
"Ahahahhaha haha... " Nadiva terbahak saat aku menceritakan mimpiku semalam.
Tapi bukan tawa yang mengejek, tawanya itu seperti tawa senang atau geli, atau apalah yang seperti orang seperti tak percaya.
"Gila ya, kalau orang cantik mah beda. Baru juga kemarin resmi cere, udah ada yang ngelamar aja, " ucapnya.
"Sst, " ku tepuk pundaknya, "Gue kan bilang itu cuman mimpi, Diva! " balas ku geram.
"Ya, siapa tau aja itu pertanda kan. Soalnya kalau dari yang gue liat emang lo udah di kejar-kejar aja sama dua orang cowok, "
"Sok tau lo! "
"Gue emang tau kali, Vit, "
Aku memang menceritakan segala sesuatu yang ku alami kepada Nadiva, termasuk mimpiku tadi malam yang kurasa aneh. Bagaimana bisa tiba-tiba saja aku bermimpi seperti itu disaat statusku baru saja berganti. Bahkan surat merah pun belum kuterima.
Kami menyudahi acara cerita pagi kami, karena aku harus lanjut berkemas. Rencananya kami semua akan kembali ke ibukota dan kembali menetap di rumah papa mama. Meskipun sebenarnya Valdi tak pernah merasa keberatan jika pun kami mau tinggal di villa nya lebih lama lagi atau malah selamanya katanya. Tapi kan aku yang merasa nggak enak sama dia karena sudah sangat sering merepotkannya selama ini, padahal kalau dari segi persaudaraan dia bukanlah siapa-siapa kami. Namun ia sebaik itu padaku dan juga keluargaku.
Aku takut jika nantinya ini akan menjadi pamrih. Bukannya aku mau berburuk sangka ya, tapi namanya juga manusia biasa tetap ada saja kan pemikiran seperti itu. Sudah cukup bagiku tertipu oleh Adrian dan juga keluarganya, jangan lagi-lagi. Cukup apa yang sudah menimpaku kemarin menjadi pembelajaran berharga bagiku sekeluarga. Agar kami tak mudah percaya dan terpedaya oleh seseorang.
"Udah beres semua, Vit? "
"Udah, tinggal berangkat aja sih ntar. Kan nggak terlalu banyak juga barang yang dibawa kesini waktu itu, namanya juga orang panik, "
Kudengar Diva menghela nafas, "Untung aja semua itu udah berlalu ya, gara-gara kegilaan mantan suami lo itu kita bisa sampai terdampar di pulau yang indah ini, "
"Yups, lo bener banget. Sebenarnya gue betah loh tinggal disini, udaranya yang selalu seger, pemandangannya yang indah dan masih alami, dan masih banyak lagi yang lainnya, " aku menatap sekitar, "tapi mau gimana lagi, kita harus kembali ke dunia nyata, 'kan? Disini tuh bagaikan mimpi tau, "
"Bisa aja lagi lo mau tinggal disini selamanya, lo nikah aja sama yang punya bila ini, " sahut Diva pelan yang masih tertangkap jelas di telingaku.
__ADS_1
"Maksud lo... Valdi gitu, "
Sahabatku itu mengangguk mantap, "ya iyalah, siapa lagi. Toh Valdi nya aja siap sedia buat nikah sama lo, "
"Ngaco lo! " semburku seraya berlalu.
"Eh, bener lagi. Iya 'kan, Val? " Diva yang masih berjalan di belakangku bertanya pada seseorang.
"Kapan Valdi datengnya, tiba-tiba udah ada aja disini. Ah, iya juga. Dia paling mau mastiin kalau gue pergi dari sini nggak bawa barang-barang dia, " fikirku.
Tertangkap sekilas dari ekor mataku kalau Valdi mengangguk, eh beneran ngangguk kah?
"Hah, emang apaan sih? " tanyanya kemudian.
Tuh, kan. Diva mah emang ngada-ada tuh bocah.
Kutinggalkan kedua orang itu, aku lebih memilih untuk mengecek putraku di kamar, mungkin dia sudah bangun. Karena sudah lumayan lama aku meninggalkannya tadi untuk beberes.
"Wah ... anak Ayah masih aja ngebo ya, walaupun pup masih tetap enggan bangun, " entah bagaimana orang itu sudah ada disampingku, bahkan tangannya langsung cekatan meraih tisu basah di meja popok.
Tanpa kata dia menggeser tubuhku dan dengan lihai nya menggantikan polos putraku yang terkena kotoran.
"Astaga... ni orang ya. Gue yang emaknya aja masih kaku, masih agak ribet gimana gitu kalo mau bersihin popok baby Kava. Giliran Si Valdi langsung aja cas cus gitu, "
"Nggak usah sok tersepona gitu deh, ntar naksir 'kan gue seneng, " tangannya masih aktif memasang popok, matanya pun juga fokus kesana, dari mana dia bisa tau kalau aku memperhatikannya sejak tadi.
"Hissh... pede banget sih lo! Gue merhatiin cara lo gantiin popok baby Kava aja kok, " ucapnya percaya diri.
"Kenapa? Kagum kan lo sama keterampilan gue yang multilatent ini. Dan pastinya gue ini calon ayah dan suami idaman,"
__ADS_1
"Uhuk, " otomatis aku tersedak ludah mendengar dia membanggakan dirinya sendiri.
"Promosi, Pak,"
"Yha gitu deh, "
Kami tertawa bersama. Jujur kami sama-sama agak canggung semenjak Vero dan Diva mengatakan jika Valdi menyukaiku meski orangnya sendiri belum mengatakan apapun, tapi karena kedua orang itu selalu menggodaku dan Valdi membuat kami jadi seperti menjaga jarak. Padahal dulu kami sudah sangat dekat, bercanda pun sudah biasa bagi kami.
"Ehm.. ehm, sorry nih ya ganggu keharmonisan rumah tangga yang sedang bercanda bersama," ucap Diva yang baru saja masuk ke kamar, "tapi gue disuruh ajak kalian ke meja makan buat makan siang bareng,"
"Oke, " jawab Valdi, "let's go, baby Kava.. kita makan siang dulu, " Valdi menggendong anakku begitu saja dengan satu tangan, sedang tangan yang lainnya menggandeng lenganku.
"A cie.. cie.. yang lagi bahagia, gue dianggep nyamuk doang rupanya, "
Aku mengerjapkan mata sambil menyeret langkah mengikuti Valdi.
Nah, benar kan. Papa dan mama sama-sama mengerutkan kening melihat Valdi menggandengku sembari menggendong baby Kava. Ingin rasanya aku menutup wajah, malu. Tapi kulihat Valdi enjoy-enkoy aja.
Mama sama papa juga nggak berkomentar apa-apa. Sebenarnya ada apa? Aku nggak ngerasa ada hal khusus, tapi Valdi tiba-tiba saja bersikap kayak gini, apalagi Nadiva yang sejak tadi menggoda kami, membuatku merasa semakin aneh.
"Ada apa sih sama mereka? " hati ku bertanya-tanya.
Aku menoleh pada Vero, bertanya dengan isyarat kepala. Vero mengangkat kedua tangannya lengkap dengan bahunya juga. Tapi dari raut wajahnya tetap terlihat mencurigakan di mataku.
"Sini, Nak, kita makan sama-sama, abis itu baru kita siap-siap buat perjalanan, "
"Ya, Ma, " sahutku.
"Ya, Mah... eh, Tan, " aku mendelik, kutoleh Valdi yang tersenyum menggoda tanpa merasa berdosa. Anehnya lagi semua orang biasa aja mendengarnya ikut menjawab seperti itu.
__ADS_1
"Sengaja ni orang, " geramku.