Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Keluarga Bahagia?


__ADS_3

Diva langsung masuak ke ruangan UGD begitu dokter Ilham mempersilahkan dirinya. Ia berdiri tepat di samping Aditya yang tengah kebingungan mencari barang-barang bawaannya.


"Gimana keadaan lo?" Tanya Diva pada Aditya begitu sampai di hadapan laki-laki itu.


" Baik. Makasih udah mau nolongin gue, " balas Aditya.


"Hmm, nggak masalah. Semua itu hanya sebagai rasa kemanusiaan aja, " balas Nadiva.


"Tetap aja gue harus makasih sama lo. Kalo lo nggak nolongin gue mungkin gue belum tentu baik-baik aja kayak sekarang," ucap Aditya melihat pada dirinya sendiri. "Oh iya, lo liat tas selempang sama ransel gue nggak? "


Nadiva mengendikkan kedua bahunya, "mana gue tau. Gue sih yang penting nolongin lo'nya aja, takutnya keburu mati, "


"Kasar juga ucapan lo, " guman Aditya mencebikkan bibirnya.


"Emang apa alasannya buat gue harus lembut sama lo?! Palingan juga lo itu samala kayak abang lo yang brngsek itu, jadi nggak ada untungnya gue baik-baikin," ujar Diva yang membuat Aditya menghela nafas dalam.


"Plis ya... Gue nggak ada sangkut pautnya sama dia sama sekali. Jadi tolong jangan bahas dia juga di hadapan gue, " ucap Aditya pula dengan kesal. Lagi-lagi ia harus terkena imbas akibat perbuatan dan perlakuan buruk dari kakaknya, padahal ia tak tau sama sekali apa yang sudah lelaki itu lakukan. Karena selama ini Aditya berada di luar negeri.


"Ya sorry deh kalo gue salah... abis gue benci banget sama abang lo itu, "


"Sama, " sahut Aditya dengan cepat.


Diva menaikkan kedua alisnya, "maksud lo? "


"Nggak ada, " Aditya menggerakkan kakinya, ia ingin turun dari ranjang dan mencari keberadaan tas nya karena ia memerlukan sesuatu dari barang-barangnya tersebut.


"Aooww... " teriak Aditya secara otomatis karena merasakan kaki kanannya yang baru saja selesai di obati oleh dokter Ilham tadi terasa amat sakit saat ia coba untuk menurunkannya dari ranjang.


Diva ikut meringis melihat ekspresi Aditya, "heh! Lo itu perasaan orang pinter deh, tapi ternyata ada bodohnya juga. Udah tau tuh kaki baru aja selesai di obatin dan perban nya juga masih basah, udah mau lo pakek jalan aja. Emang seperman lo?! "


"Lupa gue. Abisnya lo juga nggak tau tas gue dimana, padahal itu isinya barang-barang penting semua, " jawab Aditya membalas ucapan Nadiva yang terdengar mengomelinya.


"Ya sorry.. orang gue nggak kepikiran sama ransel lo. Tapi kalo tas selempang sih kayaknya tadi masih lo pakek deh pas masuk ke sini, coba aja tanya ma suster, "


Aditya melongok pada suster yang hampir selesai beberes, "Sus... " panggilnya.


"Ya... ada yang bisa saya bantu? " suster Dina meletakkan wadah stainless yang semula dibawanya dan berjalan mendekat ke arah Aditya.

__ADS_1


"Emm... apa suster tadi liat tas saya yang saya bawa pas masuk kesini? "


Suster Dina mengerutkan keningnya, wanita itu tampak mengingat-ingat sesuatu, "sepertinya ada, sebentar... " suster wanita itu berjalan menghampiri temannya yang sejak tadi bekerja bersama dengannya menjadi asisten dokter Ilham saat menangani Aditya.


Suster itu tampak berbicara dan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kembali mendekat kearah Aditya.


Ternyata suster Dina bukan langsung mendekati Aditya melainkan berjalan ka arah belakang Aditya dimana ada sebuah meja kecil disana.


Baju basah, tas, celana serta sepatu yang tadi dipakai oleh Aditya semuanya ada di atas meja tersebut. Lelaki itu dipakaikan pakaian rumah sakit oleh seorang perawat laki-laki yang tugasnya seperti itu, ia selalu setia dibelakang dokter Ilham saat dokter itu mau menangani seorang pasien.


"Mungkin ini tas yang Anda maksud? " tanya suster Dina seraya menyodorkan sebuah tas berukuran kecil kepada Aditya yang segera diangguki oleh pemuda itu.


"Makasih, Sus, " ucap Aditya yang diangguki oleh Dina.


"Seneng banget tasnya ketemu, apaan sih isinya?" Diva bertanya dengan kepala yang sudah melongok akan mengintip ke dalam tas Aditya yang sedang dibuka.


"Kepo deh lo... " Aditya menjauhkan tas tersebut dari pandangan Diva.


"Ish... pelit li! Yaudah gue mau pergi, tadinya gue mau ngecek keadaan lo doang. Tapi ternyata lo udah baik-baik aja dan sepertinya bisa ngurusin diri lo sendiri, " ujar Diva berpamitan.


"Nggak. Oh iya satu lagi, lo bisa 'kan urus sisa administrasi lo sendiri? Soalnya gue yakin sih, lo itu lebih kaya dari gue, "


"Oke, pokoknya thank ya udah mau bantuin gue. Soal itu biar gue urus, bisa minta tolong sama suster atau dokter juga. Gampang lah... "


Nadiva manggut-manggut, "yaudah, gue balik. Semoga cepet sembuh. Bye..." pamitnya singkat lalu benar-benar pergi dari sana.


Setelah kepergian Nadiva dan kedua suster tadi, Aditya langsung memeriksa keadaan ponselnya, ia merasa lega karena barang tersebut masih hidup, hanya saja sudah khabisan daya.


"Yah.. mati lagi. Gimana gue mau ngecharge coba, mana nggak ada kursi roda. Tuh dua suster kemana ya? Kok gue ditinggalin sendirian disini sih... " gumam Aditya seraya memindai sekeliling ruangan yang senyap itu.


Tiba-tiba perasaannya merasa dingin dan tak nyaman, "huh... apa-apa nih, " gumamnya lagi dengan bulu kuduk bergidik.


"Tuhan... tolong... jangan tempatkan saya di posisi seperti ini, " disaat begitu saja Aditya baru teringat pada Tuhan. Kemana saja ia selama ini.


Diluar sana Nadiva berjalan cepat, ia berharap Aditya tak akan memanggilnya lagi, apalagi bertanya hala-hal yang menyangkut tentang Kavita. Ia tak ingin telalu banyak berbohong yang pada akhirnya hanya akan membuatnya ketahuan dan merasa malu sendiri.


Diva menuju ruang perawatan Kavita, tapi ternyata ruangan itu kosong. Lalu ia berinisiatif mengecek di ruangan bayi Kavita, ternyata sesampainya di ruangan tersebut ia melihat Kavero yang sedang berdiri mematung di depan pintu.

__ADS_1


Gadis itu berjalan mendekat dan berdiri di samping Kavero yang pandangan matanya menatap lurus ke arah dalam, ia pun turut melihat pada arah pandang Kavero.


Disana terlihat ada Para dokter dan suster yang tengah menunggui Kavita yang sedang memangku sesosok bayi mungil. Lalu tampak dokter Valdi hendak mengambil bayi tersebut tapi Kavita menahannya.


Entah apa yang lelaki muda disamping Nadiva itu pikirkan, hingga matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan di dalam sana.


"Vero... you ok? " tanya Diva.


Pemuda itu mengangguk samar, ia tampak memaksakan senyumnya, "lo liat itu, Kak? "


"Apa? " tanya Diva lagi tak mengerti yang dimaksud oleh Vero.


"Gimana sikap Bang Valdi ke Kak Vita menurut lo?"


"Hmm.. baik, "


"Apa menurut lo dia itu tulus? " Vero kembali bertanya dengan tatapan yang masih fokus pada objek yang ada di dalam sana.


Diva mengendikkan kedua bahunya, "entahlah... tapi dari yang gue lihat selama gue kenal dia, kayaknya Valdi itu tulus sama kakak lo. Buktinya dia mau dengan telaten ngurusin kakak lo dan bayinya dari semenjak Vita koma dan bayinya yang harus mendapatkan perawatan intensif, sampe keadaan mereka udah membaik seperti sekarang, " nilai Diva panjang lebar terhadap Valdi.


Vero menghela nafas dalam, "gue harap kalau emang Kak Vita masih mau membuka hati lagi buat cowok, Kak Vita bisa ngebuka hatinya buat lelaki yang mang benar-benar baik dan tulus seperti dokter Valdi, yang menyanyinya tanpa pamrih. Apalagi yang hanya memanfaatkan nya untuk mengambil anaknya aja, jangan sampe hal kayak gitu terjadi lagi, "


Jika teringat masa-masa suram Kavita dengan suaminya dulu, membuat darah Kavero terasa mendidih seketika. Rasa marah dan denda belum juga surut dari hatinya terhadap lelaki yang sudah menghancurkan hidup kakaknya tersebut.


Kalau bukan karena larangan dari orangtuanya, ia pasti sudah menghajar laki-laki itu habis-habisan, tanpa memperdulikan dirinya yang nantinya akan di penjara ataupun ikut mati konyol karena dihajar oleh para bodyguard Adrian.


"Nggak akan, Ver. Kita sama-sama akan maju di paling depan kalau sampai ada yang mau nyakitin Vita lagi. Terutama laki-laki itu. Jangan sampai dia menemukan keberadaan Vita, dan akan kembali menyakiti hatinya, "


"Ya, gue nggak akan pernah ngebiarin hal itu terjadi, "


"Mereka bertiga udah kayak keluarga bahagia ya, Ver, " ucap Diva dengan tersenyum hangat menyaksikan dokter Valdi yang menatap lekat Kavita.


🔥🔥🔥


Hmm... damai nyee.. Melihat dokter Valdi sama Kavita tu..


Tapi, tapi... Aditya pun dah datang, apa yang akan dia lakukan selanjutnya ya..

__ADS_1


__ADS_2