
Air mata kembali membasahi pipi putih Vara yang baru saja tersadar dari pingsannya karena efek obat bius. Akhirnya wanita itu kini benar-benar resmi menjadi wanita tanpa rahim, bahkan diusianya yang masih terbilang muda.
Dia meratapi nasibnya yang begitu buruk yang tak bisa lagi merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita sempurna. Ia tak bisa lagi mengandung dan memiliki anak yang tumbuh di dalam rahimnya sendiri, karena rahimnya pun kini sudah tak ada lagi di tempatnya, di dalam tubuhnya.
Valdo pun tak kalah sedihnya dengan Vara. Dia merasakan kepiluan wanita yang dicintainya itu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena yang dilakukannya itu merupakan hal yang terbaik bagi Vara.
"Please, Vara ... hentikan tangisan lo! Lo makin ngebuat gue merasa bersalah, apa yang harus gue lakuin sekarang buat nebus kesalahn gue sama lo? " Valdo sudah tak tega melihat Vara yang menangis dalam diam sejak wanita itu tersadar.
"Semua ini bukan salah lo, Do.Tapi emang nasib gue aja yang kurang beruntung,"
"Lo itu wanita paling beruntung Var. Lo memiliki kesempurnaan yang nggak dimiliki oleh wanita lain, bahkan lo sering bikin mereka semua iri, " ucap Valdo menghibur Vara.
"Tapi gue nggak bisa punya anak, Valdo! " tangis Vara mulai pecah.
"Itu bukan suatu hal yang besar, Vara! Bahkan di luar sana masih banyak juga wanita yang gak bisa memiliki anak meskipun ia masih memiliki rahim yang utuh, " bela Valdo.
Vara terdiam, dia hanya menangis tergugu.
Valdo semakin merasa bersalah dibuatnya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menghibur wanita yang sudah mengisi kekosongan hatinya selama ini.
"Dengerin gue, Var. Kalau sampai nantinya Adrian nggak bisa nerima lagi lo lagi, ingetlah .. masih ada gue yang akan selalu ada buat lo, yang akan selalu mencintai lo apa adanya, " lirih Valdo. Ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang ia simpan.
Vara mendongak, ia merasa tak habis pikir dengan sepupu itu. Ia menyangka jika Valdo sudah melupakan perasaannya, dengan lelaki itu pergi ke luar negeri. Tapi ternyata perasaan Valdo tak pernah berubah untuknya. Ia masih saja berusaha untuk mendekatinya dan tetap mengharapkannya.
"Lo gila, Valdo! " teriak Vara.
__ADS_1
"Gue emang gila tergila-gila sama lo, Vara! " jelas Valdo semakin tak terkendali.
"Tapi perasaan lo itu nggak bener, Do. Lo sadar 'kan, kita itu saudara, "
"Saudara sepupu, Var. Kita saudara jauh, yang bahkan nggak ada hubungan darah di antara kita. Hanya silsilah keluarga aja yang menyebut kita saudara. Yang bersaudara itu kakek nenek kita, bukan kita, " sangkal Valdo tak terima.
"Tetep aja kita bersaudara, Valdo, " tangis Vara kian menjadi.
"Dan juga, lo itu cowok yang sempurna. Dan nggak pantas mengharapkan gue. Gue itu cacat, sedangkan lo itu sangat sempurna, Valdo! " lanjut Vara di sela tangis nya.
Valdo menggalang kuat mendengar ucapan Vara yang menurutnya sangat tidak benar.
"Lo masih sangat bisa mendapatkan wanita yang terbaik dan yang sempurna, juga sesuai sama apa yang lo inginkan. Bukannya gue. Bahkan gue udah menjadi bekas laki-laki lain ...
lu nggak pantes buat gue, Valdo. Bukan karena lo ada kekurangan, tapi karena gue yang nggak sempurna, gue yang cacat, " ucap Vara berulang kali, membuat amarah Valdo menguap.
"Udah berapa kali gue bilang, lo itu nggak cacat. Dan nggak akan pernah cacat di mata gue. Lo itu wanita yang paling sempurna setelah ibu gue, " ucapan Valdi melemah seriring tangis nya.
"Tolong sadar, Aldi! Sadar...! Masih banyak wanita di luar sana yang mau sama lo! Yang pastinya bisa mencintai lo dengan tulus dan apa adanya, bukan kayak gue yang hati gue seutuhnya udah gue kasih ke suami gue, Adrian, " seru Vara menahan denyutan nyeri di perutnya.
Valdo tersenyum miris, "kenapa harus Adrian sih, Var? Kenapa? Kenapa harus dia? laki-laki brengsek yang nggak bisa perjuangin lo, disaat lo butuh perhatian dan kasih sayangnya, "
"Ini semua bukan salah Adrian, Do. Ini semua salah gue sendiri, gue yang nggak sempurna ini nggak bisa kasih dia keturunan. Dan gue juga yang udah ngebujuk dia buat dia nikah lagi. Semua ini sama sekali bukan kesalahan dia," bela Vara yang semakin membuat Valdo merasa miris.
"Bahkan dia aja nggak mau buat nikah lagi sebenernya, gue yang udah nyuruh dia buat nikah lagi, " Vara menutup wajah dengan kedua tangannya, wanita itu menagis lagi disana.
__ADS_1
Vara tak ingin Valdo terus menerus menyalahkan Adrian. Karena sejatinya memang itulah kenyataan nya. Ia sendiri yang sudah menyetujui bahkan mendukung perjodohan Adrian dan Kavita, saat Adrian dengan tegasnya menolak perjodohan tersebut.
"Bisa-bisanya lo lakuin hal itu, Vara. Lo emang udah gila! " Teriakan Valdo berhenti saat melihat Vara meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
Lo kenapa, Var? Sorry.. maafin gue, gue nggak maksud buat lo kesakitan lagi. Bentar, gue panggilin dokter dulu, "panik Valdo.
Lelaki itu segera menghubungi dokter temannya yang tadi mengoperasi Vara.
Selang beberapa waktu, dokter pun selesai memeriksa dan mengobati Vara. Sepeninggal dokter, Valdo pun turut pamit pada Vara.
Lo istirahat aja, Var. Gue keluar dulu cari angin, "
"Tapi lo nggak marah 'kan fals sama gue
"Nggak mungkinlah gue marah sama lo, gue cuma butuh jernihin pikiran gue aja, biar nggak terlalu emosi, " balas Valdo.
Setelah berpamitan pada Vara. Valdo pun keluar dari ruang perawatan Vara dan menuju taman di rumah sakit tersebut.
Sesampainya lelaki itu di taman rumah sakit, ia pun mengusal rambutnya kasar," bisa-bisanya sih, Do. Lo teriak kayak gitu ke Vara, dia kan jadi takut sama lo, jadi marah sama lo. Dia pasti jadi makin kecewa lagi sama lo, "
"Harusnya gue bisa ngendaliin emosi gue tadi, kenapa gue malah jadi terpancing gara-gara ingat sama laki-laki brengsek itu, " gumam Valdo seorang diri.
"Kalau sampai laki-laki itu macam-macam sama Vara, atau dia ninggalin Vara, bakalan gue pastiin gue bakal kasih perhitungan sama dia, awas aja, tekad Valdo.
Valdo masih ingat betapa dulu ia selalu ada di samping Vara. Dia yang selalu mendampingi wanita itu, dan selalu memberikan kenyamanan pada Vara. Tapi kedatangan Adrian mengacaukan segalanya yang ia rencanakan.
__ADS_1
Pada awal perkenalan Vara dengan Adrian, Vara masih selalu menceritakan tentang Adian kepada Valdo, dan Valdo pun selalu terbakar cemburu dibuatnya. Tapi ia berusaha meredam esmosi nya demi Vara tak menjauh darinya.
Tapi kenyataan berkata lain, ketika wanita itu lebih memilih Adrian ketimbang dirinya, yang Vara anggap tak lebih dari saudara sepupu saja.