
Apa jangan-jangan, mobil hitam di luar pagar ayang aku lihat tadi yang bertamu? Sebenarnya siapa itu, " gumam Valdi dalam hatinya dengan kening yang berkerut dalam.
"Sebentar, mobil hitam itu... mobil mewah yang tak semua orang di negeri ini punya kan, " kedua mata Valdi melebar manakala mengingat sesuatu, "pasti kedua mertua Kavita, Adrian dan juga dengan semua anak buahnya yang berpakaian serba hitam itu. Bagaimana bisa mereka tau kalau kami ada disini, " Valdi masih bergumam dalam hati, tak ingin ada yang lainnya turut merasa khawatir.
Tapi lamunan Valdi seketika buyar saat Diva dan Vero sudah lebih dulu mengajak Kavita dan Kava untuk pindah dalam kamar. Kamar itu merupakan tempat yang paling aman saat ini, jendelanya berteralis, jadi tidak akan bisa dimasuki orang dari luar.
Rupanya saat Valdi tengaj melamun tadi, dengan menunggu apa yang akan terjadi si luar sana, Diva mengecwk ponselnya. Dan pada saat itulah kedua matanya membulat karena membaca pesan yang di kirimkan oleh Aditya ke aplikasi hijaunya.
"Vero... " Diva menyenggol lengan Vero pelan, saat pemuda itu menoleh Diva langsung menyodorkan ponselnya dan dibaca oleh Vero.
Maka dari itu Vero langsung gercep mengamankan kakaknya dan si ponakan kecilnya.
"Lo disini aja ya, Kak Div. Biar gue sama Bang Valdi jaga di depan pintu. Jangan sampe mereka berhasil kesini dan membawa Kak Vita sama baby nya, sungguh gue nggak akan rela hal itu sampai terjadi, " ucap Vero yang di angguki Diva.
Kemudian laki-laki itu keluar dengan Valdi dan berjaga di luar. Mereka harus memastikan kedua orang yang menjadi incaran tamu ayahnya itu tetap aman di dalam sana.
Kavita yang mulai tau arah pembicaraan adiknya, tentu saja merasa tak tenang. Ia kembali mendekap bayinya dengan erat. Seakan tak rela jika semut pun mendatanginya, apalagi suami dan mertuanya yang jahat itu. Tapi Vita belum tau menau sih jika ternyata kedua mertuanya juga sudah tau mengenai Vara yang ternyata istri pertama dari suaminya. Entah apa yang akan di lakukan olehnya jika sampai dia tau nanti.
__ADS_1
"Kenapa bisa jadi kayak gini sih, Div? Gue nggak mau papi sama mami bawa baby Kava dan akan memberikannya pada laki-laki jahat itu. Gue nggak akan pernah rela, Div! " air mata Vita sudha mengalir membayangkan jika anak kesayangannya akan diambil oleh kedua mertuanya.
Orang yang dimaksud dengan papi dan mami pastilah papi Wijaya dan mami Shinta, yang tak lain adalah kedua orang tua Adrian.
Kavita mengira, jika mungkin saja Adrian mengarang cerita hingga kepergiannya merupakan kesalahan dari Kavita, bukannya kesalahan dari Adrian sendiri. Jadi bisa saja kedua mertuanya akan mengambil putranya darinya.
"Gue nggak rela, Diva. Gue nggak ikhlas. Gue yang udah susah payah ngandung dan ngelahirin dia dengan memendam segala rasa sakit hati akibat ulah ayahnya. Lalu, setahun semuanya bisa gue lewatin gitu aja, mereka akan mengambil anak gue? Nggak akan pernah gue biarin itu terjadi. Selama gue masih hidup, nggak akan pernah ada yang bisa ngambil bay Kava dari gue, " kedua mata Kavita tampak berapi-api seakan menahan emosi saat ini.
Meski air matanya masih tersisa di ujung matanya, tapi ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan tersebut.
Diva berusaha menenangkan sahabatnya tersebut, "iya, Vita. Iya, gue tau. Gue juga nggak akan rela kalo sampe hal itu terjadi. Tapi lo tenang dulu ya, Vita. Lo nggak boleh panik dan stres yang nantinya akan berpengaruh juga sama baby Kava. Percaya sama om Indrawan, tante Indri, Valdi dan Vero. Mereka pasti bisa mengatasi semua ini. Dan yakinlah, bahwa semuanya pasti akan tetap baik-baik aja, oke, "
"Bunda akan mempertaruhkan segalanya untuk kamu, Nak. Bunda nggak akan pernah rela kamu sampai jatuh ke tangan orang-orang itu. Bunda nggak rela kamu hanya di jadikan penyempurna kehidupan mereka aja. Bunda yang selama ini berjuang demi kamu. Dan Bunda juga juga akan masih terus berjuang sampai kapanpun, Bunda nggak akan pernah menyerah akan kamu ke mereka. Manusia-manusia yang egois itu, " ucap Vita di dalam hatinya. Ia tujukan kepada putranya yang berada dalam dekapannya saat ini.
Dirinya masih sangat ingat beberapa bulan yang lalu saat dia masih bersama dengan suaminya, yakni ayah dari Kava. Ia bukan tak tau jika suaminya itu masih tetap berhubungan dengan wanita bernama Vara, yang awalnya mengaku sebagai saudara sepupu dari suaminya itu. Suaminya pun hanya diam saat itu, yang berarti dia juga menyetujuinya.
"Kenalin, aku Vara... "
__ADS_1
"Vara ... Vara ... I love you, Vara ..." sebuah nama yang disebut suaminya usai menggagahi dirinya di pagi itu.
Menyisakan rasa perih yang luar biasa di dalam hatinya, dan terus terngiang dalam ingatannya hingga kini. Jika boleh meminta, ia ingin ingatan kesedihan itu di hapus saja sama Tuhan. Biar dia bisa menjalani kehiduapnnya dengan normal kembali.
Kala itu tentu saja hatinya sangat sakit, sebagai seorang istri melihat suaminya berbagi tawa dengan wanita lain saja rasanya sudah seperti terbakar api cemburu. Lalu bagaimana dengan dia yang hampir setiap malam masih harus melihat suaminya melakukan video call dengan wanita lain meski dengan sembunyi-sembunyi darinya.
Ingin ia berteriak dan memaki Adrian saat itu juga, tapi ia sadar jika posisi nya memanglah tak di inginkan oleh suaminya itu. Ia kemabli harus mengingat jika mereka menikah karena perjodohan. Bukan keinginan dari laki-laki itu sendiri.
Namun Kavita terus menahan rasa sakit itu dengan harapan suaminya bisa benar-benar berubah dan tulus saat meminta maaf padanya tempo lalu. Padahal lelaki itu sudah berjanji untuk menjaganya dan tak akan pernah lagi menyakiti hatinya, tapi apa? Kavita masih tetap harus bertahan demi buah hati yang ada di dalam kandungannya.
Dia tidak mungkin egois memisahkan sang anak dengan ayahnya begitu saja hanya karena masalah hatinya kan? Lagipula, ia juga tak ingin melihat kedua orang tuanya bersedih karena pernikahannya yang baru seumur jagung harus kandas begitu saja. Terutama ayahnya yang berharap banyak dari pernikahannya dengan anak dari sahabatnya tersebut.
Sehingga dirinya harus rela memendam rasa sakit itu seorang diri.
"Mungkin semua ini hanya masalah waktu, tidak ada yang instan bukan? " Kavita masih terus berpositif thingking pada takdir. Dan terus menyemangati dirinya sendiri supaya bisa tetap bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Adrian.
Memang sikap Adrian sudah jadi lebih baik semenjak lelaki itu meminta maaf padanya saat di rumah sakit karena dirinya yang lemah dengan kondisi awal kehamilannya waktu itu. Tetapi ia tak menyangka jika suaminya masih berhubungan dengan wanita bernama Vara itu di saat-saat tertentu dan menyembunyikan hal itu darinya.
__ADS_1
Amarah, luka dan kecewa bercampur menjadi satu saat dirinya mengetahui fakta sesungguhnya buang lelbih mengejutkan lagi. Jika Vara bukanlah selingkuhan suaminya, melainkan justru merupakan istri pertama dari Adrian Saputra Wijaya, suaminya.
"Tidak mungkin! "