Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Bak Keluarga Kecil yang Bahagia


__ADS_3

Kavita yang tiba di tempat tinggal Valdivia menatap berkeliling pada bangunan indah di depannya. Sebuah rumah yang tak terlalu luas namun juga tak begitu kecil, ya berukuran sedang mungkin untuk sebuah keluarga kecil. Namun yang membuatnya kian takjub bukan hanya model bangunan saja yang unik, tapi juga halamannya yang lumayan luas dengan rumput hijau membentang serta banyak pohon-pohon buah yang tak terlalu tinggi namun berbuah lebat.


Pemandangan itu benar-benar menyejukkan matanya dan membuatnya seakan ingin berlari untuk memetiki buah-buah itu dan memakannya begitu saja di dekat pohonnya langsung. Namun setelah tersadar jika ada bayi di pangkuannya ia pun hanya bisa tersenyum dan menggeleng kan kepala mengingat bayangan khayalannya.


"Kakak kenapa senyum-senyum gitu? " Vero yang melihat kakaknya tersenyum sendiri tanpa sebab jadi penasaran dan bertanya.


"Hah? Nggak ada, seneng aja liat pemandangan yang sejuk dan dan indah disini. Emang ini rumah siapa? " Kavita menoleh pada ketiga orang yang mengelilinginya.


"Rumah Bang Valdi, "


"Lhah, kenapa kalian ngajakin gue kesini? "


"Ya kan kamu butuh suasana baru, Bun, " jawab Valdi yang jelas saja membantu ketiga orang lainnya mengerjap-ngerjap mencerna panggilan dari Valdi untuk Vita brusan. Bahkan lelaki itu juga sudah memanggil 'kamu' pada Vita, bukannya 'lo gue' lagi.


"Bun? " tiru Vero dan Diva saling pandang dengan tanpa suara.


"Tapikan nggak harus ke rumah dokter Valdi juga, Vero, " gumam Vita geregetan pada adiknya.


Vero nyengir kuda dan menggaruk kepalanya, ia tak tau harus memberikan alasan apa untuk itu, daripada berbohong dan akan menjadi kemana-mana nanti jawabannya, jadi ia hanya nyengir saja sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang salah sama panggilan gue? Kalian cemburu? Iri? Ha? Bilang, " sewot Valdi yang malah membuat Kavita terkekeh.


"Asal kalian tau ya, Uncle, Onty. Di depan baby kalian harus belajar ngomong bang baik dengan tutur kata yang halus, soalnya dia dengar. Jadi, kita harus selalu mengajarinya hal-hal yang baik biar nggak somplak kayak kalian, " jelas Valdi yang berbisik saat mengatakan kata 'somplak'.


"Terus, hubungannya sama panggilan Bunda apa, Bang? "


"Ya jelas buat ngajarin baby juga dong. Biar dia terbiasa manggil kita seperti itu. Karena Kavita maunya dipanggil bunda, jadi kita manggil dia bunda juga di hadapan baby. Dan Kavita juga manggil gue ayah, gitu, "


"Huuu.... modus! " Vero dan Diva kompak menyoraki Valdi.


"Udah ayo masuk! Kasian my baby kalo lama-lama di luar. Tadi Ayah udah nyuruh orang buat nyiapin tempat untuk kalian, Bun, "


"Hahaha, " Vero terbahak, "kok manggil anya bukan ayah kayak Bang Valdi manggil Bunda ke Kakak? "


"Sial-,"


"Bang, Bang, inget. Harus ngajarin baby yang baik-baik loh, "


Valdi pun hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil menggerutu karena merasa mati kutu oleh sindiran Vero barusan.

__ADS_1


"Udah, udah... ayo, Yah, kita masuk! " ajak Vita dengan memanggil Valdi ayah untuk membuat lega hati sangat dokter yang sudah berkorban banyak untuk dirinya tersebut. Hal remeh itu berhasil membuat suasana hati Valdi membaik seketika, dan seakan tumbuh bunga-bunga bermekaran di sekelilingnya saat itu juga.


Valdi berjalan kembali seraya mendorong kursi roda Vita, ia menoleh pada Vero dan Diva sembari menjulurkan lidah kearah mereka.


"Wah, kayaknya mereka serius deh, Ver, "


"Biarin aja, justru itu perkembangan yang baik kan? " ucap Vero dengan melangkah juga mengikuti sang kakak yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dokter Valdi.


"Welcome home, Bunda Vita dan baby... Semoga kalian betah tinggal disini. Ntar biar Ayah minta orang buat bikin suasana rumah ini seperti apa yang kalian suka, "


Vita segera melambaikan tangan ke kanan dan kiri, "nggak perlu, Yah. Ini semua udah indah kok, dan pastinya bikin kami lebih betah tinggal disini daripada di rumah sakit, " ujarnya tak ingin lebih merepotkan pemuda baik hati itu.


"Jangan sungkan sama Ayah, Bun. Biar baby juga ngerasa nyaman disini, " Valdi mengambil bayi dalam pangkuan Vita karena mereka sudah sampai pada sebuah kamar yang Valdi siapkan untuk kedua tamu spesial nya itu.


Sebenarnya bukan tamu ya, karena Valdi menganggap mereka adalah orang teristimewa nya. Dan berharap jika mereka akan benar-benar menjadi sebuah keluarga sesungguhnya suatu saat nanti.


Hah... terlalu bermimpi kah dia? Kita lihat saja nanti.


Baby Kavita diletakkan dalam box bayi yang berbentuk sedemikian rupa hingga tak kalah seperti inkubator yang ada di rumah sakit agar bayi itu merasa nyaman dan hangat di dalam sana.

__ADS_1


Dan karena Kavita sangat ingin tidur bersama dengan bayinya, maka di kamar itulah Valdi mewujudkan nya. Karena disana juga ada ranjang tidur khusus untuk Kavita. Entah bagaimana tadi Valdi mempersiapkan nya, tau-tau semuanya sudah siap dan tampak sangat nyaman untuk kedua orang tersayang nya itu tempati.


__ADS_2