
Beberapa bodyguard yang bertugas mengintai keberadaan Vara, telah melakukan berbagai macam cara untuk bisa dapat menemukan istri kesayangan dari tuan mereka tersebut. Dan dari kesekian banyak orang itu, ada salah satu dari mereka yang bisa meretas data Vara tentang keberadaan wanita itu yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit di kota yang ada di negara ini.
Setelah memastikan jika wanita itu memang benar-benar Vara Valencia, istri dari tuan Adrian Saputra Wijaya yang merupakan bos mereka, bodyguard tersebut dengan perasaan senang dan bangga segera menghubungi Adrian untuk memberitahukan keberadaan wanita itu, tentunya masih dengan terus mengintai Vara agar tidak kehilangan jejaknya lagi.
Sebuah panggilan masuk dari nomor bodyguard berkode 'Sembilan Tiga (93)' dalam ponselnya, membuat Adrian undur diri dari dalam ruangan dokter tempat dimana Kavita yang tengah diperiksa untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Saya tau dimana nyonya Vara berada, Tuan, " lapor bodyguard tersebut dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan.
Pasalnya, semua bodyguard itu akan mendapatkan kenaikan gaji jika sampai bisa menemukan dimana keberadaan Vara, terutama bodyguard yang secara langsung mengetahui dimana wanita itu berada akan mendapat hadiah yang besar.
"Dimana?" tanya Adrian kemudian setelah berada diluar ruangan dan agak menjauh dari ruangan tersebut.
" Rumah Sakit Setia Kasih. Kota D, Provinsi D, " jawab dari orang yang ada di seberang sana.
Adrian mengerutkan keningnya mendengar nama kota dan provinsi yang disebutkan oleh orang suruhannya itu, karena tempat itu terasa amat asing baginya.
"Terus pantau dan ikuti dia! Jangan sampai kalian semua kehilangan jejaknya lagi seperti waktu dulu. Mengerti? " titah Adrian pada bawahannya.
"Baik. Kami mengerti, Tuan, "
"Hm. Saya akan secepatnya menyusul kesana, " ucap Adrian kemudian.
"Baiklah, Tuan, "
Adrian baru saja mematikan sambungan telepon tersebut ketika tiba-tiba ada suara yang mengomentari nya.
"Dasar lelaki serakah! " ucap Valdi yang bersandar pada dinding dan tangan terlipat di dada. Pandangannya lurus menatap ke arah depan, bukan pada dimana Adrian berada.
__ADS_1
Entah darimana datangnya lelaki itu, yang jelas Valdi sudah mendengar semua percakapan antara Adrian dengan orang suruhannya tadi.
"Apa maksud lo?" tanya Adrian dengan mata memicing.
"Eh, ada yang ngerasa jadi lelaki serakah disini rupanya, " lipatan tangan Valdi terlepas lalu ia masukkan ke saku celananya.
Adrian mendengus, jujur ia merasa sangat tersinggung dengan apa yang Valdi katakan, tapi ia masih sadar jika saat ini sedang berada di rumah sakit dan tak ingin membuat keributan, makanya ia diam saja.
"Mau sampai kapan lo mau permainin dia hati yang gak bersalah?" Valdi menatap Adrian tajam. Tapi Adrian justru menoleh ke arah lain, tak mau membalas tatapan Valdi yang mengintimidasi nya.
"Itu bukan urusan lo! " Balas Adrian ketus.
"Tentu saja sekarang hal itu jadi urusan gue juga. Vara itu sepupu gue kalau lo lupa! Dan Vita... Vita itu, pasien kesayangan gue, "
Adrian mulai terpancing amarah, darahnya terasa mendidih mendengar perkataan Valdi barusan yang mengklaim jika Vita merupakan pasien kesayangan nya. Entah apa maksud dari dokter kandungan Vita itu, namun Adrian bisa menangkap ada sebuah rasa yang tak biasa dari sorot mata Valdi saat mengatakan hal tadi.
"Apa? Lo nggak terima? Emang itu kenyatannya 'kan? " ucap Valdo semakin menantang.
"Minggir lo! " tapi Adrian masih memilih menahan amarahnya karena tak ingin membuat kegaduhan di tempat umum, apalagi di rumah sakit.
Valdi tersenyum miring menatap punggung Adrian yang sudah berjalan dan hendak kembali masuk ke ruangan Kavita semula.
"Kalau udah kalah gitu. Lari.. terus ngilang deh, " sindir Valdi lagi yang sepertinya memang sengaja memantik amarah Adrian agar segera meledak saat itu juga.
"Mau lo apa? Hah?" Nada suara Adrian mulai meninggi, tak lagi hanya berupa geram-an seperti tadi.
"Lepasin mereka berdua, atau... salah satu dari mereka pun tak apa. Karena sudah ada laki-laki selain lo yang lebih tulus mencintai mereka dan siap untuk memperjuangkan mereka daripada lo!" Ucap Valdi seraya menunjuk Adrian dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Nggak akan! Bukan hak lo ngatur-ngatur hidup gue, " jawab Adrian tegas.
"Dasar serakah! Sok-sok'an poligami, tapi nggak bisa berbuat adil sama kedua istri lo. Mereka itu punya perasaan yang harus disambut dan dijaga, bukannya buat disia-siain kayak yang lo lakuin itu, brengsek! " maki Valdi.
"Udah gue bilang itu bukan urusan lo, begok!" Bentak Adrian tepat di wajah Valdi.
"Gue juga udah bilang, kalau itu semua sekarang jadi urusan gue," nada bicara dan sikap Valdi sangat tenang, namun perkataan nya itu mengandung api yang siap meledakkan bom dalam diri Adrian.
"Kayaknya lo udah melampaui batasan dengan status lo yang hanya sebagai saudara sepupu Vara dan dokter kandungan Vita. Dalam artian, lo itu nggak penting, " Adrian kembali berbalik dan langsung menuju pintu ruangan dokter yang memeriksa Kavita tadi.
Valdi tetap tak menyerah, ia merasa jika dirinya juga harus berjuang seperti saudara kembarnya dalam mendapatkan cinta seorang wanita, tak perduli jika status wanita yang dicintainya itu adalah istri orang. Apalagi suaminya adalah lelaki brengsek dan tak berprinsip macam Adrian.
Tapi selama wanita itu tidak bahagia, ia akan bertekad untuk merebut Kavita dari Adrian, kecuali jika Kavita sudah benar-benar bahagia dengan kehidupan rumah tangganya, maka Valdi tidak akan mengganggu lagi dan mencoba mengikhlaskan nya.
"Lepasin Vara kalau lo emang udah cinta sama Vita, biarkan Vara bahagia bersama Valdo yang sudah jelas-jelas sangat tulus mencintainya. Bahkan Valdo mau menerima segala kekurangan Vara. Sekalipun wanita itu tak bisa memberinya keturunan, " seru Valdi.
Adrian mencoba acuh dan tak ingin memperdulikan perkataan Valdi, ia meraih gagang pintu dan berniat membukanya agar bisa dengan cepat masuk ke dalam untuk segera terhindar dari Valdi. Tapi bukannya merasa diacuhkan, Valdi malah kembali berucap.
"Tapi kalau lo tetap lebih memilih Vara yang katanya cinta pertama lo itu, lebih baik lo segera lepasin Vita dan rela'in dia buat gue. Gue akan dengan sangat senang hati membahagiakan dia, walaupun dia udah hamil anak lo, itu nggak masalah buat gue, yang penting Vita bisa bersama gue, " tawar Valdi seenak jidatnya.
"Banyak omong lo, bocah! " Adrian berbalik, kemudian dengan cepat melayangkan tinjunya dan hampir saja mengenai rahang Valdi, tapi pada waktu yang bersamaan, pintu ruangan yang di dalamnya tadi terdapat Vita itu terbuka.
Valdi menangkap kepalan tangan Adrian, "orang kayak lo itu nggak pantes buat Vita yang cantik dan sempurna. Lebih baik lo ikhlasin Vita sekarang juga sebelum dia tau semuanya, "
"Tau apa? Vara nggak bakalan pergi dari gue, begitu juga dengan Vita. Bahkan Vara sendiri yang minta gue buat nikah sama Vita, dan Vita it-" ucapan Adrian berhenti karena ada suara benda yang berjatuhan.
"Ap-apa? " pekik Vita terkejut. Wanita itu menjatuhkan tas dan ponselnya yang semula ia pegang.
__ADS_1
Kedua lelaki yang tengah bersitegang itu menoleh dan melihat raut wajah terkejut Vita di ambang pintu yang baru terbuka sebagian.