Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Cengkeraman


__ADS_3

Setelah perdebatan sengit yang tak kunjung usai, Adrian merasa sangat geram dengan sikap Vara yang semakin tak tau diri menurutnya. Ia pun mencengkeram tangan Vara dengan erat, lalu menyeretnya paksa. Ia tak peduli meski Vara menangis dan berteriak minta untuk dilepaskan.


"Sini, ikut kamu!" paksa Adrian.


"Nggak mau! Kamu mau bawa aku kemana, Adrian?" tanya Vara berteriak seraya memberontak.


"Lepasin aku! Lepas! " Vara mencoba melepaskan lengannya dari cengkeraman Adrian, namun sangat sulit karena cengkeraman tangan Adrian yang kekar begitu kencang melingkar di lengannya yang kecil.


"Huh! Jangan mimpi kamu! " Adrian menyeret paksa istrinya itu dan membawanya keluar dari ruangan itu, entah kemana ia akan membawa Vara pergi.

__ADS_1


"Woy! Lo mau bawa istri gue kemana?" teriak Valdo saat melihat Adrian menyeret paksa Vara melewatinya.


Mendengar kata 'istri' yang terlontar dari mulut Valdo membuat Adrian semakin meradang. Ia menghentikan langkahnya begitu saja tepat di hadapan Valdo Hingga Vara yang tadi terseret olehnya turut terhenti karena menabrak dirinya.


Adrian yang tadi sebelum membawa keluar Vara, sudah kembali mengenakan topi dan juga maskernya, jadi Valdo belum mengetahui siapa orang yang sebenarnya menerobos apartemennya dan dengan lancang nya membawa kekasihnya tersebut.


"Apa tadi lo bilang? Istri? " tanya Adrian dengan geram. Nadanya terdengar tak senang, bahkan terkesan mengintimidasi.


"Coba lo ulangi lagi, kalo Vara itu istri lo! " tandas Adrian. Sebelah tangannya mencengkeram rahang Valdo. Karena rasa amarah yang memuncak, membuat lelaki itu seperti mendapatkan kekuatan berkali lipat hingga kedua tangannya bisa mencengkeram dia orang di kanan dan kirinya.

__ADS_1


Rasa marah, kecewa, kesal, jengkel, yang sudah sejak kemarin ia rasakan kini seakan kembali meluap. Rasanya ingin sekali ia membunuh kedua orang yang sudah menusuknya dari belakang itu. Andai saja negri ini tak ada hukum, pasti ia sudah melakukannya. Ia pun kembali teringat akan nama baiknya yang sudah tercemar akibat video dirinya yang memukuli Beno waktu itu tersebar luas. Jangan sampai kali ini ia malah mendapatkan kasus yang lebih berat karena membunuh dua manusia.


"Me-mangnya.. l-lo itu ss.. Siapa?" ucap Valdo kesulitan karena rahangnya masih berada dalam cengkeraman tangan Adrian. Apalagi kedua tangannya juga masih di pegang erat oleh Beno dan temannya. Jadi ia tak bisa berkutik sama sekali, kalaupun ia ingin memberontak, itu sama saja dengan bunuh diri. Karena Beno nantinya akan semakin mengeratkan cekalan pada pergelangan tangannya.


Meski sebenarnya Valdo juga takut kepada ketiga orang yang kini mengepung dirinya, namun ia tak ingin terlalu terlihat pengecut di mata Vara. Makanya ia tetap berusaha untuk memberanikan diri menjawab perkataan Adrian. Padahal ia tau sendiri akibatnya, kini cengkeraman tangan Adrian senakin kencang hingga pipinya terasa perih dan rahangnya ngilu.


"Lo lupa sama saudara lo sendiri, Valdo? "


Kening Valdo mengerut, semakin heran dan penasaran ia. Siapa saudara yang tega berbuat seperti itu pada saudara nya sendiri?

__ADS_1


"Saudara macam apa yang berbuat seperti ini pada saudara nya? " balas Valdo meski dengan suara tercekat dan begitu lirih.


Adrian terkekeh miris, "lo aja bisa menusuk gue dari belakang. Apa lo nggak merasa bersalah sama sekali? "


__ADS_2