
Senyum sinis tersungging di bibir papa Indrawan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dengan nama besannya sebagai penelpon di ponselnya, ia sudah menduga sebelumnya jika orang tersebut pasti akan menghubunginya jika sudah menerima surat gugatan yang diajukan oleh istrinya kepada menantu mereka, Adrian. Namun tetap tak ada niatan baginya untuk menghubungi kembali nomor milik sahabatnya itu, atau lebih tepatnya disebut mantan sahabat?
Karena bagi papa Indrawan tidak ada sahabat yang akan tega membohongi sahabatnya sendiri seperti yang dilakukan oleh papi Wijaya itu.
"Rasakan itu! Aku harap secepatnya hubungan Kavita dan Adrian cepat berakhir, biar putriku bisa meraih kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan hanya kebahagiaan semu seperti yang kalian janjikan dulu, " gumam papa Indra seraya menatap nomor ponsel papi Wijaya. Geram dirinya jika mengingat kembali janji-janji manis yang dilayangkan oleh sahabatnya saat hendak mempersunting putrinya setahun yang lalu.
Diletakkannya lagi ponsel itu di tempat semula, kemudian ia kembali berjalan keluar untuk bergabung bersama dengan anak dan cucunya yang sedang bersenda gurau.
"Udah, Pah? " tanya mama Indri pada papa Indra begitu suaminya itu kembali duduk di sampingnya.
"Udah, Mah, udah lega, " papa Indra tadi pamit ke toilet dan kebetulan mendengar suara getar dari ponselnya namun memang tak berniat untuk mengangkatnya begitu tau siapa orang yang menelponnya.
Valdi terlihat berjalan mendekat ke arah papa Indra berada, sebab baby Kava sedang diberi Asi oleh Kavita.
"Emm... Om, Tante. Valdi mau bilang, sepertinya Valdi harus pamit pulang dulu, karena udah lumayan lama kan Valdi nggak ngecek rumah sakit, " ucap Valdi dengan sopan pada kedua orang tua Kavita itu.
"Begitu ya? Sekalian Om bareng deh kalo gitu, ada beberapa urusan juga yang musti Om tangani disana, " balas Papa Indra.
"Pah... kok gitu? " sahut mama Indri keberatan.
"Sst..." Papa Indra meletakkan jari telunjuknya di bibir mama Indri yang manyun, "untuk kali ini biarkan Papa yang bertindak, Mah. Selama ini Mama sudah begitu banyak berkorban untuk Papa dan juga anak kita, sekarang giliran Papa, " ucap Papa Indra lembut memberi pengertian kepada istrinya.
__ADS_1
"Tapi gimana sama jantung Papa? " mama Indri terlihat sangat khawatir.
Papa Indra menggenggam tangan istrinya, "percaya sama Papa, ya, Ma. Papa akan baik-baik saja, asisten Papa juga akan selalu ada buat Papa kok nanti, "
"Mama ikut aja deh balik ke Jakarta, " ucap mama Indri memutuskan.
"Jangan, Mah! Kalo Mama ikut, bagaimana dengan Kavita dan juga cucu kita? Apa Mama tega, membiarkan mereka berdua aja disini? Meskipun ada pembantu dan babysitter, tapikan Kavita tetap butuh salah satu dari kita sebagai pendudukungnya, Mah. Sebagai penguat mentalnya," jelas Papa Indra dengan nada lembut namun tersirat ketegasan di dalamnya.
Mama Indri terdiam, mencerna perkataan suaminya.
"Kan ada Vero dan Diva, Pah, "
"Vero sudah izin beberapa hari juga dari kampusnya, Mah. Dia juga udah mau balik buat kembali kuliah. Sementara Diva, dia bukannya harus mengurus butik milik Kavita yang sudah lama terabaikan itu? "
"Nah, makannya. Mama sabar-sabarin deh disini sama anak dan cucu kita, dan nggak usah khawatir sama sama Papa. Papa baik-baik aja, dan pasti akan bisa jaga diri, "
"Janji tapi? " jari kelingking mama Indri terulur meraih kelingking suaminya.
"Iya... " Papa Indra tersenyum kala jari mereka tertaut.
"Ekhem... " Valdi sengaja berdehem karena sejak tadi ia merasa hanya menjadi obat nyamuk saja bagi pasangan yang sudah tak lagi muda di hadapannya itu. Tapi tak mengurangi kemesraan di antara keduanya sedikitpun.
__ADS_1
"Valdi, Om butuh ngomong sama kamu dulu juga sebelum kita berangkat nanti," wajah Papa Indra berubah sangat serius kali ini.
Valdi mengerutkan kening, "Ada apa ya, Om? "
"Om butuh kamu menjadi saksi di persidangan kasus perceraian Kavita dan Adrian nanti, "
"Valdi, Om? "
Papa Indra mengangguk, "jelas kamu. Sejak awal kamulah dokter kandungan Kavita, dan kamu juga yang selama ini menangani Kavita dan bayinya dari awal. Dari sejak Kavita masih bersama dengan Adrian, lalu berakhir dengan pendarahan, sampai harus melahirkan secara dadakan, sampai mereka kritis, dan hingga saat ini, kamulah saksi kehidupan Kavita, "
"Baiklah, Om. Selama itu demi kebaikan Kavita sama baby Kava, Valdi bakal selalu usahain buat siap sedia, " jawab tulus Valdi.
Papa Indra lega mendengarnya, dalam hatinya berharap semoga pemuda itu benar-benar tulus kepada anak dan cucunya, bukan hanya sekedar kepalsuan lagi. Sungguh dirinya sebagai orang tua Kavita pun turut merasa trauma untuk kembali mempercayakan putrinya kepada seorang lelaki.
"Semoga setelah menjadi saksi, bisa naik status jadi suami. Eh, ngaco lu, Di!" Valdi larut dalam lamunannya sendiri, senyum dan geleng-geleng kepala sendiri. Setelahnya ia juga menepuk jidatnya sendiri sebab merasa konyol dengan pemikirannya yang ia rasa terlalu jauh melayang.
"Kamu kenapa, Di? Kok senyum-senyum sendiri gitu? " tegur papa Indra yang memperhatikan Valdi sejak tadi.
"Eh, itu... anu, eh, bukan apa-apa, Om. Valdi permisi ke kamar mandi dulu, Om," Valdi yang merasa kepergok oleh papa Indra jadi merasa malu sendiri hingga gelagapan mau menjawab bagaimana, alhasil pamit ke kamar mandi saja solusi yang di dapatnya.
Namun bukan ke kamar mandi tujuan Valdi, melainkan ke kamarnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo... yang kemarin itu akan sangat berguna. Jaga baik-baik, sebentar lagi semuanya akan terbongkar habis, "