
Papa Indrawan terkejut mendengar penuturan yang diucapkan oleh mama Indri. Pertama, pengakuannya yang ternyata telah mengurus perceraian Kavita dan Adrian. Yang kedua, ternyata istrinya itu sudah tau penghianatan yang dilakukan oleh Adrian sejak lama.
Yang jadi pertanyaannya, kenapa istrinya tidak pernah memberi tahukan kepadanya sama sekali? Hingga ia harus tau saat putrinya mengalami hal yang buruk itu dulu. Sampai-sampai ia merasa gagal sebagai seorang ayah yang baik dan berjuang untuk kebahagiaan putrinya.
"Jadi Mama sudah tau semua itu sejak lama? Lalu kenapa Mama tidak memberitahu Papa? Sampai-sampai Papa hanya menjadi orang bodoh yang tau tau apa-apa, padahal putri Papa menderita, " Papa Indrawan tercekat, netranya kembali berkaca-kaca.
"Mama-" baru saja Mama Indri mau menjawab, sebuah panggilan video masuk ke dalam ponselnya. Rupanya Kavero, sang putra yang menghubunginya.
Mama Indri menatap suaminya, meminta persetujuan untuk mengangkat video call itu atau tidak, Papa Indrawan pun mengangguk pelan, dengan cepat ia usap air mata yang sudah hampir keluar lagi dari pelupuk matanya itu sebelum berbicara dengan anaknya nanti.
"Good morning, Mam, " sapa Vero dengan cerianya begitu mama Indri mengangkat panggilan video darinya.
"Pagi, Sayang. Ceria banget kamu? "
"Oh, pasti dong. Dan kalian juga pasti akan ikut ceria bin bahagia sepanjang masa kalau kalian melihat apa yang membuat Vero bahagia pagi ini. Mana Papa? " Vero mengamati seluruh tampilan pada layar ponselnya, ia melihat mamanya sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, tempat dimana biasanya dulu keluarganya berkumpul sebelum sang kakak menikah. Dan suatu saat nanti, ia sangat berharap akan bisa berkumpul disana lagi dengan kebahagiaan yang berlipat karena adanya anggota keluarga baru.
"Papa itu-" mama Indri melirik tempat dimana suaminya duduk tadi. "kok nggak ada, " gumamnya.
"Pagi, Ver, " sapa Papa Indrawan yang tiba-tiba sudah menampakkan diri di layar, lelaki itu menyapa lewat belakang istrinya.
__ADS_1
Tadi sempat ia pergi ke kamar mandi sebentar untuk membasuh muka agar tak te4lihat jika dirinya habis menangis dan juga wajahnya lebih segar kembali.
"Wah ... udah lengkap sekarang. Apa kalian udah siap sama kejutan yang bakalan Vero kasih ke kalian? "
"Kejutan? " kedua orang tuanya saling pandang.
"Ya, dan kalian tolong tutup mata sebentar. Ntar kalo Vero udah suruh buka, baru buka mata, oke?"
"Baiklah, " angguk kedua orang tuanya setuju seraya menutup mata.
"Tara .... " seru Kavero.
Mama Indri serta Papa Indrawan sontak membuka mata tanpa dipinta.
" Kava! Cucuku ... " gumam mama Indri dengan bibir bergetar. Tangannya terangkat membelai layar ponsel yang menampakkan seorang wanita muda dan bayi mungil di gendongannya.
Ya, itulah Kavita dan Kava yang sudah memantapkan hati untuk menyapa orangtuanya setelah selama dua bulan lebih tak berbicara dengan mereka. Hanya Vero lah perantara mereka untuk berkabar.
"Mama jadi pengen ketemu kalian secara langsung ... " bahu mama Indri mulai bergetar, tak kuasa menahan hari biru yang menguar melihat anak dan cucunya yang kini tampak sehat tanpa suatu apapun berkat perawatan dari dokter Valdi yang telaten.
__ADS_1
"Sama, Ma. Kavita juga kangen banget sama kalian, pengen meluk kalian, " Kavita pun tak dapat lagi membendung air matanya yang sejak tadi sudah berusaha untuk ditahannya sekuat tenaga.
Baby Kava diambil alih dokter Valdi karena Vita gemetar saking tangisnya yang pecah. Vero juga Diva hanya terdiam sambil mengusap air mata masing-masing. Siapa yang tega melihat pemandangan itu, mereke jadi ingin mempertemukan orangtua dengan anak dan cucu itu secara langsung secepatnya kan.
Sebelah tangan Valdi mengelus pundak Kavita, berusaha menenangkan gadis kesayangan nya itu.
"Sebuah pemandangan yang indah, " Diva memotret ketiga orang yang masih on berada di panggilan Video yang dilakukan oleh Vero.
"Dokter Valdi modus gak sih? " tanyanya kemudian dengan suara pelan agr tak terdengar oleh si empunya.
"Sedikit, tapi dia tulus, " balas Vero berbisik pula.
"Pokoknya Mama mau kesana! Mau gendong cucu! " seruan dari Mama Indri dri memecah keharuan yang sedang tercipta, berganti dengan tawa karena melihat wajah lama muda itu cemberut kepada suaminya.
"Iya-iya, kita kesana sekarang juga, ayok! " ajak papa Indra tak main-main.
T3ekejutlah satu orang mendengar keputusan dadakan papa Indrawan, tapi rasa senang lebih mendominasi disana.
"Hah? Beneran, Mah? Pah? "
__ADS_1
"Beneran lah. Emang Papa bercanda, "
"Asik, kita tunggu kedatangan kalian ya Mah, Pah.." seru Vero kegirangan.