Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Apakah Kecurigaanku Benar?


__ADS_3

Satu minggu berada di rumah mertua dengan sikap dan sambutan yang hangat dari kedua mertuaku, sedikit membuatku merasa nyaman dan tidak terlalu merasa asing. Meski sikap Adrian masih saja berubah-ubah seperti bunglon.


Terkadang dia baik, terkadang jutek, kadang sikapnya sangat manis, kadang abai, bahkan terkadang kasar. Aku benar-benar tak mengerti apa yang membuat sikapnya seperti itu.


Padahal aku merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun yang bisa membuatnya marah, tapi tetap saja sikapnya seperti dikendalikan oleh sesuatu yang aku tak tau apa itu.


Besok pagi Adrian sudah akan mulai kembali bekerja, begitupun aku yang juga sudah harus kembali mengurus bisnisku yang sudah aku tinggalkan seminggu ini, meskipun aku juga mempercayakannya pada Nadiva sahabatku sih, tapi aku tetap perlu mengontrol dan tak bisa lepas tangan begitu saja.


"Besok kita pulang ke rumah kita, " ucap Adrian tadi begitu ia keluar dari kamar mandi.


Aku terkejut mendengar perkataan nya yang tiba-tiba, namun sekaligus terpesona oleh ketampanannya yang bertambah berkali lipat efek rambutnya yang basah setelah mandi.


"Rumah kita? " tanyaku mengulang ucapannya tadi, ia mengangguk.


"Dimana? "


"Besok juga kamu tau, aku bakal minta ART buat beresin barang kita yang perlu dibawa aja, yang lain sudah ada disana, " kalimat Adrian yang lumayan panjang membuatku terpukau.


Kenapa segala sesuatu tentang Adrian membuatku begitu terpesona, membuatku selalu dan semakin mencintainya?


Apa aku sudah tak waras?


Hingga perlakuan nya yang sering berubah-ubah itu seakan bukan suatu permasalahan untukku.


"Oke, " jawabku singkat karena masih terpana.


Adrian lalu merebahkan diri disampingku dan menutup mata begitu saja, padahal aku sudah mendekatkan keningku, siapa tau ia akan menciumnya seperti pada drama yang baru saja aku lihat.


Lagi-lagi hanya anganku saja.


Aku menghela nafas dalam, " jika mencintaimu membuatku sakit, kenapa hatiku tetap tak bisa membencimu, bahkan aku tak mampu jauh darimu, " gumamku seorang diri.


Pagi menjelang dan kami pun berpamitan pada orang tua Adrian untuk pulang ke rumah kami, begitu kata Adrian tadi. Setelah melakukan cipika cipiki danendengarka pesan-pesan ini itu dari kedua mertuaku, kami pun pergi dengan menggunakan mobil Adrian.

__ADS_1


Adrian membukakan pintu mobil samping kemudi, dan tersenyum manis, hingga hatiku meleleh dibuatnya.


"Kami pamit dulu, Mi, Pi, " pamit kami lagi sebelum benar-benar meninggalkan halaman rumah mertuaku.


"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai, ya.. " pesan Mami Sinta.


"Ya, Mi, " balas ku.


Adrian segera menjalankan mobil dengan kecepatan yang sedang. Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi, lalu mengambil ponselku dan menghubungi Nadiva via chat WA. Sekedar memberitahu kalau aku akan segera kembali butik.


✩.・*:。≻─Diva ⋆♡⋆ Cute.•*:。✩


"Pgi, Div. Kayaknya ntar siangan gue ke butik deh, tapi baru kayaknya sih🤭, " send✅


Aku mengirimkannya WA dengan emoticon tersenyum malu di akhir kalimat.


Tanpa menunggu lama, Diva langsung membalas chat dariku dengan balasan yang tampak sangat gembira, hingga banyak emoticon di ketik olehnya.


✩.・*:。≻─Diva ⋆♡⋆ Cute.•*:。✩


✩.・*:。≻─Diva ⋆♡⋆ Cute.•*:。✩


"Iya deh, gue usahain, "


Aku kembali menyimpan ponsel di tas, tapi beberapa menit kemudian ponselku kembali berdering, sepertinya kali ini telfon yang masuk. Aku melihatnya dan melihat nama Diva tertera disana.


"Kenapa lagi sih Si Diva, " gumamku melirik Adrian yang hanya diam dan sibuk menyetir daritadi.


Antara ingin ku angkat atau tidak. Jika ku angkat, aku takut mengganggu konsentrasi Adrian, karena sejak berangkat dari rumah Mamy Sinta tadi dia hanya diam. Makanya aku berfikir dia tipe orang yang tak bisa diajak mengobrol saat menyetir.


"Emm, Diva telfon, " ucapku pada Adrian ragu-ragu.


"Angkat aja! " jawabnya tanpa menoleh kearahku.

__ADS_1


Aku pun mengangkat telfon dari Diva, sudah beberapa hari aku tak mengobrol dengan sahabatku itu, rasa rindu seakan membuncah saat mendengar suaranya, hingga tanpa sadar aku mengobrol dengan serunya, kami ketawa ketiwi seperti biasa dan dalam waktu yang lama. Sampai tiba-tiba Adrian berhenti mendadak hingga membuatku tersentak dan ponsel yang kupegang terlempar jatuh.


Dia itu sengaja atau apa sih, bukannya tadi dia sendiri yang mengijinkan aku menjawab telfon dari Diva, kenapa sekarang dia marah? Apa karena dia merasa aku cuekin? Padahal sejak awal dia sendiri yang tak bersuara.


"Hati-hati dong, Kak, " kesalku reflek.


Aku membungkuk dan mencoba menggapai ponselku yang berada dibawah, tetapi Adrian kembali menjalankan mobil dengan cepat hingga kepalaku terhantuk dasbor.


"Kakak sengaja ya, " Adrian hanya mendengus.


Aku memutuskan untuk diam dan duduk lagi, sambil mengusap-usap kepalaku yang benjol. Lebih baik kuambil saja ponselku nanti kalau sudah sampai di rumah, pikirku.


Tidak berapa lama mobil yang kami kendarai berhenti di sebuah bangunan rumah berlantai dua. Rumah itu tidak terlalu besar seperti rumah mertuaku, namun cukup asri dengan beberapa pepohonan yang ditanam di sekeliling rumah.


Aku kembali melongok ke bawah dan mengambil ponselku, sedangkan Adrian langsung turun terlebih dulu. Memang tak banyak yang kami bawa dari rumah orang tua Adrian, karena Adrian sudah mengatakan kalau semua keperluan kami sudah tersedia di rumah kami ini.


Usai aku mengambil ponsel dan kembali terduduk, aku melihat sesosok wanita yang sudah berdiri di ambang pintu, wanita itu menyambut Adrian yang berjalan mendekat ke arahnya.


Mereka bercipika cipiki.


Mataku menyipit melihat siapa wanita itu, sepertinya aku pernah melihat bahkan bertemu dengannya, tapi siapa.


Untuk memastikan dugaanku, aku segera turun menyusul Adrian. Setelah sampai di teras aku melihat wanita yang waktu itu ikut berkumpul bersama keluarga besar kami. Wanita yang mengaku sebagai sepupu Adrian, yaitu Vara.


Benar dugaanku, wanita itu adalah Vara. Ak jadi ingat akan mimpiku kemarin tentang Adrian yang sedang bersama wanita, Ciri-ciri nya persis dengan Vara, rambutnya, gaya berpakaiannya dan cara bicaranya. Jadi benarkah wanita yang ada di mimpiku itu Vara?


"Hai, Vit. Apa kabar? Kangen deh sama kamu, masuk yuk! " ucap Vara sok akrab seperti waktu itu.


Tapi kenapa sikapnya seolah-olah dia adalah tuan rumah disini? Sebenarnya ini rumah nya Adrian dan aku, atau Vara?


"Hai juga, Var. Aku baik, kamu sendiri? " aku mengikuti langkah kaki Vara, dia benar-benar seperti sedang berada di rumahnya sendiri.


Dan Adrian pun terlihat biasa saja akan sikap Vara tersebut, malah sempat melihat lelaki itu tersenyum saat memandang Vara. Hatiku terasa semakin tercubit dengan keadaan yang aku lihat ini.

__ADS_1


"Aku antar kamu ke kamar kamu sama Adrian ya. Kamar kalian itu ada di atas, yang merupakan kamar utama di rumah ini, kamar yang paling luas," Aku jadi semakin heran dan curiga terhadap Vara, kenapa malah dia yang memberitahu ku tentang semua itu.


Bersambung...


__ADS_2