Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
PENGUMUMAN Cuplikan Novel Apa Salahku, Ibu Mertua?


__ADS_3

Ternyata untuk mati pun tak semudah itu.


Hidupku kini lebih buruk daripada di penjara. Setelah Rega menarikku dan menyelamatkanku waktu itu hingga aku terlepas dari upaya bunuh diri.


Aku sangka waktu itu karena ia sudah percaya padaku, tapi ternyata tidak, ia menyelamatkan ku hanya karena tidak ingin rumahnya ternoda oleh darahku.


"Kalau kamu mau mati, di jalan atu rel kereta sana! Jangan di rumahku, yang ada nanti dikira aku yang membunuh mu, "


Perkataan Rega waktu itu sungguh sangat menyayat hatiku.


Rasa sakit karena di siksa oleh ibu mertuaku, di lecehkan oleh Raka disetiap waktu, dan kini masih ditambah dengan tatapan kebencian dari suamiku sendiri.


Sungguh aku benar-benar ingin mati saja daripada harus hidup seperti ini. Tapi kenapa mereka tak pernah mengizinkanku, mereka hanya senang menyiksaku saja.


Sebenarnya apa salahku, ibu mertua?


Kenapa kau begitu sangat membenciku?


Tubuhku yang lemah karena aku baru mengandung, aku mengetahuinya karena merasakan mual dan pusing yang berkepanjangan dan aku juga tak memiliki nafsu makan sama sekali.


Tapi tak ada sedikitpun ibu mertuaku merasa iba, ia tetap memberiku pekerjaan berat di setiap harinya. Bahkan ia tak segan-segan menyiksaku jika aku ketahuan sedang beristirahat karena merasa sangat lemah.


Bahkan ia hanya memberiku makan saat Rega dirumah saja, itupun ia akan segera mengambil dan membuangnya meski aku belum selesai makan, jika Rega sudah keburu pergi bekerja.


Sedangkan Rega, ia acuh dan seakan tak perduli padaku. Ia tak memintaku pergi dari kamarnya atau memutuskan untuk tidur terpisah, tapi ia selalu memunggungiku dan tak pernah menyentuhku. Apalagi menyapa buah hatinya yang ia percaya adalah anak dari orang lain.


Aku kesakitan, aku kelaparan, aku kesepian, aku tersiksa.


Tuhan...

__ADS_1


Apakah dosaku dimasa lalu, hingga Engkau mengujiku seberat ini.


Saat aku tengah terlelap di gudang tempat tidurku kala Rega keluar kota, karena kelelahan usai bekerja dan menangis meratapi nasibku, Raka selalu hadir dan melecehkan ku, meski hanya sebatas menggerayangi ku, tapi aku merasa sangat terhina. Lagipula ibu mertua tak akan pernah sudi juga jika anak kesayangannya itu menyentuhku, ia akan memanggil dan memarahi Raka.


Hingga malam ini pun sama, entah kemana Rega juga ibu mertuaku yang selalu tak pernah bisa melihatku tidur nyenyak. ia akan menggangguku sepanjang waktu, tidak kenal pagi, siang ataupun malam. Asalkan Rega tak di rumah, ia merasa itu adalah waktunya beraksi.


Ia selalu membangunkan ku dengan cara menyiram ku dengan seember air penuh hingga aku basah kuyup. Tanpa memberiku waktu untuk berganti baju, ia langsung menyuruhku ini dan itu sesuka hatinya.


Bahkan pernah ia membangunkanku dengan cara menempelkan setrika panas di punggungku hingga aku terjengkit dan menjerit kesakitan. Rega belum tau jika di sekujur tubuhku yang kerempeng ini penuh dengan luka dan memar. Karena ibu mertua memberiku daster kedodoran setiap harinya, hingga aku lebih mirip pembantu daripada seorang istri Rega.


Jika Rega sedang di rumah, ia menyuruhku memakai gamis panjang hingga seluruh tubuhku tertutup, itulah usahanya agar tak dicurigai oleh Rega dan papa Refan.


Aku menjerit dan meronta saat Raka mencoba menjamah ku, aku melawannya dengan sisa sisa tenagaku. Ia tertawa terbahak dan bertindak semakin beringas.


"Menurutlah, Kakak Ipar.. siapa suruh kau menggodaku. Tubuhmu yang baru berbadan dua itu bahkan terlihat lebih menggoda dimataku, "


Kilatan mata Raka membuatku bergidik ngeri, apa aku akan benar-benar diperkosa olehnya saat ini?


Raka menarik bajuku, aku menampar nya, namun ia membalasnya dengan pukulan yang lebih keras hingga aku jatuh tersungkur.


Perutku terasa sakit, aku meringis kesakitan sampai-sampai air mataku kembali tumpah tak tertahan.


"Heh! Berani nampar gue, ya lo! Gue udah sabar banget sama lo selama ini, bahkan gue selalu belain lo di depan nyokap gue, tapi ini balasan lo buat gue? hah?!" Raka murka, wajahnya memerah dan matanya melotot, sepertinya ia akan benar-benar memaksakan kehendaknya kali ini.


Raka memaksa menciumku, dan meremas payudaraku hingga rasa sakit yang ku rasakan semakin bertubi. Perutku masih terasa nyeri, juga wajahku yang dipukul olehnya, kini ditambah dengan gigitan dan remasannya.


Sampai tiba Raka menyibak pakaianku, aku masih mencoba mempertahankan kehormatan ku, aku melawannya, dan meraih apapun yang bisa aku gapai. Aku menemukan sebilah belati yang entah dari mana asalnya, dan semua terjadi begitu saja.


Aku menusuknya, tepat di dadanya sebelah kiri. Entah terkena apanya, yang jelas, Raka langsung tersungkur tanpa kata, hanya darah yang mulai merembes, lalu mengalir deras hingga memenuhi lantai disekitarnya.

__ADS_1


Aku kebingungan tidak tau harus bagaimana, aku linglung dan ketakutan. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Aku ingin pergi dari tempat ini sekarang juga, tapi harus lewat mana? sedangkan satu-satunya jendela di gudang ini sudah dipasangi teralis besi.


Aku mencoba menggedor pintu yang terkunci, tapi rasa sakit di perutku kian menjadi dan tiba-tiba semuanya gelap, kalau aku tak ingat apa-apa lagi.


Ruangan dengan bau obat-obatan yang menyengat menyapa indera penciumanku.


Aku kira aku sudah mati, tapi ternyata aku tengah berada di rumah sakit. Apa yang sudah terjadi?


Bagaimana dengan anakku?


Bagaimana keadaan Raka?


Entah kenapa meskipun ia sudah sangat jahat terhadapku, tapi aku masih mengkhawatirkan nya. Bukan, lebih tepatnya aku tak mau dianggap menjadi pembunuh untuk kedua kalinya.


Tapi teriakan ibu mertuaku yang tiba-tiba begitu mengagetkanku, ia bilang ia akan menuntutku. Ia melaporkan ku ke pihak yang berwajib.


Kulihat Rega hanya diam disamping ibu mertua. Hanya Papa Refan yang terlihat bersimpati kepadaku, beliau menghiburku dan percaya jika aku tak mungkin sengaja membunuh Raka, walaupun entah lelaki itu memang sudah mati atau belum, tak ada yang mengatakannya.


Sekelebat aku melihat Robin yang kedua matanya turut berkaca-kaca, mungkin ia merasa iba padaku, ia berdiri di belakang papa sambil memegangi kursi rodanya.


Kedatangan dokter membuatku tau, kalau aku sudah kehilangan janinku yang baru berusia dua bulan. Aku menangis merasa tak becus menjaga anakku, aku bukan calon ibu yang baik.


Papa Refan menguatkanku, ia menghiburku. Rega memalingkan muka dan mengusapnya, apa dia juga menangis? apa dia juga bersedih?


Belum lagi dukaku berakhir, Polisi datang dengan membawa surat penangkapan ku. Ternyata ucapan ibu mertua tempo hari nyata, bukan hanya sekedar kata-kata ancaman belaka.


Papa Refan menyangkalnya, ia turut menyewa pengacara untukku dengan bantuan Robin. Dan permusuhan bukan terjadi antara ibu mertua dan aku, tetapi papa mertua yang juga berada di pihak ku membuat mama Siska dengan terang-terangan melawannya.


Apakah aku akan di jebloskan ke penjara setelah ini?

__ADS_1


Ataukah memang ini jawaban dari Tuhan atas penderitaanku, agar aku bisa terbebas dari segala siksaan ibu mertuaku.


Aku hanya bisa pasrah akan nasibku selanjutnya. Karena harapanku untuk bisa merasakan kebahagiaan kini sirna sudah.


__ADS_2