Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Emosi yang Meledak


__ADS_3

Papa Indrawan dan mama Indri masih menyimak apa yang menjadi perdebatan antara Adrian dan Valdi. Mereka ingin bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya, tapi kedua paruh baya itu merasa jika waktunya belumlah tepat disaat genting seperti saat ini. Jadi mereka hanya menunggu saja sampai mana pembahasan kedua lelaki muda di hadapan mereka tersebut.


Sedangkan mami Shinta dan papi Wijaya justru sedang merasa was-was jika saja Adrian yang sedang emosi dan kalap bisa saja keceplosan mengatakan apa yang sebenarnya selama ini mereka rahasiakan dari Kavita dan kedua orangtuanya itu. Bisa sia-sia usaha mereka selama ini nantinya.


Valdi masih dengan sikap tenangnya menghadapi setiap semburan dan amukan Adrian yang tertahan, sebab lelaki itu masih juga di pegangi oleh para anak buahnya agar tak lepas kendali.


"Bilang saja kamu iri sama saya, karena saya bisa menikahi wanita cantik seperti Kavita kan. Dan tentunya anak kami juga tak kalah cantik dari ibunya, " ucap Adrian bermaksud untuk memancing Valdi mengatakan jika anaknya memanglah masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.


Semua orang terdiam dan menyimak apa yang akan menjadi jawaban dari dokter Valdi. Sebab semuanya tau, jika dokter Valdi lah yang mengurusi dan menangani masalah kandungan Kavita selama masa kehamilannya.


"Anak kamu yang mana? " tanya Valdi dengan santainya.


Kedua alis Adrian menukik tajam mendengar jawaban berupa pertanyaan dari Valdi, "Apa anakku lebih dari satu? "


Semakin terkejut saja semua orang dengan pertanyaan praduga yang di lontarkan oleh Adrian. Begitu pula Valdi yang mengerjap-ngerjap untuk menghilangkan kegugupannya. Tidak dapat dipungkiri sebuah rahasia besar yang masih ia simpan rapat selama ini.


"Anak kamu yang mana? " pertanyaan itu kembali Valdi ucapkan, tapi kali ini dengan nada yang lebih meremehkan, "memangnya kamu punya anak?" lanjut Valdi yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Ya, tentu saja aku punya anak! " jawab Adrian dengan yakinnya.


"Huh! Memangnya kapan istrimu melahirkan anakmu? " agak dongkol juga Valdi dengan gaya sok Adrian itu.

__ADS_1


"Iya, tentu saja! " Adrian menjawab masih dengan jawaban pasti.


"Apa kamu melihatnya saat istrimu melahirkan anakmu? Sampai bisa dengan yakinnya kamu bilang kalau punya anak?" tanya Valdi semakin meremehkan dengan nada sindiran. Tentu saja ia tau jika Adrian tak akan bisa menjawab dengan yakin pertanyaannya kali ini. Sebab lelaki itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya dari awal Kavita masuk rumah sakit hingga baru saat ini menunjukkan wajahnya, dan malah langsung menciptakan kerusuhan di rumahnya tersebut.


Adrian terdiam. Ia sadar dengan sindiran keras yang Valdi ucapkan baru saja.


"Atau... malah dari istri yang lain, misalnya? "


Kini giliran kedua orang tua Kavita terkejut dan mengernyitkan dahi mereka mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh dokter Valdi.


"Tutup mulutmu, Valdi! Lancang sekali kamu! Kamu tidak berhak mengucapkan hal apapun tentang saya! " kembali Adrian membentak Valdi.


Tentu saja ia tidak mau kalau sampai rahasia yang sudah berusaha disimpannya rapat-rapat selama ini diungkapkan begitu saja oleh sepupu dari istri pertamanya itu.


Barulah tersadar papi Wijaya dan mami Shinta sedang berada dimana mereka saat ini, tapi berbeda dengan Adrian yang sedang tertutupi kabut amarah dan tak perduli tengah berada dimana ia berpijak saat ini.


"Kamu benar-benar membuat saya marah, Valdi! Saya akan membuat perhitungan sama kamu! " geram Adrian mengancam.


"Silahkan! Yang terpenting saya tidak pernah bermaksud membuat masalah dengan siapapun. Semua ini terjadi juga karena Anda sendiri yang menyambangi saya terlebih dahulu disini dan langsung berteriak-teriak tidak jelas hingga mengganggu kenyamanan keluarga besar saya, " yang dimaksud oleh Valdi sebagai keluarga besarnya tentu saja Kavita beserta keluarganya itu.


Tak tahan lagi dengan rasa malu yang di ciptakan oleh putranya di hadapan besan mereka, papi Wijaya pun memerintahkan para anak buah Adrian untuk membawa paksa lelaki itu dari sana.

__ADS_1


"Lepaskan!" teriak Adrian seraya berusaha memberontak, "lepas saya bilang! Apa kalian sudah bosan kerja sama saya, hah! " para bodyguard itu berhenti, tampak berfikir dan saling pandang hingga cekalan mereka mengendur. Pada saat itulah Adrian melepaskan diri dan segera berlari menerjang Valdi yang masih berdiri diam di tempatnya semula.


Bugh


Satu pukulan mendarat di pipi Valdi sampai kepala dokter muda itu tertoleh ke samping.


"Bagus... ini semakin menyempurnakan barang bukti dan memberatkan hukumanmu nantinya, Drian. Gue udah nggak sabar menunggu hari kehancuran lo itu tiba, " gumam Valdi dalam hati sambil memegangi tulang pipinya yang terasa ngilu.


Sengaja ia tak membalas, agar tak mengotori tangannya, juga supaya lebih sempurna saja video yang diambil oleh orang suruhannya.


Semua orang terkejut melihat kejadian yang sangat singkat itu, sampai tak ada yang menduganya sama sekali.


"Mampus kamu, Valdi! Kamu benar-benar menguji kesabaran saya yang setipis tisu, "


"Adrian... ! "


"Adrian...! " teriak kedua orangtua Adrian bersamaan.


"Jangan gila kamu! " papi Wijaya kembali mencekal lengan anaknya.


"Pegangi dia dengan kuat, dan langsung saja bawa ke mobil. Kita pulang sekarang juga! " perintahnya tak dapat di ganggu gugat lagi.

__ADS_1


"Ba-baik, Tuan Besar, " jawab Beno yang kemudian memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk melaksanakan apa yang menjadi keputusan tuan besar mereka. Walau bagaimanapun, papi Wijaya tetaplah mempunyai wewenang paling besar di dalam keluarga besar Adrian.


__ADS_2