Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Mulai Terkuak


__ADS_3

Ponsel papa Indrawan yang berada di meja ruangan keluarga di vila Valdi bergetar-getar semenjak beberapa waktu yang lalu, tapi tidak ada yang tau karena semua orang saat ini masih berada di halaman. Semuanya masih bercanda ria bersama, seolah tak ada masalah ataupun beban kehidupan yang berarti di dalam kehidupan mereka.


Sementara seseorang yang menelpon ponsel itu di seberang sana masih dalam keadaan menahan amarah dan juga gelisah, ia ingin memastikan sesuatu yang baru saja diterima olehnya. Namun tak adanya jawaban sama sekali dari nomor ponsel yang dihubunginya itu membuat emosinya meluap. Ponsel yang di genggamnya pun dilemparkan ke sembarang arah.


"Aargh... " teriak seseorang yang terkena ponsel tersebut.


"Hajar Adrian sekalian, Pih!" gerutu orang yang terkena lemparan ponsel tadi. Rupanya orang itu adalah Adrian, lelaki itu memegangi kepalanya yang bertambah berdenyut-denyut dan juga teraba benjol oleh tangannya.


"Ya! Papi sangat ingin melakukan hal itu padamu sejak tadi. Kalau perlu sampai kamu sekarat biar sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan itu adalah suatu kebodohan yang nyata! " sentak papi Wijaya yang bumi bisa meredam amarahnya.


Bagaimana tidak, semuanya sudah tersusun rapi sejak awal. Harapan, impian dan juga angan-angan nya sudah hampir terwujud, namun semuanya hancur begitu saja akibat ulah dari anaknya sendiri yang menurutnya begitu ceroboh dan bodoh, sehingga bisa menyia-nyiakan sebuah berlian yang sangat berharga.


"Mana Adrian tau kalau semuanya akan terjadi seperti ini, Pi. Semuanya diluar kendaliku. Mana bisa aku diam saja saat dia kesakitan disana, "


"Dia? Dia siapa maksud kamu? " papi Wijaya menoleh dan menatap Adrian dengan tajam.


"Vara, " cicit Adrian.


Kedua bola mata papi Adrian melotot, seperti handak keluar dari sarangnya, "Vara katamu?! Jadi semua ini kamu lakukan karena wanita itu? " teriak papi Wijaya semakin murka.


"I-iya, Pi, " jawab Adrian takut-takut.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Adrian! " Bentakan papi Wijaya menggema di ruangan kamar Adrian yang luas.


"Kamu bukan lagi bodoh, tapi sangat goblok! " toyoran mendarat di kepala Adrian, semakin meringis dan mengaduh lah laki-laki itu.


"Bisa-bisanya kamu kehilangan berlian yang sangat berharga hanya karena batu kerikil! Dimana otakmu, hah! " papi Wijaya memijat pelipisnya. Rasanya sangat stres menghadapi anak sulungnya itu.


Adrian hanya mampu terdiam mendengar kemarahan demi kemarahan yang terucap dari bibir ayahnya. Sebab ia merasa jika semua itu memanglah benar adanya. Makanya sekarang ia hanya bisa menyesali perbuatan yang sudah dilakukannya waktu itu.


"Andaikan sangat waktu bisa kuulang kembali, maka aku tidak akan pernah melakukan kebodohan itu. Aku tidak akan pernah pergi hari itu, kini aku hanya bisa menyesal kini, " batin Adrian.


Lelaki itu termenung, terdengar helaan nafas panjang dan berat darinya, seakan menggambarkan begitu dalamnya rasa penyesalan yang menggerogoti hatinya saat ini.


"Apa memang sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk memperbaiki semuanya, Kavita? Jika kamu mau kembali, aku benar-benar berjanji menjadikanmu satu-satunya ratu di hatiku dan juga istana ini, Vita. Kumohon... kembalilah, " bulir bening kembali menetes dari kedua indera penglihatannya, sehingga pandangannya mengabur.


...Pengadilan Agama... ...


Baru membaca asal surat itu saja sudah membuat jantung yang seakan berhenti berdetak, bagaimana jika ia membaca apa tujuan dari surat tersebut, bisa-bisa ia terkena serangan jantung dadakan, mungkin.


"Ini pasti salah 'kan? Nggak mungkin surat ini untukku dari Kavita, " gumam Adrian.


Papi Wijaya yang masih duduk di sofa menoleh Adrian dengan sengit, "lalu apa menurutmu itu dari wanita pertamamu itu?! " pertanyaan bernada jengkel itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Sungguh rasanya ia ingin mencekik Adrian saat itu juga jika tidak ingat dosa. Maka dari itu ia memutuskan untuk keluar saja dari ruangan itu sebelum emosinya duar kendali dan tak lagi bisa mengingat dosa.


"Mana mungkin! Orang yang sudah dikubur bisa mengirim surat seperti ini, " lirih Adrian, namun masih tertangkap sama-sama di indera pendengaran papi Wijaya yang sudah memegang handle pintu.


"Maksud kamu, wanita itu sudah? " tanya Papi Wijaya menggantung.


Adrian mengangguk lemah, "dan meninggalkan rasa kecewa yang mendalam untukku, "


"Sukurin! " bukannya berempati, malah kata itulah yang keluar dri mulut papi Wijaya. Meski agak terkejut, tapi lelaki paruh baya itu tetap bersikap biasa saja mendengar kabar buruk itu.


Berbeda dengan mami Shinta yang baru saja masuk dan secara tak sengaja turut mendengarnya.


"Maksud kamu, Vara sudah... meninggal, Adrian? " tanya mami Shinta. Wanita itu seketika lupa dengan tujuannya semua untuk apa kesana.


Adrian kembali mengangguk.


"Kenapa tiba-tiba? Apa yang terjadi? "


Kini Adrian menggeleng, ia seperti enggan untuk mengingat lagi kejadian beberapa bulan yang lalu, yang membuatnya bersedih, terpukul, dan merasa kecewa sekaligus.


"Apa karena penyakitnya itu? " tebak mami Shinta.

__ADS_1


Tarikan nafas dalam dan berat kembali terdengar, Adrian merebahkan tubuhnya yang terasa semakin lemas saja mengingat kejadian itu.


"Mungkin... "


__ADS_2