
Kavita menikmati pemandangan segar yang tersaji di depan mata, saat ini dirinya sedang berada di halaman depan rumah Valdi yang asri. Ibu muda itu berdiri dari kursi rodanya, ingin memijaki rerumputan hijau yang terhampar dengan bebas di tanah halaman itu.
"Sejuk, dan geli. Sudah lama aku nggak nginjek rumput begini, rasanya benar-benar geli, " gumamnya.
Ia pun mulai mulai mengangkat kakinya secara perlahan, efek terlalu lama koma dan berada di atas kursi rodanya membuat kakinya terasa kamu dan berat untuk melangkah. Tapi hal tersebut tak lantas membuatnya menyerah. Ia bertekad untuk bisa berjalan normal kembali secepatnya demi sang putra.
"Semangat, Vita. Semangat! Demi Kava, kamu harus bisa, demi bisa mengajaknya berjalan-jalan nanti, " Kavita menyemangati dirinya sendiri.
Kava Saputra Indrawan. Itulah nama yang akhirnya Kavita sematkan pada putranya, setelah berdiskusi dengan dokter Valdi dan juga kedua orang yang selalu setia dalam kehidupannya. Yakni Kavero dan Nadiva, serta kedua orang tuan Kavita selaku nenek dan kakek si bayi.
__ADS_1
Tidak ada nama Wijaya di belakang nama bayi itu, karena Kavita sama sekali tak ingin mengingat nama dari ayah bayinya yang tak menginginkan kehadiran mereka. Jadi ia sudah bertekad akan membesarkan bayi itu seorang diri tanpa campur tangan dari ayah kandung bayinya maupun keluarganya sekalipun.
Toh, tanpa keluarga Wijaya, Kavita dan anknya juga tetap bisa hidup dengan bahagia hingga saat ini.
"Ya, kami semua setuju dengan nama itu, " ucap Dokter Valdi saat kembali ditanyai oleh Kavita mengenai nama bayinya yang selama ini diurus oleh pemuda itu.
"Yup. Gue juga setuju tuh, " timpal Diva pula.
"Mama dan papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, Nak. Kami setuju apa yang menjadi pilihanmu. Semoga saja Mama dan papa selalu diberikan kesehatan, jadi kami akan segera menyusul kalian disana, " ucap mama Indri saat Vero menghubunginya via telepon.
__ADS_1
Sengaja lelaki muda itu tak melakukan panggilan video demi menjaga perasaan sang kakak yang selama ini sudah menahan kerinduan yang mendalam kepada kedua orang terkasih nya itu.
Bukan tanpa alasan kedua orang tuanya tak bisa menemui dirinya dann cucu mereka. Tetapi, merek belum sanggup untuk bertemu dengan putri kesayangan mereka saat ini karena mereka rasa belum terlalu cukup menata hati mereka jika nanti bertemu dengan Kavita.
Meski Kavita sudah terlihat mampu menguasai keadaan, tapi tak ada yang tau bagaimana perasaan dari wanita itu nyang sebenarkan kan? Makanya, lebih baik menata hati dahulu agar benar-benar siap untuk bertemu dengan ajak perempuannya itu, daripada nanti jika dipaksa bertemu dan tak mampu menguasai keadaan, Mama Indri merasa hanya akan kembali merusak mental Kavita yang sudah membaik saja.
"Kalian semua baik-baik disana ya, Nak. Selalu jaga kesehatan kalian. Semoga kita bisa bertemu secepatnya, " mama Indri pamit untuk memastikan telpon tersebut ketika ia tak dapat lagi membendung air matanya karena kembali teringat pada putrinya yang sudah tak ia jumpai semenjak kejadian beberapa bulan silam yang menjadikan suaminya sakit dia putrinya itu koma selama beberapa bulan.
Jika mengingat kembali kejadian itu, maka hanya air mata lah yang akan keluar menjadi saksi bisu betapa hancurnya hati banyak orang melihat kehancuran Kavita juga karena ulah suaminya sendiri.
__ADS_1