
Kedua orang yang berseteru sejak pagi itu kini hanya bisa bersedekap dan mengerucut kan bibir kala mendengar keputusan yang Vita ambil.
Pasalnya, wanita cantik yang kini tengah menjadi kandidat calon mamah muda itu tidak memilih satupun di antara mereka, melainkan memiliki pilihan sendiri.
"Vita mau refreshing ke Raja Ampat, mau senorkeling. Berjalan-jalan di pantai, makan ikan bakar dan menikmati sunset di sore hari. Sepertinya itu akan menjadi hal yang menyenangkan, " perkataan Vita membuat empat pasang mata yang tengah memandangnya membelalak lebar.
"Nggak boleh! Kamu itu lagi hamil muda, nggak boleh beraktivitas seperti itu dulu. Bisa bahaya buat kandungan kamu, " cegah Adrian begitu saja.
"Meskipun Mama masih marah sama dia, tapi ucapannya ada benernya juga. Di usia kehilangan kamu yang sekarang ini, kamu belum boleh melakukan aktivitas yang berat seperti itu, Sayang, " lanjut Mama Indri mendukung perkataan menantunya.
Vita memutar bola matanya malas, " nah, ini nih yang Vita nggak mau ikut salah satupun diantara kalian. Mau gini nggak boleh, mau itu nggak boleh juga. Gimana Vita nggak stress coba? " protes Vita.
"Bener, Kak Vit. Vero dukung Kakak deh kalau mau healing. Vero bakal ikut dan jadi asisten setia Kak Vita, " Vero berjalan ke samping Vita dan memeluk pundak kakaknya tersebut.
Vero mengedip-ngedipkan mata pada papa Indra, memberi kode agar menyetujui saja rencana Kavita itu agar tak ikut dimusuhi oleh kakaknya itu.
Papa Indra yang menangkap kode dari Vero pun turut mendekat dan berdiri di samping Kavita sebelah kanan.
"Bener, Vit. Papa akan senantiasa mendukung dan menemani kemanapun Kavita mau pergi dan tinggal, masalah perusahaan biar asisten, sekertaris dan para bawahan Papa yang handle, "
"Serius, Pa? " seru Vita dengan mata berbinar.
"Ya serius dong, mana mungkin Papa bohong sama kamu. Bohong 'kan dosa, Vit, " ucapan Papa Indra yang secara tak langsung menyindir Adrian daritadi membuat lelaki itu melengos dan menggerutu dalam hati.
"Apa-apaan sih Papa itu? sindir aja teros!, "
"Hmm.. tapi apa aku ikut-ikutan pura-pura setuju aja kali ya, biar dia seneng dan aku bisa mengambil hatinya lagi. Dengan begitu kan Vara juga akan bahagia, " tak pernah tak ada Vara dalam pikiran Adrian.
Apalagi ia juga mendapat kode dari ayah mertuanya itu, ia pun mengangguk mengiyakan dengan sejuta ide yang sudah ia susun dalam otaknya.
Sementara kini tinggal Mama Indri yang masih merasa tak pedulikan, wanita yang hampir berusia separuh abad itu menggembungkan pipi.
"Jadi Mama nggak diajak nih? Mama dikucilkan sekarang, begitu? " ucap Mama Indri dengan masih bersedekap, namun matanya melirik-lirik pada tiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Ya ... soal itu sih terserah Mama, kalau Mama mau ikut ya silahkan. Tapi kalau enggak, kita juga nggak bisa maksa. Ya kan Vit? Ver? " jawab Papa Indra pura-pura cuek.
"Hiih... kok Papa jadi gitu sih sama Mama? Awas aja kalau Papa sampai ikut-ikutan kayak Adrian nggak meduliin istrinya, " kesal Mama Indri.
Adrian yang mendengar namanya disebut pun tak terima, " kok jadi nama Adrian dibawa-bawa? Adrian tuh bukan nggak peduli sama Vita. Udah berapa kali aku bilang kan, kalau-"
__ADS_1
"Aku itu sibuk ngurusin kerjaan, semua ini juga buat kebaikan Vita sama calon anak kami juga, " ucap Vero dan Mama Indri kompak secara tak sengaja.
"Hihihi... " Vita terkekeh geli mendengar kekompakan ibu serta adiknya.
"Let's go! Otewe healing kitaah... " seru Vero lagi.
Tak mudah bagi mereka untuk mendapatkan izin dari dokter Valdi, yang kini secara tak langsung menjadi dokter kandungan Vita. Menurut dokter Valdi sama dengan Adrian dan juga Mama Indri tadi.
Perjalanan jauh memag tak baik untuk Vita yang baru saja bedrest dirumah sakit, tapi dengan bisa menuruti keinginan ngidam Vita itu, Papa Indra meminta khusus kepada dokter Valdi untuk ikut bersama mereka guna memastikan kesehatan dan keselamatan anak serta calon cucu kesayangannya tersebut.
Dokter Valdi menghela nafas, "baru kali ini liat kekompakan keluarga, keharmonisan serta solidaritas mereka bener-bener bikin gue baper, "
Dibujuk dan dirayu sedemikian rupa, membuat mau tak mau sang dokter pun tetap harus mau menyetujuinya. Dan bertambah heboh lah keseruan mereka karena mendapat izin dari dokter Valdi.
"Kenapa nih dokter tengil harus ikut juga sih? Kalau begini keadaannya, aku tetap harus ikut. Kalau tidak, bisa-bisa dia ngrayu Vita pas disana nanti, " kesal Adrian yang melihat Papa Indra membujuk rayu dokter Valdi dan disetujui pula oleh dokter itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Papa Indra segera menghubungi salah satu asistennya untuk mempersiapkan perjalanan. Yaitu meliputi pesawat pribadinya, resort tempat mereka menginap dan lain-lain sebagainya.
Karena Vita tidak mau pulang ke rumah Adrian ataupun ke rumah Papa Indra. Jadi dokter Valdi menyuruhnya sekalian memulihkan diri di rumah sakit saja sampai satu minggu ke depan baru boleh melakukan perjalanan dengan pesawat.
"Anggep aja healing kita dimulai dari sini, yagaya.." ucap Vero yang mencoba enjoy kalaupun harus bolak balik rumah-kampus-rumah sakit selama beberapa minggu ini.
Satu minggu kemudian...
"Libur telah tiba, libur telah tiba.. hatiku gembira, " nyanyian Vero dan Diva memeriahkan suasana.
Kedua orang itu kompak akan membuat Vita bahagia dan melupakan semua masalah yang ada barang sejenak. Paling tidak, pikiran Vita nantinya bisa lebih fresh dalam menghadapi biduk rumah tangganya yang terasa rumit.
Perjalanan yang ditempuh dengan menggunakan pesawat pribadi itu tak terlalu lama memakan waktu. Mereka semua tiba disana pada waktu siang hari, saat mentari tengah teriknya memancarkan sinarnya.
Rombongan Vita yang berisi tujuh orang itu meliputi Papa Indra, Mama Indri, Vero, Diva serta dokter Valdi dan tak lupa Vita sendiri dan ada satu lagi asisten Papa Indra yang juga merupakan pilot yang menerbangkan pesawat yang mereka tumpangi.
Mereka istirahat terlebih dahulu sebelum nantinya akan beraktivitas di pantai seperti yang Kavita inginkan.
"Kak Vita sama Kak Diva, Mama sama Papa, Vero sama dokter Valdi dan.. Om Dino sendiri, nggak papa kan, Om?" Vero membagi kunci kamar mereka.
"Sip, " Om Dino hanya mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju dan tak masalah meski harus tidur sendiri. Bisa diajak healing saja dia sudah sangat senang daripada berasa di kantor dengan segudang pekerjaan yang ada.
Nun jauh disana, Adrian sedang mempersiapkan keberangkatannya menyusul sang istri dan rombongannya itu. Jika ada yang bertanya kenapa Adrian tidak berangkat bersama dengan rombongan Vita, maka jawabannya adalah... orang-orang itu tidak ingin acara jalan-jalan mereka menjadi acara perdebatan lagi.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Adrian dan mama Indri yang belum juga berdamai dengan keadaan.
Sore hari yang indah disambut Kavita dengan senyum bahagianya, gaun pantai berwarna peach membalut tubuhnya yang masih ramping dan belum terlihat membuncit itu sangatlah mempesona dimata kaum adam.
"Vita lagi hamil aja cantik banget gitu, gimana kalau enggak. Adrian bener-bener orang bodoh yang beruntung. Dia bisa mendapatkan bidadari sesempurna itu tapi masih saja... ck. Sudahlah.. " dokter Valdi tak berkedip memandangi Kavita yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hai, Dok.. aku boleh izin mau main air dipantai gak? " sapa Vita begitu sampai di hadapannya.
"Hah? apa, Vit? "
Vita terkekeh melihat dokter Valdi gelagapan, "Dokter ngelamun ya? "
"Sedikit, ngomong apa kamu tadi?"
"Kau boleh main air di pantai gak, Dokter? "
"Oh, boleh kok. Tapi yang gak boleh... "
Vita menunggu kelanjutan perkataan dokter Valdi dengan serius.
"Nggak usah panggil aku dokter dong kalau lagi nggak di rumah sakit, formal banget kesannya, " pinta Valdi.
"Iya juga sih, " Vita mengangguk mengiyakan, "terus, panggil gimana dong? " lanjutnya bertanya.
"Panggil nama aja kali lebih enak. Kan kita seumuran, "
"Oh ya? " tanya Vita tak percaya.
"Ya, apa aku terlihat tua karena menjadi dokter kandungan? "
"No. Bukan begitu, justru sebaliknya. Kamu tuh keliatan masih muda banget. Masih kayak Vero gitu, tapi kan nggak mungkin juga kalau seumuran Vero udah jadi dokter, "
"Mungkin aja, contohnya ya aku ini, "
"Wah.. hebat, "
Kedua krang itu terlihat dalam obrolan yang seru dan saling nyambung satu sama lain. Hingga tibalah seseorang yang hatinya memanas melihat tawa bahagia Kavita bersama Valdi.
•••
__ADS_1
Biar istirahat dulu nih esmosi dan air matanya, Othor ajakin healing si Vita.
Semoga kalian suka🥰