Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Memberikan Apa?


__ADS_3

Segera Vita menuju kamarnya dan menutup pintu nya dngan keras begitu sampai di dalamnya. Ia bersandar pada pintu kamar dan memegang dadanya yang terasa berdebar.


"Gila! Apa-apa itu tadi. Huh!" gerutu Kavita ketika berada di dalam kamarnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berulang, mencoba menghapus bayangan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan dokter Valdi.


"Sadar, Vit. Sadar! Tetap waras, okey! " Vita menepuk-nepuk kepala dan pipinya pelan berkali-kali. Rasanya benar-benar aneh saat dia di posisi seperti tadi itu, dan juga kata-kata Valdi yang mungkin ia meyakinkan diri jika Valdi hanyalah bercanda atau salah bicara. Namun, tetap saja terfikir kan olehnya.


Vita menghembuskan nafas kasar, "lebih baik aku mandi biar lebih fresh. Mungkin ini efek dari terlalu lelah dan gerah, makanya tubuhku seperti ini, "


Wanita itu menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri, dengan harapan seusai dari sana, maka ia akan terlupa dengan kejadian memalukan yang tak sengaja tadi antara dirinya dan Valdi.


Sementara Valdi masih berada di taman tadi, Vero membantunya untuk bangkit dan kembali duduk di kursi taman dengan benar. Mama Indri yang masih sedikit syok dengan apa yang baru saja disaksikan olehnya tadi duduk di samping Valdi. Ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara putihnya dengan lelaki itu.


"Ada apa, Valdi? Kenapa kamu sama Kavita tadi seperti... "


Valdi masih mematung di tempat duduknya sambil memegangi dadanya, ia takut jika jantungnya terlepas dari sana saking kencangnya berdetak. Pertanyaan mama Indri tadi seolah hanya hembusan angin sepoi-sepoi yang tak terdengar olehnya.


"Valdi... " panggil mama Indri eraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Valdi. Tatapan lelaki itu lurus, tapi ekspresinya wajahnya tersenyum yang bercampur dengan ketegangan.

__ADS_1


"Kayaknya Mama nanya sama Bang Valdi nya ntar aja deh, soalnya kalau sekarang-sekarang ini Bang Valdi nggak bakalan konek, " seakan memahami bagaimana perasaan Valdi, Vero menyahuti pertanyaan mamanya.


"Emang dia kenapa, Ver? "


"Jatuh cinta, Mah. Bucin, "


"Hah? "


"Iya, Tante. Tante kayak nggak pernah muda aja, " ucap Diva turut menyahut.


Mama Indri berdiri dengan kesal, "ya sudahlah terserah kalian aja, Mama mau cek baby Kava, udah bangun apa belum, " kemudian berlalu meninggalkan tiga muda-mudi itu.


"Dasar bucin lu, Bang! Tapi sayangnya lo juga terlalu pengecut. Padahal udah kita bantuin setiap saat biar ada momen berduaan sama Kak Vita. Eh, malah dibuat ngebahas yang nggak penting. Untung aja ada kejadian kek tadi, kan jadi seru," ucap Vero mengolok sekaligus memprotes Valdi.


Valdi jengkel juga mendengar komentar adik dari wanita yang di sukainya tersebut.


Ditoyornya kepala Vero pelan, "komentar lu pinter, bocah. Coba aja lo di posisi gue, udah pasti sama juga ekspresi lo. Atau malah bisa-bisa lebih parah dari gue, " balas Valdi.

__ADS_1


"Enak aja! Gue mah gentel kali, Bang. Nggak mungkin ekspresi gue kayak lo," sangkal Vero membela diri.


"Oke, kita lihat aja besok. Huh! " Valdi kini melipat kedua tangannya.


Kembali terlintas di ingatannya kala bibirnya secara tak sengaja menyentuh bibir mungil Kavita tadi. Di pegangnya bibirnya itu, kemudian senyum kembali terbit di wajahnya.


"Tuh, kan. Mulai nggak beres lagi dia, " tnjuk Vweo yang melihat Valdi tersenyum sendiri.


"Cinta emang buat gila kali, Ver, " Sahut Diva. "Udah ah, biarin aja kayak gitu sesuka hatinya. Kita lanjut beres-beres aja yang perlu kita beresin biar ntar tinggal istirahat dengan tenang, "


"Oke, let's Go! " balas Vero. Sebelum beranjak ia menyempatkan diri untuk menoleh pada Valdi, kedua bahunya terangkat melihat dokter muda yang mungkin akan menjadi calon kakak iparnya tersebut.


"Astaga... " gumam Valdi begitu tersadar dari lamunannya.


Tangannya menyentuh saku jaket bagian dalam, sebuah benda kecil masih aman berada disana.


"Semoga bisa secepatnya aku memberikan ini pada Kavita. Semangat, Valdi. Lo harus lebih berani apapun jawabannya nanti, " ucapnya menyemangati diri sendiri, "

__ADS_1


"Memberikan apa? "


Valdi menoleh ke arah suara, wajahnya terkejut melihat siapa yang bertanya di belakangnya.


__ADS_2