanggilnya dengan nama saja.
"Ya, Vit?" jawab Valdi seraya membungkukkan badannya dan mendekatkan kepalanya pada kepala Kavita.
"Hmm... menurut lo, siapa nama yang cocok buat baby gue? " tanya wanita itu.
Setelah menimbang-nimbang dan memikirkannya semalaman, ternyata Kavita belum juga dapat menemukan sebuah nama yang menurutnya pas dan cocok untuk sang anak. Makanya ia lebih memilih untuk meminta pendapat dari Valdi yang merupakan dokternya dan lelaki itu sudah begitu berjasa bagi dirinya juga bayinya.
Valdi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kavita, ia tak menyangka jika pasien kesayangan nya itu akan menanyakan hal sepenting itu padanya. Sebuah nama adalah hal yang sangat penting baginya, karena merupakan sesuatu yang akan terus tersemat pada seseorang sejak bayi hingga akhir hayat nya nanti.
Dan juga sebuah nama adalah merupakan sebuah doa dari orang tua terhadap anaknya, sedangkan dirinya bukanlah orang tua dari bayi tersebut, tetapi ia merasa sangat bahagia sekarang karena dengan menanyakan nama bagi anaknya, hal tersebut berati jika Kavita juga menganggap nya sebagai orang penting bagi dirinya dan sang anak. Itu hasil pemikiran Valdi ya, tak tau kalau Kavita sendiri.
"Lo mau baby pakai nama inisial awal apa? A atau Kayu kayak lo? "
"K aja.. no A, " tolak Kavita degan cepat dan tegas. Bahkan tanpa harus berfikir terlebih dahulu ia sudah dengan jelas-jelas menolak nama yang berawalan sama dengan ayah dari bayinya, Adrian. Apalagi sampai harus memakai nama belakang dari keluarga besar dari Adrian, Kavita pasti tidak akan mau.
"Oke, nama lo Kavita, nama uncle nya Kavero... berarti namanya, Ka-... "
"Kavino? Kavish? Atau Kaav ajah?" sahut Kavita penuh semangat.
Valdi terkekeh melihat semangat dari ibu muda itu, "coba lo lebih suka yang mana? " tanyanya kemudian.
"Kavino bagus ... malah hampir mirip sama aku, biar orang-orang gampang ngenalin dia sebagai anak dari Kavita, " ucap Kavita.
__ADS_1
Valdi mengangkat kedua alisnya seraya menggut-manggut, tetatpi tak berucap apapun.
"Menurut lo gimana, Di? " tanya Kavita yang merasa tak mendapatkan komentar dari Valdi.
"Menurut gue sih bagus. Apa aja yang menurut lo bagus dan cocok dengan keinginan lo, gue dukung aja, " jawab Valdi bijak. Ia ingin agar Kavita selalu merasa jika memang dirinyalah yang paling berhak atas bayi nya itu.
"Oke, makasih Valdi. Ntar gue tinggal ngomong aja sama papa, mama dan Vero berarti, " ujar Vita yang membuat Valdi lumayan terkejut.
"Lo belum ngasih tau atau minta pendapat sama mama papa lo? " seru Valdi bertanya dengan melangkah cepat ke depan kursi roda Kavita dan berjongkok di hadapan wanita itu.
Vita yang merasa kursi rodanya berhenti mendadak pun langsung menatap Valdi heran, lalu ia menggeleng menjawab pertanyaan dari Valdi tadi.
"Ya, belom. Gue baru nanya sama lo doang, itu pun gara-gara kemarin lo yang nanyain, kalau enggak, mana gue kepikiran. Emangnya kenapa?" jawab sekaligus tanya Kavita.
Valdi menggeleng, "enggak papa, " jawabnya dengan senyum merekah di bibirnya.
"Nggak papa. Sarapan yuk! Gue traktir deh, " ucap Valdi bersemangat, ia beranjak dari hadapan Vita dan kembali ke belakang wanita itu untuk mendorong kursi roda Kavita lagi menuju kantin rumah sakit.
Kedua orang tersebut masih terus mengobrol dan berbagi tawa di sepanjang perjalanan ke kantin yang ada di dekat taman sebelah pintu masuk rumah sakit. Dan disaat itulah ada serombongan mobil hitam yang berjumlah belasan masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Salah satu mobil itu adalah yang di tumpangi oleh Adrian.
Lelaki itu yang sejak di perjalanan terus saja memandangi layar ponselnya, tiba-tiba mengangkat kepala dan melihat sekelebat bayangan wanita yang tengah tertawa. Seorang wanita yang memiliki tawa dan paras yang sangat mirip dengan seseorang yang ada di dalam pelukannya dalam foto yang semula tadi ia tatap.
"Kavita? Benarkah itu kamu? " Adrian mengucek-ngucek kedua matanya dan menajamkan penglihatannya, namun kondisi mobil yang ia naiki terus berjalan dan wanita itu juga terus berjalan pun membuatnya kehilangan kelewat wanita itu saat kembali membuka mata.
"Ah, mana mungkin itu Kavita. Aku pasti berhalusinasi karena sedaritadi hanya terus memandangi fotonya, dan berharap ia muncul di hadapanku," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Kapan aku akan bisa benar-benar bertemu denganmu, Vita? " tanyanya pada diri sendiri.
Adrian seperti sudah tak lagi memiliki harapan untuk dapat menemukan wanita yang ternyata secara diam-diam sudah mengikat hatinya tanpa ia sadari. Meski ia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya dan juga pihak kepolisian, tapi keberadaan wanita itu bagaikan hilang ditelan alam sehingga sangat mustahil untuk dapat ia temukan.
Tak seperti pencarian nya terhadap sang adik yang meski beberapa pihak menyatakan jika kemungkinan adiknya itu tak dapat selamat dari kecelakaan yang menimpanya, hingga terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Tetapi nyatanya pihak kepolisian masih tetap dapat melacak keberadaan Aditya di rumah sakit yang saat ini sedang ia kunjungi tersebut.
"Baiklah ... kali ini aku akan berusaha untuk fokus dulu pada pencarian Aditya, semoga saja bocah itu benar-benar masih hidup dan ada di rumah sakit ini agar mami berhenti menagis. Kalau tidak... hah! Bisa pecah kepalaku lama-lama, " pikirnya.
Memikirkan kehilangan istri dan anaknya saja sudah membuatnya setengah gila dan menjadi orang yang suka mabuk-mabukan, kini malah ditambah dengan menghilangnya sang adik yang membuat kedua orang tuanya selalu bersedih sepanjang hari. Hal itu membuat dirinya semakin yak ingin terbangun dan tersadar dari mabuknya, supaya bisa berhenti memikirkan semua hal itu.
"Kita sudah sampai, Tuan, " ucap Beno yang duduk di bangku depan di sebelah bodyguard yang menyetir.
"Baiklah, langsung saja ke ruangan Aditya. Kau sudah mengurusnya 'kan? "
Beno mengangguk, "sudah, Tuan, "
"Hmm, "
Pintu samping Adrian terbuka, laki-laki itu mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi kedua matanya yang masih tampak merah dan turun dari mobil. Ia merapikan jas yang di kenakannya, lalu berjalan dengan langkah panjang masuk ke rumah sakit dengan diiringi oleh para pengawal disekitarnya.
Meskipun wajahnya yang kusut itu ia paksa untuk tampil segar, tapi penampilannya tetap tak boleh terlihat kusut di depan banyak orang untuk menjaga wibawa dan kehormatannya sebagai pemimpin sebuah perusahaan ternama.
Rombongan pria berpakaian hitam dan rapih itu menyita perhatian semua orang yang ada disana, betapa tidak, sebuah rumah sakit kecil yang berada di pinggiran kota tiba-tiba saja di datangi oleh segerombolan orang yang terlihat seperti orang kalangan atas, membuat semua orang bertanya-tanya, siapa mereka, dan untuk apa mereka semua kesana.
Apalagi Aditya yang tak kalah terkejut nya begitu pintu ruangannya yang mendadak terbuka dan masuk seseorang yang sangat ia kenali, bahkan sosom itu diikuti serombongan pria berbadan tegap dan berseragam jas serba hitam. Jangan lupakan pula beberapa orang daie pihak kepolisian ayng turut menyertainya.
__ADS_1
Aditya menelan ludah kasar, "B-bang? "