
Valdi membawa Vita ke ruangan bayi yang terletak tak terlalu jauh dari ruangannya tadi, karena tempat itulah yang bisa dengan cepat ia gunakan untuk menyembunyikan Kabita sementara waktu ini. Ia berharap semoga saja Adrian cepat pergi dari sana agar ia tak perlu memindahkan Kavita dan bayinya dari rumah sakit tersebut.
"Good morning my baby boy..." bisik Kavita menyapa putranya yang masih tampak terlelap di dalam inkubator.
"Morning too, Bunda, " Valdi seolah menirukan suara anak kecil mewakili si bayi menjawab sapaan Kavita tadi.
"Apa dia udah mandi, Di? " tanya Vita.
Valdi menggeleng, "belum, cuma di lap aja. Kenapa? "
"Usia dia udah dua bulan tapi belum pernah mandi?" seru Vita reflek.
"Ssst ... lo mau bangunin bayi sebanyak ini apa? " tegur Valdi seraya pandangannya mengedar kesekliling ruangan yang dipenuhi dengan bayi-bayi mungil.
Kavita nyengir kuda, "hehe... sorry. Abisnya kaget gue, "
"Biasa aja kali! Namanya juga dia masih tinggal di dalam inkubator, dia masih butuh perhatian khusus dan kehangatan yang stabil juga. Jadi belum boleh dimandiin, " ucap Valdi menerangkan.
"Owh, gitu ... oke, Pak Dokter. Saya mengerti sekarang, "
"Bagus kalau kamu tau. Emm ... kamu mau coba gantiin dia popok gak? " tawar Valdi yang sontak membuat Kavita menoleh kearahnya dengan mata berbinar.
"Emangnya boleh? " sambar Kavita dengan cepat.
Valdi mengangguk, "tentu aja boleh. Makanya gue nawarin lo, "
"Uuuch, thankyou so much, Valdi ... " ucap Vita girang, hingga tak sadar jika dirinya kini memeluk pinggang Valdi erat.
"Sam..ma - sa..ma, Vit, " balas Valdi tergagu karena tiba-tiba mendapatkan serangan pelukan dari wanita yang disukainya.
Setelah Kavita melepaskan pelukannya yang tanpa gadis itu ketahui sukses membuat tubuh Valdi melemas dan jantungnya terpompa dengan cepat. Valdi membuka inkubator tersebut, lalu menyiapkan popok yang akan digunakan sebagai ganti bayi Kavita nantinya.
Kavita mencoba berdiri sendiri secara perlahan, sedangkan Valdi masih tetap sibuk mencari popok dan juga pakaian ganti atau yang lainnya untuk dikenakan bayi Kavita.
__ADS_1
"Gimana caranya, Di? " tanya Vita dengan suara berbisik, kini ia sudah berdiri di samping Valdi dengan berpegangan pada meja inkubator.
"Kok lo malah berdiri sih, Vit? "
"Emang kenapa? Gue'kan nggak lumpuh, Di. Cuman emang kedua kaki gue lemes banget gara-gara nggak pernah dipake buat jalan, " tutur Kavita.
"Tapi perut lo udah nggak sakit buat berdiri? "
Vita menggeleng, "udah enggak sih, 'kan semua ini berkat lo yang udah selalu ada buat gue, dan senantiasa merawat gue dengan baik selama ini, " ucap Kavita jujur apa adanya.
"Berlebihan lo, "
"Ih, gue serius lah, Di. Kalau nggak ada lo, gue nggak tau harus gimana sekarang ini. Pokonya gue makasih banget sama lo, Di. Lo udah berjasa banget di hidup gue sama banyak gue, " ujar Vita seraya menatap bayi nya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Sama-sama, Vit. Gue ikhlas kok lakuin semua itu buat lo dan little angle, karena gue sayang sama kalian berdua, " ucap Valdi. Kedua mata Vita mengerjap mendengar kalimat Valdi barusan.
"E ... eh, maksud gue itu, say-sayang... yang-"
"Oek ... oek ... oek ... " suara tangisan merdu dari baby boy mengalihkan perhatian kedua orang tersebut.
"Oh ya? Kok lo tau? "
"Coba aja lo cek, "
Kavita mengulurkan tangannya dan membuka perlahan perekat kanan dan kiri yang menempel di popok bayinya, lalu mengintipnya sedikit fmei sedikit.
"Wah beneran ... hebat lo, Di! " ujar nya kemudian.
Valdi terkekeh, tak tau saja Vita jika selama ini dirinyalah yang selalu siap siaga saat penggantian popok pada bayinya tersebut, lalu bagaimana dia tidak hafal bagaimana tangisannya jika Valdi pula yang sudah mengurusi segala sesuatunya tentang bayi itu.
"Terus, ini gimana cara gantiin nya, Di? " tanya Kavita yang merasa malu. Karena aja merasa jika dirinyalah yang seharusnya lebih tau tentang bagaimana cara mengurusi bayinya, bukannya malah orang lain yang justru ia mintai pertanyaan.
"Pertama-tama lo pegang kedua kaki si baby, terus sedikit diangkat keatas, " ucap Valdi mengarahkan.
__ADS_1
Kavita pun mengikuti intruksi dari dokternya tersebut, "terus, abis gini gimana biar pupupnya nggak belepotan ntar? "
"Itu yang popok bagian atas, pon tarik kebawah pelan-pelan, gini nih... " Valdi pun menarik pelan popok bagian atas bayi itu dan ia letakkan di bawah pantatnya si bayi. Valdi lalu mngambil selembar tisu basah dan mengelap pantat bayi itu dengan tisu tersebut. Gerakan tangan Valdi sangat lembut hingga tak mengganggu si bayi yang sepertinya akan kembali ke salam mimpi.
Kavita seolah melihat slow motion hingga terpesona saat Valdi melakukan hal yang seharusnya dilakukan olehnya selaku ibu dari bayi itu, tetapi justru pemuda yang masih berstatus lajang itulah yang lebih cekatan dan lihai melakukan segalanya daripada dirinya.
"Lo nggak jijik ngelakuin hal itu, Di? "
"Kenapa? " Jawab Valdi kembali bertanya dengan mata yang masih fokus pada popok bayi itu.
"Ya, secara elo 'kan cowok, dan masih single pula. Terus bayi yang lo gantiin popoknya juga bukan siapa-siapa lo gitu, " ujar Vita yang merasa tak enak kepada dokter muda tersebut.
Baldi tersenyum seraya tangannya dengan cekatan memasangkan popok pada bayi Kavita.
"Gue udah anggep si little angle ini anak gue sendiri, Vit. Apa lo keberatan? " Valdi yang sudah selesai memasang popok pada bayi Kavita kembali, menegakkan badannya dan mengahadap pada Kavita yang juga menghadap dirinya.
Kavita terperangah, bukan dirinya tak ingin Valdi menganggap bayinya itu sebagai anaknya sendiri, tetapi ada rasa yang aneh di dalam dirinya saat mendengar lelaki itu berkata demikian.
"Eng-gak sih, justru gue seneng kok kalo bayi gue ada yang nyayangin kayak gue sayang sama dia. Apalagi emang lo yang udah ngerawat kita selama ini, sejak gue hamil sampe lahiran dan bahkan sampai saat ini juga lo yang ngurus kita berdua, " ucap Kavita kemudian setelah bisa mnguasai diri.
"Maksih, Vit, " Valdi meraih Vita dan membenamkan kepala wanita itu didadanya dan membawa Kavita kedalam pelukannya. Lelaki itu juga mendaratkan sebuah kecupan lembut di lucuk kepala Kavita.
Keduanya ada pada posisi itu lumayan lama
Vita seolah terpaku dengan perlakuan lembut Valdi, hingga ia hanya diam saja dan seakan pasrah pada perlakuan Valdi padanya.
Mereka berdua ada pada posisi itu lumayan lama, hingga ada sepasang mata menatap kedua insan tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua tangannya pun mengepal erat seolah menahan amarah yang bergejolak di dalam dada.
π₯π₯π₯
Siapa ituπ±π±π±
Jangan sampai si . . . . . . itu deh ya.
__ADS_1
Bikin horror ajah ntarπ₯ π€
Kabur ah sebelum di omelin reader π€