
Keributan tak dapat lagi dihindari karena papi Wijaya dan mami Shinta terus mendesak papa Indra juga istrinya untuk mengungkapkan kebenaran yang memang kedua orang itu enggan beritahukan. Terjadi sedikit percekcokan diantara mereka sampai pada salah satu anak buah dari papi Wijaya bermaksud untuk menenangkan keadaan agar tak terjadi perkelahian diantara dua kubu yang mana adalah sesama besan tersebut.
Dor!
Tembakan yang diarahkan ke arah atas bertujuan sebagai tembakan peringatan, justru menjadi sebuah petaka sebab tak memperhatikan ada apa diatas sana. Peluru itu tak mampu menembus besi penyangga lampu gantung yang kokoh yang ada di ruang tamu rumah Valdi, hingga peluru tersebut terpelanting kembali ke bawah dengan kecepatannya yang masih tinggi.
Tepat di bawahnya adalah papa Indrawan, beruntung ia mempunyai anak buah yang handal dan bermata elang, serta begitu setia. Sampai-sampai ia rela mengorbankan dirinya untuk melindungi papa Indrawan dari tembakan peluru tersebut.
"Tuan besar...! " seru Diko, nama anak buahnya yang masih muda dan sangat gesit. Dengan cepat lelaki muda itu memeluk papa Indra sehingga pundaknya lah yang terkena peluru nyasar itu.
Keadaan seketika hening, sebab semua orang terkejut dengan nyaringnya suara tembakan tersebut, dan hanya menyisakan suara desisan pelan dari Diko yang menahan nyeri pada pundaknya yang baru saja ditembus oleh peluru yang berasal dari pistol Beno, pemimpin bodyguard Adrian.
Tanpa kata, Robi mengomando para anak buahnya yang lain untuk segera menolong Diko dengan membawanya ke rumah sakit segera. Salah satu teman Diko dengan cekatan menekan luka Diko agar darah yang mengalir deras dari dalam lubang tembakan itu bisa berhenti, sedangkan yang lainnya segera menggotongnya dan membawa pemuda itu ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan.
Keempat paruh baya itu kembali terduduk lemas di sofa masing-masing yang semula mereka tempati. Mereka bukanlah mafia atau seperti para bodyguard itu mungkin sudah terbiasa dengan suara tembakan ataupun pertumpahan darah. Mereka hanyalah para pebisnis yang terbiasa berkutat dengan dokumen dan berkas-berkas penting saja. Jadi tentu saja mereka semua merasa syok dengan hal tersebut.
Disaat keheningan menyelimuti keadaan, tiba-tiba saja mereka kembali dikejutkan dengan suara seorang lelaki yang terdengar sangat menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Adrian. Ya, Adrian.
"Adrian? Ngapain kamu kesini? Kembali ke mobil sana, biar Papi yang mengatasi semuanya! " terkejut juga sebenarnya papi Wijaya jika ternyata putranya itu secara tiba-tiba berada di sana juga. Tapi ia tak boleh membiarkan Adrian untuk disana, yang tentu saja nantinya hanya akan membuat kerusuhan.
"Adrian denger suara tembakan. Papi sama Mami nggak apa-apa kan? " tanya Adrian seraya memindai keadaan kedua orangtuanya dari atas sampai bawah, yang beruntung saja tak ada masalah.
"Kami baik-baik saja, kembalilah ke mobil! Setelah selesai, kami akan segera menyusul kesana, "
__ADS_1
"Adrian bukan anak kecil yang bisa kalian kelabuhi , Pi. Adrian tau, kalian pasti menemukan sesuatu yang lain, yang pastinya itu sangat penting, iya kan? " kedua mata Adrian menyipit, ia merasa curiga jikalau papi dan maminya pastilah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Nggak ada, Drian! Kamu nurut saja sama Papi! " seru papi Wijaya kesal. Belum juga rasa syukur nya karena insiden penembakan barusan, malah sudha ada Adrian yang kembali membuatnya jengkel.
Bukannya menurut dengan ayahnya, Adrian justru dengan nekatnya masuk ke dalam rumah dan berteriak sesuka hatinya. Sungguh tidak sopan.
"Kavita...! Kavita...! " dengan begitu percaya dirinya ia berteriak demikian.
Dengan sigap, Vero dan Valdi langsung berlari keluar dan segera menerjang lelaki itu hingga terjengkang. Namun ia tak menyerah, malah semakin menjadi saja Adrian berteriak. Meneriakkan nama Kavita dan segala hal apa yang ingin di teriakan olehnya.
"Kavita...! "
Usailah cerita papa Indrawan sampai pada dimana Kavita mendengar teriakan Adrian tadi. Rupanya begitu ceritanya.
"Ya... bisa dikatakan demikian, "
"Berarti kita harus pindah lagi, " desah Kavita malas, "baru aja ngerasa nyaman disini, tapi malah udah harus pergi lagi gara-gara itu orang lagi! " gerutunya kesal.
"Kapan hidupku akan lepas dari bayang-bayangnya? Kapan aku akan bisa mulai fokus pada diri aku sendiri dan bayiku aja, "
"Udah, Vit. Kamu jangan sedih... Kamu tinggal fokus aja sama kesehatan diri kamu sama baby Kava aja, udah. Masalah yang lain, biar kita yang urus, iya kan, Ver" ucap Valdi lagi-lagi memberi kode pada Kavero.
Kavero mengangguk saja agar kakaknya dan juga kedua orang tuanya merasa tenang, meskipun ia sendiri tak tau apa maksud dari kode Valdi saat ini.
__ADS_1
"Oke, sekarang mari kita makan siang dulu! Meskipun makan siang yang tertunda gara-gara problem tadi," ajak Valdi pada sua orang.
"Tadi si embok udah siapin makanan spesial buat kita, sebenarnya buat nyambut hari istimewa kedatangan penghuni baru di rumah ini. Tapi kalau udah kayak gini kejadiannya, nanti kita pindah ke tempat yang lainnya lagi yang lebih aman, " lanjut Valdi sebelum keluar dari ruangan Kavita menuju dapur dan mengajak semua tamunya untuk menikmati makanan yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga nya.
Berbagai macam masakan rumahan yang lezat nan menggugah selera terhidang di atas meja panjang ruang makan. Benar saja yang diucapkan oleh Valdi tadi, semua yang disana adalah makanan spesial karena merupakan makanan favorit semua orang. Entahlah, darimana Valdi bisa tau semua itu. Yang jelas, saat ini dari kesemua orang tersebut menjadi lebih kagum dan bersimpati kepada Valdi.
Usai menyantap menu makanan istimewa yang merupakan makan siang yang tertunda. Kini para wanita sedang berkumpul di kamar Kavita untuk membersihkan baby Kava, tentu saja mama Indri lah yang melakukannya. Sebab Kavita dan juga Nadiva belum bisa melakukan hal tersebut.
Kedua wanita muda itu dengan seksama memperhatikan setiap gerakan dan perlakuan mama Indri kepada cucu pertamanya tersebut. Seperti murid yang sedang belajar praktik jika dilihat orang lain.
"Coba, Vita. Sekarang kamu bedong baby Kava! " perintah mana Indri ingin tau sampai mana Kavita belajar.
"Kavita, Mah? "
"Ya iyalah. Masak Nadiva, " jawab sang mama. "Baby Kava ini kan anak kamu, jadi ya kamu harus belajar dong! " lanjutnya lagi.
"I-iya, Mah, " Kavita bukannya tak mau melakukannya, jujur saja, dirinya merasa kaku dan takut kalau salah menyentuh putranya itu dan membuat bayinya itu merasa kesakitan nantinya.
Lagipula, baru beberapa hari ini saja ia dapat menyentuh baby Kava secara langsung. Yang dulunya ia hanya bisa menatap sang putra dari balik kaca box inkubator. Terang saja ia masih merasa takut.
Sementara para wanita belajar mengurus bayi, para lelaki berkumpul di ruangan pribadi Valdi dan berembug disana.
"Bukankah lokasi itu sangat jauh, Valdi? " papa Indra mengutarakan ganjalan hatinya begitu Valdi menyebutkan nama sebuah kota di Indonesia di bagian lain.
__ADS_1
"Justru itu, Om. Kita memang harus menjauh demi keselamatan Kavita dan juga baby Kava. Disini kita sudah tidak aman! "