
Persaingan dimulai!
Adrian menatap sengit pada dua orang laki-laki yang berdiri di belakang Kavita saat ini. Lelaki itu melangkah maju, Valdi dan juga Aditya ikut maju juga hingga kini posisi mereka tepat berada di samping Kavita, hingga Adrian semakin kesal dibuatnya.
"Ngapain kalian berdua disini?! Minggir sana! Gue mau ngomong sama istri gue," seru Adrian pada dua orang laki-laki itu.
"What?! Apa lo bilang bilang tadi? Istri? Gue nggak salah denger tuh?" sahut Valdi, "perasaan baru aja gue jadi saksi perpisahan antara lo sama Kavita, dan lo sama dia itu udah resmi cerai ya, udah END, jadi nggak ada lagi kata istri buat dia dari lo! " lanjutnya menunjuk Adrian.
Wajah Adrian memerah. Rasa kesal, jengkel, marah yang semula sempat diredamnya demi bisa bertemu dengan Kavita, kini kembali membuncah. Kedua tangannya terkepal erat, bahkan tangan kanannya saja sudah melayang di udara hendak menghampiri pipi kiri Valdi, untung saja aksi itu dihentikan oleh pihak keamanan, jika tidak bisa saja Adrian kembali menjadi semakin viral karena aksi kekerasan. Bahkan mungkin Valdi akan menggunakan hal tersebut sebagai tuntutan untuk menghukum Adrian.
"Lepasin gue...!!!" teriakan Adrian menggema di gedung pengadilan agama tersebut.
Kedua laki-laki yang masih tetap setia berada disisi kanan kiri Kavita itu tersenyum smirk menyaksikan Adrian diamankan oleh petugas keamanan karena dianggap membuat keributan, bahkan hampir saja membuat kekacauan. Adrian memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kedua penjaga keamanan tersebut, tak lupa kata-kata umpatan terus ia teriakkan hingga memekakkan telinga.
"Dasar arogan! " ucap Valdi sesaat setelah Adrian dibawa pergi oleh petugas keamanan.
"Angkuh! " timpal Aditya.
Tatapan mata kedua lelaki itu masih terus tertuju pada Adrian yang terus berusaha melepaskan diri seraya berteriak-teriak.
Berbeda dengan kedua lelaki itu, Kavita justru menutupi wajahnya merasa malu. Entahlah, rasanya Kavita sangat malu pada dirinya sendiri dan juga pada dunia, sebab pernah mencintai lelaki seperti Adrian yang begitu terlihat banyak minusnya saat ini. Berarti dulu mata hati Kavita yang minus, makanya tidak bisa melihat segala keburukan yang ada di dalam diri Adrian. Atau ... memang dulu begitu pandainya Adrian dalam berkamuflase sedemikian rupa sehingga Kavita serta ayahnya dapat terkecoh pada lelaki itu dan juga keluarganya yang penuh sandiwara.
"Belagu! " ucap Valdi lagi.
"Kekanakan! " Aditya kembali menyahuti pula.
"Somb- ... " Valdi menghentikan ucapannya, ia menoleh pada Aditya yang sejak tadi menyahuti setiap perkataannya, seolah-olah pemuda itu setuju dengan semua yang ia ucapkan tadi.
Valdi mengangkat sebelah alisnya, "Adrian 'kan abang lo, ngapain lo ikut ngejelek-jelekin dia? " tanya-nya heran.
"Bang Adrian mah nggak usah di jelek-jelekin juga udah jelek kali, " balas Aditya dengan entengnya.
Kavita membuka tangannya yang semula menutupi wajahnya, "Kalo itu gue setuju, Dit, " sahutnya pada kalimat Aditya, yang diakhiri dengan tawa.
"Dasar ...! Rupanya adek lucklut juga ya lo, untung aja lu bukan adek gue,"
"Hahaha ..." Aditya tertawa, "hooh, untungnya juga bukan lo abang gue, " ucapnya.
"Emang kenapa?"
"Emm ... nggak papa, " balas Aditya enggan menjawab.
__ADS_1
"Eh, Vit, kita ke resto depan yuk! Laper nih gue, " Aditya malah sudah beralih pada Kavita lagi dan mengabaikan Valdi.
Mendengar perkataan Aditya, Valdi segera berjalan ke depan Kavita, menghalangi wanita itu dari Aditya.
"Heh, kalo lo laper, makan sendiri sono! Ngapain juga musti ngajak-ngajak Kavita segala, " semburnya pada Aditya.
"Eh, gue ngajakin Kavita ya, bukannya elo, ngapain juga elo yang sewot!" Aditya tak mau kalah, ia balik menyembur Valdi, " minggir sono!" Digeser nya Valdi dari hadapan Kavita.
"Kavita tanggung jawab gue asal lo tau. Lo lupa tadi Om Indra nitipin Kavita ke gue, lo nggak budeg 'kan? " ucap Valdi, sebab ia merasa bertanggungjawab atas Kavita karena perintah dari papa Indrawan tadi.
"Nitipin.. nitipin. Lo pikir Kavita barang apa! Lagian gue juga mau ngajak Kavita makan doang kok, "
"Enggak ya, tanpa gue, "
"Yee... bilang aja kalo lo mau ikut! "
"Gue emang mau ngajak Kavita makan kali! "
Malas mendengar keributan kedua pria itu lebih lama, Kavita memilih untuk segera beranjak dari sana.
"Ck, kek bocah pada! " gumamnya seraya menggelengkan kepala.
"Vit! Kok lo malah pergi sih, " teriak Aditya yang melihat Kavita berjalan menjauh. Ia pun segera berusaha menyusulnya.
Kedua lelaki itu kembali berebut tempat dibelakang Kavita saat berjalan. Persis seperti anak kecil yang berebut ingin berdekatan dengan gadis favorit mereka.
Sampai di luar gedung, Kavita celingukan mencari keberadaan papa Indrawan, tapi tak nampak siapapun disana.
"Itu, Om Indra di restoran seberang, Vit," ucap Valdi sambil tangannya menunjuk ke seberang jalan.
"Oke, gue kesana duluan gaes, "
"Gue ikutlah gaes ... " Aditya agak kesusahan untuk menuruni tangga karena masih menggunakan kruk di tangan kanan dan kirinya untuk membantunya berjalan.
Valdi menjulurkan lidah melihat Aditya yang ketinggalan jauh daunya dan Kavita.
"Hisshh... awas aja lo! Dasar dokter nggak berperikemanusiaan, " gerutunya.
"Bodo. Lo juga bukan pasien gue kok, "
"Bantuin kek, Di. Kasian tuh, " Kavita menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Huh! " kesal Valdi.
Kini gantian Aditya yang menjulurkan lidah.
Perseteruan pun masih terus berlanjut sampai di dalam restoran, bahkan saat makan sekalipun, hingga membuat Kavita merasa jengah.
"Kalian bener-bener kek balita tau gak! " seru Kavita.
Terdiamlah kedua lelaki itu, keduanya kini makan degan tenang.
Tapi tetap saja, tidak dengan perkataan dan perbuatan, mereka masih saja berperang dengan siku dan juga lirikan mata.
"Heddeh... "
"Ayo, Vit, kita pulang! " ajak papa Indra yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka.
"Baik, Pa, "
"Biar Valdi anter, Om, "
"Nggak usah, kamu selesaikan saja dulu makan nya. Terimakasih banyak ya untuk tadi, kamu sudah begitu banyak membantu kami. Kalau bukan karena bukti-bukgi yang kamu kumpulkan, mungkin saja orang itu masih akan berkilah tadi, "
"Sama-sama, Om, "
"Dan kamu Aditya, sebaiknya kamu tidak usah dekat-dekat sama anak saya, karena kamu tau sendiri kan, Kavita ini mantan kakak ipar kamu. Dan saya sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga kamu, " warning papa Indra kepada Aditya.
"Tap-tapi, Om, "
Papa Indra segera menggandeng tangan Kavita dan mengajaknya berlalu dari sana tanpa mau mendengarkan apa yang ingin Aditya katakan.
Aditya terdiam, ia menunduk dalam.
"Belum juga memulai apa-apa, bahkan perjuangan ku juga belum dimulai karena kecelakaan waktu itu, eh udah di warning duluan, " batinnya ngenes.
Tapi tekadnya tetap bulat, ia justru semakin tertantang untuk membuktikan jika ia berbeda jauh dari Adrian, dirinya lebih baik dari sang kakak.
"Yess! " Valdi bersorak girang.
Tanpa memperdulikan Aditya, ia pun ikut pergi dari sana tanpa melanjutkannya makannya lagi. Untuk apa dia disana jika Kavita saja sudah pulang. Pikirnya.
"Gue nggak akan nyerah semuda itu, Bang! " teriak Aditya.
__ADS_1
"Oke! "