
Bangunan kokoh tinggi menjulang berada di depan mata, namun sayang... kokohnya bangunan itu hanya selalu menjadi saksi berakhirnya sebuah hubungan suami istri. Ya, itulah kantor pengadilan agama yang akan menjadi saksi persidangan pertama antara Kavita dan juga Adrian hari ini.
Tak dapat dipungkiri oleh Adrian, rasa berdebar di dadanya melebihi berdebarnya saat dulu ia mengucapkan kalimat sakral ijab qobul saat memperistri Kavita, sebab dulu ia sangat tidak menginginkan pernikahan itu. Berbeda dengan saat ini, Adrian begitu berharap jika dirinya dan Kavita bisa kembali bersatu membangun rumah tangga mereka dari nol lagi.
Dipikir ngisi BBM kali ya, mulai dari nol, Pak!
Jangan harap, Adrian! Tidak akan ada yang mendukungmu disini, selain kedua orang tuamu yang mempunyai misi itu saja. Sementara yang lainnya, mereka semua membencimu, bahkan tak sedikit pula yang mengutukmu.
"Kok Kavita belum dateng ya, " gumam Adrian dalam hatinya.
Pasalnya sangat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu setempat. Dan itu merupakan jam dimana persidangan akan segera dimulai.
Beberapa detik sebelum hakim datang, nampak tuan Indrawan memasuki ruangan sidang bersama dengan asistennya, Dino, dan juga seseorang yang Adrian kira adalah pengacara.
Adrian melongokkan kepalanya beberapa kali, mencari-cari dimana keberadaan seseorang yang begitu ingin ia ketahui keadaannya saat ini. Namun sepertinya ia harus kecewa, sebab sampai pada sang hakim memasuki ruangan tak juga ada tanda-tanda akan ada yang masuk lagi sampai pintu itu tertutup rapat, karena sidang dilakukan secara tertutup. Hanya pihak keluarga dan beberapa orang kepercayaan saja yang boleh ikut hadir disana.
"Jadi Kavita nggak dateng hari ini? "
Semangat yang semula membara, kini menguap sudah. Bagaikan api disiram air, redam begitu saja tanpa bisa protes.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak dateng, Vita? Apa kamu sengaja, karena nggak mau ketemu sama aku? Apa kamu benar-benar sudhs berbuat mengakhiri hubungan kita secepatnya, Vit? " segala tanya itu hanya bisa diutarakan Adrian dalam hati. Karena di depan sana pengacara Kavita sedang berbicara, namun tak ada satupun kata yang berhasil masuk di telinga Adrian yang sejak tadi hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tuan Adrian, apa Anda tidak mendengarkan saya? " tanya sang pengacara, Pak Dodi namanya.
"Tuan Adrian? " Pak Dodi mengulangi pertanyaannya karena Adrian belum juga menyahuti perkataannya.
"Adrian! " mami Shinta menepuk bahu anaknya itu lumayan keras, "kok kamu malah ngalamun sih! " kesalnya.
"Ah, iya... apa, Mih? " ucap Adrian gelagapan.
"Astaga, Adrian...! " geram papi Wijaya.
Tuan Indrawan sejak tadi hanya diam dan duduk dengan tenang, berbeda dengan Adrian serta tuan dan nyonya Wijaya yang gelisah menghadapi persidangan tersebut.
Setelah melewati beberapa penawaran, akhirnya persidangan pun ditunda dan akan dilanjutkan minggu delan. Lega lah Adrian mendengar keputusan dari hakim tersebut.
Masih dengan ketenangannya, tuan Indrawan beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu masih dengan diikuti oleh kedua orang tadi.
Adrian berlari mengejarnya.
__ADS_1
"Pa, Papa Indra, tunggu sebentar, Pa! " seru Adrian memanggil nama ayah mertuanya.
Tuan Indrawan berhenti tanpa berbalik, Adrian segera berlari ke depan pria itu dan menyalaminya seperti manusia polos yang tak berdosa, seakan dia tak pernah melakukan kesalahan apapun yang telah menghancurkan perasaan dan juga kepercayaan dari orang tua di hadapannya itu.
"Papa apa kabar? Maaf selama Papa sakit, Adrian nggak bisa jenguk. Waktu itu Adrian ada hal penting dan sangat darurat yang harus diurus, "
Hening.
Tuan Indrawan enggan menanggapi kata-kata yang menurutnya tidak penting itu, ia hanya menatap tajam dan memindai pergerakan dari seorang lelaki yang dulunya merupakan menantu kesayangannya, kini menjadi lelaki yang paling dibenci olehnya.
"Emm... kalo boleh tau, gimana keadaan Kavita, Pah? Dia baik-baik aja 'kan? Terus kenapa Kavita nggak dateng kesini, Pa? "
Ingin rasanya tuan Indrawan kali ini memaki laki-laki berwajah sok polos dan sok tak berdaya di hadapannya itu, namun akal sehatnya masih bekerja dan memerintahkan dirinya untuk tetap diam saja.
"Mari, Tuan, " asisten tuan Indrawan meminggirkan tubuh Adrian agar tuannya bisa segera lewat. Karena ja sudha menangkap sinyal tak nyaman dari tuan Indrawan.
"Pa, dimana tempat tinggal Kavita sekarang? Ijinin Adrian buat ketemu sama Kavita, Pah. Adrian mohon... " Adrian kembali berlari mengejar tuan Indrawan, lalu berlutut di depanmeetuanya tersebut.
"Apa mau kamu sebenarnya, Adrian! " geram juga lama-lama.
__ADS_1