
Suasana pagi yang harusnya menjadi kehangatan untuk berkumpul bersama keluarga, namun tak dapat dijumpai di rumah mewah milik CEO muda yang memiliki kesuksesan di bidang bisnis pada usia mudanya itu. Ia yang menjadi sumber motivasi bagi para pengusaha muda lainnya, justru kini tengah menjadi bahan cibiran banyak orang. Semua karena emosi, ya... tapi tidak ada yang tau apa masalahnya sehingga pria itu bisa berbuat suatu hal yang sangat tak layak untuk dilakukan oleh seorang panutan.
Berbeda dengan karirnya yang bagus dan menjadikan dirinya bahan motivasi, kehidupan rumah tangganya justru kacau balau. Semuanya terjadi setelah dirinya dengan terpaksa menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, apalagi ditambah dengan bujukan serta air mata dari seseorang yang amat dicintainya. Semenjak hari itu, ia merasa kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat.
Mulai dari istri tercintanya yang perlahan menjauh, dirinya yang mulai goyah dengan istri barunya namun tetap berusaha bertahan dengan cinta pertamanya. Tapi dirinya yang mengelak jika sudah mulai menyukai gadis yang dijodohkan padanya, malah justru membuatnya melukai gadis itu hingga pada akhirnya gadis itu memilih untuk pergi karena tak sanggup lagi untuk bertahan.
"Adrian ... !!! "
Ya, siapa lagi lelaki itu jika bukan Adrian Saputra Wijaya. Yang saat ini saja kepalanya masih terasa berdenyut dan berputar, tapi suara-suara teriakan dari ayah dan ibunya membuatnya mau tak mau membuka mata.
"Ada apa lagi ini? " gumamnya seorang diri di dalam kamar.
"Adrian...!!! "
__ADS_1
Lagi, kini suara ayahnya terdengar semakin keras dan dekat. Sepertinya lelaki itu berjalan ke arah kamar Adrian saat ini.
Adrian ingin bangun dnaendekat ke sumber suara, namun apa daya kepalanya yang masih terasa berat membuatnya hanya bisa berbaring saja di atas ranjangnya seperti semula dengan ekspresi wajah yang sesekali terlihat meringis menahan nyeri di kepalanya.
Bluumm...
Pintu kamarnya terbuka dengan kasar lalu terbanting dengan kencang membuat yang ada di dalamnya terjingkat kaget seraya memegangi kepala dan dadanya.
"Papi... " gumam Adrian lirih.
"Ada apa, Pi?" tanya Adrian dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Apa ini, Adrian? " seakan tak dapat lagi membendung rasa emosinya, lelaki paruh baya itu melemparkan selembar kertas pada putra sulungnya yang bahkan saat ini masih berbaring lemah di atas ranjang.
__ADS_1
Kertas itu mendarat tepat diatas tubuh Adrian. Lelaki itu mengambilnya dan memaksakan matanya untuk terbuka supaya dapat membaca tulisan yang tercetak disana.
Mata yang semula sulit untuk dibuka itu kini membelalak lebar seketika, berbarengan dengan badannya yang juga reflek terduduk karena merasa sangat terkejut.
"Apa-apaan nih, " umpat nya namun masih tetap dengan suara lirih.
Papi Wijaya berdecih, merasa sangat jengkel dengan anaknya itu.
"Apa yang akan kamu lakukan jika sudah begini, hah?!" bentaknya pada Adrian.
Adrian terdiam seribu bahasa, namun pikirannya melayang kemana-mana, begitu banyak pertanyaan dan juga ungkapan protes yang rasanya ingin sekali ia ucapkan, tapi tak tau pada siapa.
Lelaki itu tak menyangka jika semuanya akan menjadi seserius ini, ia pikir waktu itu hanyalah sebuah pertengkaran kecil yang akan bisa segera membaik dengan permohonan maaf dan dibumbui rayuan serta tambahan janji manis yang selalu bisa berhasil meluluhkan hati Kavita selama ini. Namun ternyata kali ini dia salah, ternyata Kavita yang begitu tergila-gila padanya bisa nekat juga meminta berpisah darinya.
__ADS_1
"Benarkah ini nyata?" tanyanya dalam hati, "atau aku masih di dalam alam bawah sadar karena sedang kurang enak badan, "
"Semuanya kacau, Adrian...! Kamu begitu bodoh sampai melewatkan kesempatan baik, Kavita itu sumber keberuntungan mu! Tapi apa? Kamu menyia-nyiakannya dan membuatnya pergi, " makian dengan nada tinggi itu terungkap pula dari bibir papi Wijaya. Bibir yang selama ini berbicara halus namun penuh ketegasan itu kini bisa membentak Adrian dengan kata-kata yang menyakiti hati Adrian.