Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kavita? Benarkah Itu Kamu?


__ADS_3

Valdi kembali mengantarkan Kavita ke ruangan perawatannya, agar wanita itu bisa segera beristirahat. Sebelumnya tadi ia sudah memberikan penjelasan panjang lebar pada Kavita mengenai kondisi anaknya dan lain sebagainya.


Sebenarnya ia sangat ingin mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada wanita itu, tapi ia takut jika dinilai terlalu cepat dan terburu-buru yang nantinya hanya akan membuat wanita itu menjauh darinya. Karena walau bagaiamana pun wanita itu masih memiliki rasa trauma akan cinta. Apalagi, Kavita juga belum resmi berpisah dari Adrian.


Kavita hanya terdiam membisu usai diberikan kejutan kecupan oleh dokter Valdi tadi. Sebenarnya ia lumayan terkejut akan hal itu, tapi wanita itu juga tak bisa untuk protes ataupun menghindari nya karena terlalu cepat dan mendadak. Dirinya pun tak ingin berfikiran yang tidak-tidak mengenai hal itu, karena ia sadar jika statusnya saat ini adalah menggantung.


Begitu pula Valdi yang masih merasa berdebar-debar dalam hatinya karang aksi spontan nya. Ia sendiri saja tak percaya dengan tindakan reflek dirinya tadi. Hingga kini ia masih selalu saja selalu tersenyum saat hal tadi kembali terbayang ke dalam ingatannya.


"Oh Tuhan... ku cinta dia... ku sayang dia... rindu dia... inginkan dia..." batin Valdi menyanyi.


Lelaki itu menyangga kepalanya dengan kedua tangan, jangan lupakan juga senyum yang menghias wajah tampannya itu. Ia kini terlihat seperti seorang ABG yang sedang dilanda asmara, seperti dimabuk cinta.


"Sebab cinta tak datang begitu saja, cinta ada karena terbiasa, juga karena cinta membiasakan dirinya kepada kita, " gumam lelaki itu dalam hati.


"Kavita tadi nggak nolak, nggak protes juga kayak pas aku jelasin yang laen-laen. Apa sebenarnya dia juga punya rasa sama aku, seperti perasaan ku padanya? " lanjut fikirny lagi.


Lelaki itu tak ingin jadi salah menduga yang nantinya hanya akan membuatnya kecewa saja. Tapi jika hal itu memanglah benar adanya, tentunya ia akan merasa sangat bahagia.


🔥🔥🔥


Fajar menyapa semua insan yang masih terlelap di ibukota. Termasuk pada sosok pria yang hingga saat ini belum bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Yaitu baru bisa tertidur karena sudah merasa tak kuat lagi menyangga kepalanya yang pening karena pengaruh minuman beralkohol.


Siapa lagi kalau bukan Adrian Saputra Wijaya. Seorang lelaki yang entah saat ini harusnya disebut sebagai siapanya Kavita, karena statusnya tak jelas. Ya meski mungkin dirinya masih menganggap jika ia adalah suami dari Kavita, tetapi wanita itu pasti akan dengan tegasnya menolak untuk mengakui jika Adrian adalah suaminya.


Mungkin wanita itu akan segera menggugat nya saat sudah merasakan tubuhnya kuat. Bukan hanya fisik saja, tetapi ia juga harus kuat secara mental dan perasaan, agar tak mudah terkena tipu daya dari lelaki modelan Adrian lagi.

__ADS_1


Kening Adrian mengernyit dengan kedua matanya yang masih terpejam erat. Rasanya sangat berat untuk sekedar membuka mata itu. Karena ia baru saja tertidur selama kurang lebih tiga jam lamanya setelah beberapa hari terjaga.


Bagaimana ia bisa merasa tenang saat istri dan anaknya belum ketemu, dan malah kini bertambah dengan adiknya yang menghilang karena kecelakaan dan masuk ke dalam jurang. Jika memang pemuda itu masih hidup, kemana ia perginya. Tetapi jika sudah meninggal, dimana jasadnya? Kenapa ia tak juga menemukannya dia sekitar tempat itu, padahal ia sudah mengerahkan semua anak buahnya juga pihak kepolisian ikut membantunya dalam pencarian Aditya. Tapi bagai ditelan alam, Aditya menghilang tak ada rimbanya.


Keadaan otak dan hatinya yang sudah kacau karena kehilangan istri beserta anaknya, kini bertambah dengan hilangnya sang adik semata wayang yang tentu saja membuat sang bunda dan ayahnya merasa sangat kehilangan dan terpukul. Rasa tak tega melihat mami Shinta yang selalu menangis setiap waktu, membuatnya bertekad akan terus mencari keberadaan ketiga orang yang begitu berharga dalam keluarga mereka.


"Aku harus bangun untuk mencari mereka lagi, " gumam Adrian dalam hatinya dengan mata yang masih terpejam.


Kedua matanya masih terasa sangat lengket dan sulit untuk di buka. Meski ia sudah mencoba membuka nya dengan sekuat tenaga, tetapi ia tetap tak mampu untuk melakukan nya.


Hingga suara dari ketua pimpinan para bodyguard nya terdengar menginterupsi. Adrian mengernyit mendengar suara bisik-bisik di sekelilingnya, ingin ia meneriaki seluruh bodyguard nya yang berisik itu, tapi ia tak kuat bahkan untuk sekedar bergumam saja.


Melihat pergerakan dari tuan nya, Beno si wakil ketua para bodyguard tersebut mendekat dan dengan pengertiannya menyodorkan satu botol air mineral yang baru saja ia buka, lengkap dengan sedotan di dalamnya ke depan mulut Adrian.


Adrian membuka mulut dan menyedot air mineral yang terasa bagaikan oase baginya yang memanglah merasa sangat kehausan sejak tadi. Sensasi terbakar di dalam tenggorokannya pun jadi sedikit mereda.


"Ada apa berisik? " tanyanya pada Beno.


"Ada berita terbaru, dan semoga saja benar-benar nyata, Tuan, " mendengar hal itu kening Adrian kembali mengernyit.


"Apa? " tanyanya lagi dengan suara yang sangat pelan.


"Pihak kepolisian mendapatkan informasi mengenai keberadaan tuan muda Aditya, yang diperkirakan berada di rumah sakit terdekat daerah itu, Tuan, "


Kedua mata Adrian terbuka dengan cepat, dengan susah payah ia mengangkat kepalanya. Dua orang bodyguard pun sigap berdiri di belakang lelaki itu untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba tuan mereka kembali ambruk.

__ADS_1


"Yang benar kamu?! " serunya pada Beno yang masih setia berada di depannya.


"Be-benar, Tuan, " Beno tergagap karena merasa gugup di tatap sedemikian rupa oleh Adrian.


"Siapkan pasukan dan armada untuk menjemputnya sekarang juga! " titah Adrian tegas, ia tak dapat lagi menahan rasa penasaran nya. Jika hal itu memang benar, maka itu dapat sedikit mengurangi beban kedua orang tuanya yang begitu kehilangan Aditya.


"Baik, Tuan! " jawab Beno yang segera memberi komando pada pasukannya.


Beberapa belas mobil berjajar dengan supir di dalamnya, para bodyguard yang sudah bersiap segera menaiki mobil tersebut satu persatu.


Satu buah mobil dengan desain bagus dan paling mewah berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Adrian. Lelaki itu masuk dan duduk dengan elegan nya.


Adrian mengeluarkan ponsel, ia membuka aplikasi hijau dan mengetik nama sang ayah yang nomor kontaknya tersimpan di ponselnya. Tetapi ia segera menurunkannya, karena Adrian tak ingin terburu-buru jika belum melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana keadaan Aditya.


"Semoga saja Aditya benar-benar ada disana dan dalam keadaan masih hidup, " guamamnya dalam hati.


Adrian menutup aplikasi WA nya, ia menggeser ke arah galery, dimana disana ada foto dirinya dengan seorang wanita yang perutnya membuncit. Ia melingkarkan tangannya pada perut wanita itu dari belakang dan mereka tersenyum bersama dengan mata saling tatap.


Itulah fotonya dengan Kavita yang diambil beberapa bulan yang lalu saat dirinya dan sang istri baru saja selesai memeriksa kan kandungan Kavita ke dokter kandungan yang selain Valdi, karena tentu saja dirinya yang sudah membenci Valdi kala itu.


Pasukan Adrian sampai di rumah sakit yang terletak di kawasan yang sejuk, yang menjadi tempat untuk merawat Aditya yang diselamatkan oleh Andiva kala itu.


Adrian berjalan tergesa memasuki rumah sakit, secara tak sengaja ia seperti melihat sekerabat bayangan wajah yang dirindukannya selama ini.


"Kavita...? " gumamnya tak percaya.

__ADS_1


"Benarkah itu kamu? "


turun dari rmah skait


__ADS_2