
"Gu-gue... nusuk lo dari belakang? Maksudnya? " Valdo menajamkan penglihatannya, tatapannya mencoba menerobos kaca mata hitam dan juga masker hitam yang di kenakan oleh sosok pria yang ada di hadapannya itu.
"L-lo? " kedua bola matanya membulat saat ia merasa mengenali postur tubuh dan juga si pemilik suara berat itu. Memang sudah cukup lama ia tak bertemu dengan Adrian, makanya ia lupa dengan sosok lelaki itu. Apalagi Adrian emang sudah banyak berubah semenjak terakhir kali ia melihatnya.
Adrian yang dulu kurus tinggi, semenjak menikah dengan Vara dan menjadi CEO, juga seiring bertambahnya usianya yang semakin matang, ia menjadi lebih berisi dan berpostur tegap. Wajahnya lun menjDi tegas dan berwibawa. Sangat berbeda seperti saat masih duduk di bangku SMA yang begitu kurus dan lugu.
Valdo menelan saliva nya dengan susah payah, tatkala pikirannya mulai menerka siapa sosok yang masih mencengkeram rahangnya itu.
"Apa mungkin dia Adrian? " batinnya ragu-ragu dan takut. Kalau benar lelaki itu adalah Adrian, itu artinya sama saja dengan tamat riwayatnya.
"Udah inget siapa gue?"
Valdo menggeleng samar, ia mencoba menyangkal jika pria itu ialah Adrian. Walau bagaimana pun, Adrian tak boleh menukannya, lelaki itu tak boleh menemukan keberadaan dirinya dan juga Vara. Sekiranya itulah yang ada di dalam benak Valdo.
Adrian menghempaskan wajah Valdo yang sejak tadi di cengkeraman olehnya. Ia merasa benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi Valdo yang benar-benar licik. Sudah jelas-jelas di depan mata, masih saja ia mencoba berkilah.
Valdo pun langsung menggerak-gerakkan otot wajahmya yang terasa sakit akibat cengkeraman Adrian tadi. Ekor matanya menangkap lengan tangan Vara yang masih di cengkeraman tak kalah eratnya oleh Adrian, wanita itu hanya bisa meringis dan sesekali mendesis menahan rasa sakit. Ingin sekali ia menarik tangan besar Adrian yang menyakiti wanitanya itu. Tapi apa daya, ia sendiri saat ini tak bisa berbuat apa-apa. Sebab tubuhnya masih saja di kunci oleh dua orang berbadan kekar bawaan lelaki yang ia tebak adalah Adrian.
"Lo bener-bener licik, Do! Bermuka dua!" geram Adrian. Giginya bergemurutuk, sepertinya ia gak dapat lagi menahan diri untuk tak memukul lelaki yang sudah membawa pergi, menyembunyikan dan mungkin juga menikahi istrinya tersebut.
Bugh
"Valdo...! " teriak Vara yang terkejut melihat Adrian memukul Valdo hingga wajah laki-laki itu tertoleh ke samping. Darah segar menetes dari hidungnya. Sepertinya hidung mancung lelaki itu patah.
__ADS_1
Adrian menoleh sengit pada istrinya.
"Kamu meneriakkan namanya? Apa sebegitu berartinya dia bagi hidupmu saat ini, Vara? "
Vata melipat bibirnya menahan tangis. Ia tertunduk, merasa tak sanggup menatap bola mata Adrian yang berkilat penuh amarah.
"Apa sekarang dia yang lebih penting bagimu daripada aku?" lanjut Adrian bertanya. Vara hanya bisa menangis tersedu.
"Cih! Simpan saja air mata palsumu itu, jika hanya untuk lelaki licik sepertinya,"
Adrian kembali melangkah dan menyeret lengan Vara. Tapi, lagi dan lagi Valdo pun kembali berteriak. Lelaki itu tak peduli pada hidungnya yang saat ini masih meneteskan darah, rasa ngilu bercampur perih ia abaikan begitu saja. Yang terpenting baginya saat ini adalah ia harus bisa menyelamatkan Vara dari cengekramn laki-laki gila itu walau bagaimana pun caranya.
"Lepaskan Vara! " teriak Valdo.
"Baik, Bos, " Beno melepas kunciannya pada tubuh Valdo. Valdo langsung mencoba berontak. Tapi Beno tak mungkin membiarkannya lepas, bisa-bisa nanti malah dirinya yang terkena amukan Adrian.
Beno memberi kode pada temannya, tubuh Valdo kembali di kunci oleh teman Beno. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Beno langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Valdo. Ia seperti sedang melampiaskan dendamnya karena beberapa waktu yang lalu di pukuli oleh Adrian, bahkan bekas mekarnya saja masih terlihat sampai saat ini.
Meski dihajar sebegitu rupanya, Valdo tetap berteriak meminta supaya Adrian melepaskan Vara. Begitu pula Vara yang juga berteriak menyuruh Beno untuk berhenti memukuli Valdo.
"Beno, hentikan! Aku mohon, Beno. Hentikan!" teriak histeris Vara mrlihat Valdo mulai dibuat babak belur oleh Beno.
"Wah, wah, wah... " Adrian bertepuk tangan setelah melepaskan cengkeraman nya pada lengan Vara.
__ADS_1
"Sebuah kisah cinta yang indah, "
Begitu lemah nnya terluas dari tangan Adrian, Vara segera berlari mendekat pada Valdo dan mencoba melindungi laki-laki itu dari amukan Beno yang tanpa ampun memukulinya sejak tadi.
Kesempatan, mumpung punya samsak nyata yang gratis. Mungkin begitu yang ada di dalam fikiran Beno.
"Stop, Beno! Stop! " seru Vara seraya memeluk tubuh Valdo yang sudah lemas tak berdaya.
Hampir saja wanita itu terkena bogem mentah Beno karena saking seringnya Beno melayangkan pukulan pada Valdo.
Beno menoleh pada Adrian, bertanya melalui kode apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Adrian mengibaskan tangan sebagai tanda jika Beno harus mundur, dan temannya juga mulai melepaskan Valdo.
Tubuh Valdo luruh ke lantai, jika saja Vara tak memeluk dan menahannya, mungkin kepalanya pun juga langsung menyentuh lantai.
"Do... Valdo, lo nggak papa, kan? " sebuah pertanyaan konyol pun meluncur dari bibir bergetar milik Vara sebab saking paniknya.
"Ak-ku... baik, Ra, " jawab Valdo sangat lirih. Nafasnya tersengal, ia merasa sesak. Sebab Beno memukul hampir semua bagian tubuhnya.
"Jang-an nang-is, "
"Hiks, Valdo... " Vara terus menangis tersedu hinga membuat Adrian yang menyaksikannya merasa jengah.
"Sudah, dramanya? "
__ADS_1