
Selama beberapa bulan belakangan ini, Kavita menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan dan ketenangan. Dia benar-benar merasa seperti impiannya untuk dapat hidup berbahagia bersama lelaki yang dicintainya terwujud sudah. Ia pun sangat bersyukur dengan kehadiran bayi dalam kandungannya yang menjadikan Adrian begitu memperhatikan dirinya.
Kini usia kandungan Kavita sudah memasuki semester ke tiga, perutnya yang sudah mulai membuncit membuat ruang geraknya terbatas. Maka dari itu, Adrian memutuskan untuk mereka menempati kamar yang ada di lantai bawah untuk sementara waktu sampai setidaknya Kavita melahirkan.
"Begitu susah payahnya Kavita mengandung anakku, apa aku tega memisahkannya bayi itu darinya nanti? " pemikiran Adrian terkadang mulai terpengaruh oleh apa yang ia saksikan sendiri setiap harinya.
Mulai dari Kavita yang kesusahan berjalan, duduk, bahkan saat tidur pun wanita itu tak pernah merasa nyaman, hal itu membuat Adrian merasa tak tega terhadapnya.
Bahkan terkadang hanya dengan memandang Kavita yang tengah terlelap pun membuat hatinya gamang, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam sudut hatinya yang paling dalam yang belum ia pahami apa artinya itu.
Adrian mulai merasa nyaman dengan kehidupannya bersama Kavita, ia mulai terbiasa dengan canda tawa wanita yang saat ini tengahengandung buah hatinya tersebut.
Lantas apakah Adrian berhenti mencari keberadaan Vara? Oh, tentu tidak jawabannya.
Sebab Vara seperti sudah memiliki tempat tersendiri dihati lelaki itu, meski mungkin sudah tak se-sepesial dulu.
"Eungh... " Lenguh Vita yang mulai tersadar dari tidurnya di siang itu.
Vita memang sering lebih banyak tertidur di siang hari daripada di malam hari, meski dirinya dan Adrian merasa khawatir tentang kesehatan bayi mereka tentang kurangnya istirahat di malam hari, tapi dengan mendengar jawaban dari dokter Valdi jika semua itu memang hormon ibu hamil dan bawaan dari si jabang bayi itu sendiri, mereka jadi lebih tenang.
Meskipun Adrian harus mengorbankan waktu tidur malamnya demi untuk menemani Kavita yang susah memejamkan mata di malam hari. Tetapi Adrian tidak merasa keberatan sama sekali, lelaki itu justru merasa senang dan bahkan mau menuruti segala hal yang menjadi keinginan Kavita meskipun hal tersebut terkadang terdengar konyol.
Bukan hanya menuruti, Adrian pun mau memasak untuk Kavita dan calon anak mereka, semua itu Adrian lakukan demi anaknya, itu gilirannya yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia juga tak akan tega melihat Kavita bersedih saat keinginannya tak di wujudkan.
Kavita mengerjakan mata, kedua netranya langsung bertemu pandang dengan mata Adrian yang sedari tadi memandangi nya yang tengah tertidur.
"Hubby kenapa melihatku seperti itu? Aku kan malu, " cicit Kavita menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Adrian tersenyum, ia meraih tangan yang menutupi wajah istrinya, "kenapa harus malu? Kamu kan istriku, ibu dari calon anakku, "
Blush
Wajah Kavita memerah mendengar perkataan Adrian yang mungkin biasa saja namun mampu menyanjung hatinya.
"Celamat ciang, kesayangan Daddy.. " sapa Adrian pada bayi yang masih ada di dalam perut Vita.
__ADS_1
"Ciang, Dad... " balas Vita yang turut bersuara menirukan anak kecil seperti yang dilakukan Adrian tadi.
"Apa kabar kamu di dalam sana? " Adrian menempelkan telinganya diperut Vita.
"Kabarku, emm... laper, Dad, " jawab Kavita sambil terkekeh.
"Wah benar, anak Daddy emang laper. Tuh bunyi perutnya, " ucapan Adrian itu sukses membuat Vita tergelak, ia merasa geli sekaligus bercampur malu.
"Yaudah, anak Daddy mau maem apa, coba bilang sama Daddy.. " Adrian terus mengajak bicara bayi dalam kandungan Vita itu hingga si bayi menendang dengan kuat.
"Aaaw, " pekik Kavita terkejut.
"Ooh, kamu mau ngajakin Daddy main sepakbola yah? Kenceng banget nendang nya sampe mommy kesakitan begitu, "
"Nggak sakit kok, Hubby.. cuma kaget aja, abis kenceng banget nendang nya barusan, " elak Kavita.
"Kayaknya anak kita cowok deh, Beib," ucap Andrian.
"Mau cowok ataupun cewek, yang penting sehat dan sempurna tanpa kurang suatu apapun, By.."
"Iya juga sih, tapi mending kita ke rumah sakit yuk! Buat USG, jadi pengen tau jenis kelaminnya apa, biar bisa nyiapin segala keperluan dia juga kan, " ajak Adrian tak sabaran.
"Nurut aja deh, yang penting cari makan dulu.. udah laper banget soalnya, "
"Siap donk, itu wajib. Anak Daddy gak boleh kelaperan dan kekurangan asupan gizi, biar tumbuh sehat gagah dan ganteng seperti daddy nya, kalau cantik ya seperti mommy dong, " entah ucapan itu tulus atau tidak, yang jelas Kavita merasa sangat bahagia mendengar kalimat itu ditujukan padanya.
"Daddy mulai pinter ngegombal ya sekarang.. "
"Daddy jujur tauk, " Adrian beranjak dan tanpa aba-aba ia langsung menggendong Kavita.
"Hubby ih.. kebiasaan deh, "
"Tapi kamu senang kan, " Kavita yang merasa malu pun memluk leher Adrian erat dan bersembunyi disana.
Sore hari itu juga Adrian dan Kavita pergi ke rumah sakit guna memeriksakan kandungan Kavita secara menyeluruh. Memang setiap kali periksa pun seperti itu, karena Adrian tak mau terjadi sesuatu, ataupun anak yang di kandung Kavita itu kekurangan suatu apapun.
__ADS_1
Keduanya berangkat ke rumah sakit dengan keadaan bahagia tanpa ber firasat apapun juga, bahkan begitu sampai di pelataran rumah sakit setelah memarkirkan mobil, Adrian pun langsung menggandeng Kavita posesif, seakan Kavita akan menghilang jika ia lepas pegangan tangannya tersebut.
Karena pemeriksaan hari itu terkesan dadakan, maka Kavita tak sempat untuk mengabari Valdi jika dirinya akan datang ke rumah sakit. Sedangkan bagi Adrian sendiri jika yang memeriksa bukan Valdi maka itu akan lebih bagus menurutnya.
Dan benar saja, Kavita ditemui oleh dokter lain yang merupakan teman dari dokter Valdi karena dokter muda itu sedang tak ada di tempat nya.
"Cek menyeluruh, Dok, " ucap Adrian saat mereka sudah memasuki ruangan dokter itu dan terduduk di kursi yang ada disana.
"Baiklah, Pak, " dokter itu pun mulai melakukan apapun yang sudah menjadi pekerjaannya.
Cek tekanan darah, gula darah, pemeriksaan gigi, serta USG demi melakukan apa yang Adrian minta sebelumnya tadi.
"Posisi sudah bagus ya, Buk.. tinggal diperhatikan lagi asupan makanan yang masuk harus seimbang. Supaya bayinya tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil nantinya, " terang dokter itu tersenyum.
"Baik, Dok, "
"Lanjut, Dok. Saya mau lihat jenis kelamin anak saya, bisa? "
"Karen usia kandungan ibu Kavita ini sudah masuk semester ketiga, jadi sudah bisa, Pak. Tapi, entah apapun itu jenis kelaminnya nanti, yang terpenting bayinya sehat 'kan, " Adrian dan Kavita mengangguk bersamaan.
Dokter tersebut melakukan USG dengan mengatakan apa saja yang ada di dalam perut Kavita itu, bagaimana detak jantung bayi, posiai bayi, dan bagaimana kondisi terkini si bayi.
"Air ketubannya cukup, terlihat sangat jernih, ini dedek bayinya lagi ngumpet, belum bisa terlihat alat kelaminnya. Sepertinya dia malu, " dokter itu tersenyum.
"Yaah, " Adrian mendesah kecewa. Harapannya untuk bisa mengetahui jenis kelamin anaknya pun terpaksa tertunda lagi.
"Sabar, Hubby.. mungkin lain kali bisa kelihatan, "
"Baiklah.. "
Disaat yang bersamaan, Adrian merasa ponselnya bergetar. Ternyata ada yang menelpon dirinya, lelaki itupun memohon izin sebentar untuk mengangkatnya.
"Sebentar ya, Beib. Kamu disini dulu, aku keluar bentar, " Kavita tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, "
__ADS_1
"Saya tau keberadaan nyonya Vara, Tuan, "
Kedua bola mata Adrian melebar, "dimana? "