Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Va-Vara...?


__ADS_3

Mobil mewah yang dikendarai oleh Beno, si kepala bodyguard Adrian berhenti di depan sebuah apartemen berlantai dua puluh yang lumayan mewah.


Kening Adrian mengernyit, ia seakan tak percaya pada alamat yang ditujunya saat ini. Benarkah orang yang sedang dicarinya ada disana. Ia pun merasa bimbang, meski dirinya sudah melihat dengan mata kepala sendiri jik foto yang dilihatnya itu adalah nyata, dan juga dalam waktu yang tak jauh berbeda dari saat foto tersebut diambil. Sebab foto difoto tersebut terdapat bulan, tanggal, hari, bahkan jam sampai menit dan detiknya juga tercatat di bagian bawah foto tersebut. Hal itu sudah sangat cukup membuktikan jika foto itu nyata dan memang baru saja terjadi.


Beno hanya bisa terdiam di tempatnya sembari menunggu perintah dari bosnya. Ia tak berani mengusik ataupun untuk sekedar bertanya, karena tak ingin kembali mendapatkan amukan dari bosnya tersebut seperti beberapa waktu yang lalu saat ia dianggap salah memberikan informasi kepada Adrian.


"Ayo kita turun! " ajak Adrian pada Beno dan satu lagi bodyguard yang duduk di samping Beno.


"Baik, Bos, "


Satu bodyguard itu membukakan pintu untuk Adrian.


Kaca mata hitam langsung bertengger di hidung mancung Adrian begitu turun dari mobil. Selain membuat lelaki itu gampang lebih keren, hal itu bertujuan menyembunyikan mata panda Adrian yang juga tampak sayu.


Dengan perasaan berdebar, kecewa bercampur marah Adrian melangkah menuju lantai tertinggi apartemen tersebut. Sebab dari informasi yang didapatnya, disanalah tempat tinggal orang yang sedang dicarinya saat ini. Bagaimana kalau informasi yang dia dapat itu ternyata memanglah nyata, apa yang akan dilakukannya, haruskah ia merasa bahagia karena ternyata istri pertamanya yang juga merupakan cinta pertamanya itu ternyata masih hidup.

__ADS_1


Namun, ternyata malah sudah berhubungan dengan lelaki lain. Mungkin Adrian harus marah, murka ataupun menuntut keduanya karena dianggap menipu dirinya jika Vara telah meninggal sehingga dirinya bisa tega meninggalkan Kavita begitu saja saat itu hingga membuat rumah tangganya bersama Kavita harus berakhir dengan perpisahan.


Sesampainya di lantai yang dituju, lift pun terbuka. Adrian mempercepat langkahnya karena sudah merasa tak sabar ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri tetang informasi yang ia dapat.


Adrian berhenti tepat do depan pintu yang bertuliskan angka 20, jari telunjuknya terulur memencet bel. Satu kali belum ada pergerakan dari dalam, ia mengulanginya hingga tiga kali barulah pintu terbuka. Seorang laki-laki muda muncul dari dalam engga hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya dengan rambut yang basah dan tanpa memakai baju atasan sama sekali.


"Ada apa ya? " tanya lelaki tersebut.


Beno dan temannya berdiri di depan pintu, Beno angkat suara, "kami mencari tuan Valdo, apa benar ini apartemennya? "


"Ya benar, ada apa? "


Lelaki muda itu mengerutkan keningnya, ia merasa tak mengenali dia orang pria berbadan besar di hadapannya, tapi kenapa tiba-tiba mencarinya? Begitulah pikirnya.


Ada sedikit rasa takut bergelayut dihatinya, sebab bisa saja kedua orang itu adalah orang jahat. Hatinya berkata jika ia harus menolak tamu yang tak diundang nya itu. Tapi tiba-tiba saja Beno maju dan sedikit mendorong tubuhnya.

__ADS_1


Adrian yang sejak tadi hanya diam di belakang kedua bodyguardnya tersebut turut maju dan segera nyelonong masuk begitu saja kedalam. Kepalanya celingukan, kedua matanya menyapu sekeliling ruangan apartemen milik Valdo tersebut.


Sepi, seperti tak ada tanda-tanda ataupun suara siapapun di ruangan itu. Ia melangkah menuju ke ruangan yang mungkin itu adalah kamar.


Valdo yang merasa terganggu oleh para lelaki yang tak di kenalnya yang dengan seenaknya saja masuk ke dalam tempat tinggalnya itu pun merasa tak terima.


"Hey, apa yang kalian inginkan sebenarnya? Kenapa masuk begitu saja ke dalam rumahku tanpa izin?! " teriaknya seraya berlari mengejar ketiga pria yang sudah mulai menggeledah setiap ruangan yang ada di apartemennya.


Adrian mengabaikan teriakan Valdo, ia melangkah naik tangga yang menuju lantai atas, sepertinya ada ruangan disana.


Benar saja, ada sebuah kamar berdinding kaca dan juga ada kolam renang berukuran minimalis di luar ruangan yang terkena paparan sinar matahari langsung. Sepertinya Valdo tadi sedang berenang saat Adrian datang, terbukti dengan adanya percikan air disekitar sana.


Matanya membulat sempurna saya membuka pintu yang mengarah keluar ka aehari kolam renang, ia melihat ada sosok wanita yang memakai pakaian renang. Meskipun wanita itu membelakanginya, namun ia ingat betul bentuk tubuh tersebut.


Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun ia memandang, bahkan menikmati tubuh itu.

__ADS_1


"Va-Vara... "


Wanita itu hanya mampu menegang di tempatnya berdiri, tubuhnya terasa kaki mendengar suara yang ada di belakangnya.


__ADS_2