Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Aku.. Hamil?


__ADS_3

Kening Kavita mengerenyit dengan mata yang perlahan terbuka, ia menyipit saat merasakan silaunya cahaya lampu.


"Sayang, kamu sudah bangun? "


"Mama? " Mama Kavita mengangguk.


Wanita paruh baya itu menyodorkan segelas air mineral pada putrinya, "duduk dulu, Sayang.. ayo minum, "


"Makasih, Ma, " ucap Kavita setelah meneguk beberapa tegukan air mineral itu.


"Kenapa Vita bisa ada disini, Ma?"


"Emm.. kenapa ya, " mama Kavita menoleh pada besan nya, yaitu mami Sinta.


"Mamy Sinta?" wanita yang merupakan ibu dari Adrian itu mengangguk dengan senyum ter-ukir diwajahnya.


Mamy Shinta mendekat lalu memeluk Kavita, "selamat ya, Sayang.. "


Vita mengerutkan kening, "selamat buat apa, Mih?"


"Kamu akan segera menjadi mommy.." seru mami Shinta antusias.


"Jadi mommy, maksudnya? " tanya Kavita yang nampak kebingungan.


Kedua wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan saling pandang dan memberi kode-kode mata yang tak di mengerti oleh Kavita.


"Maksudnya gimana sih, Ma?" tanya Kavita lagi yang belum mendapat jawaban.


"Iya, Vita. Kamu hamil, kamu akan jadi mommy, dan kami akan jadi manda, oma muda, " mama Kavita dan mami Shinta saling berangkulan, merek berbagi kebahagiaan.


Deg.


"Aku? ha... mil? " tanya Kavita terbata.


"Iya, kenapa, Nak? " mami Sinta melepas rangkulannya, menatap khawatir pada Kavita.


"Nggak mungkin, ini nggak boleh terjadi!" teriak Kavita yang hanya dalam benaknya.


"Loh, kenapa, Vit? "


"Kavita, kamu kenapa? "


Kavita tersadar dari lamunannya, "eh, iya.. kenapa, Ma? "


"Kok kamu malah ngelamun sih? ada apa? "


"Nggak ada apa-apa kok, Ma, "


"*Apa? Aku harus bagaimana sekarang? di satu sisi, aku sangat bahagia karena dipercaya oleh Tuhan untuk mengandung, "

__ADS_1


"Tapi disisi lain, kenapa aku harus secepat ini mengandung, disaat semuanya belum jelas. Adrian bahkan belum mencintaiku. Apa dia mau menerima anak ini? "


"Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? apa aku harus berbahagia disaat lelaki yang kucinta tak mengharapkanku*?"


Kavita termenung dalam diamnya, disaat semua orang tengah bersuka cita dengan kabar gembira yang baru saja dokter katakan setelah memeriksa Kavita.


Flashback


Jalanan yang sepi dan waktu yang sudah menjelang tengah malam, membuat tak ada orang yang tau kalau ada dua orang manusia di dalam mobil yang tengah pingsan.


Itu akibat Adrian yang menghentikan tiba-tiba laju kendaraan nya saat sedang melaju kencang. Kavita dan dirinya terhantuk bagian depan mobil dengan keras hingga menyebabkan pingsan.


Tak butuh waktu lama untuk Adrian tersadar, tapi tidak dengan Kavita. Meskipun lelaki itu tak mencintai Vita, tepati sebagai manusia yang mempunyai hati dan pikiran, Adrian merasa khawatir juga pada istrinya tersebut. Apalagi penyebab Kavita pingsan adalah dirinya sendiri.


Adrian kembali menjalankan mobil nya menuju rumah sakit terdekat. Siapa sangka kabar mengejutkan ia dapatkan setelah dokter memeriksa Kavita.


Senyum merekah di wajahnya seraya mengetik sesuatu di ponselnya.


"Selamat, Sayang. Kita berhasil, "


Sent to My Sweety.


Ya, pesan itu Adrian tujukan pada istri pertamanya, Vara. Entah apa yanga da di fikiran lelaki itu, yang hamil adalah Vita, tapi yang ia beri selamat Vara. Sebenarnya apa rencana mereka.


Adrian lalu menelpon mami dan papinya detik itu juga, tanpa melihat dan memikirkan jam berapa saat itu. Ia tak peduli jika kedua orangtuanya sedang asyik bermimpi atau malah sedang bermain-main.


Dan anehnya kedua orang tuanya tanpa merasa keberatan langsung menyusul ke rumah sakit, tak lupa pula mereka juga mengabari besan mereka, orangtua Kavita.


"Adrian balik dulu ya, Mi. Mau ambil keperluan Vita dan lain-lain. Mau bersih-bersih badan dulu juga, " pamit Adrian pada maminya.


"Oke, biar Mami Papi yang gantian jaga Vita. Hati-hati, dan jangan lama-lama, " mami Sinta menginginkan dengan syarat.


"Hmm, " balas Adrian sambil berlalu.


Lelaki itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan istri tercintanya.


Benar saja, sampai di rumah ia sudah disambut dengan pelukan hangat dari Vara.


Kedua anak manusia itu langsung berkecup mesra bahkan tanpa menunggu pintu tertutup, memang waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dan tak ada yang terjaga selain mereka dan dua orang satpam di pos jaga depan.


Kecupan itu berlanjut hingga mereka sampai di kamar yang Vara tempati. Keduanya saling berpagut mesra seakan tak ada beban yang mereka sangga.


"Yang kamu bilang lewat chat tadi beneran? "


Adrian mengangguk dengan terus mencumbui leher Vara.


"Diem dulu. Aku mau mastiin dulu kalau kamu nggak boong, "


Adrian emgehntikan aksinya, "apalagi yang mau kamu pastiin, Sayang? "

__ADS_1


"Ya kabar tadi itu, "


"Iya, itu real, nyata! Beneran dan bukan fatamorgana, " ucap Adrian yang langsung kembLi menciumi Vara.


"Akhirnya... " Vara memeluk erat Adrian yang semakin menyusul di dadanya.


"Kamu akan segera jadi mami, dan aku jadi papi. Kehidupan rumah tangga kita akan sempurna, "


"Ya, kedatangan bayi itu akan menyempurnakan cinta kita, "


"Tidak akan ada lagi beban, tidak akan ada lagi yang mencela, mencari-cari kekuranganmu, Sayang, "


"Karena dia tetap akan menuruni DNA mu, "


"Aku bahagia, "


"Aku juga sangat bahagia, "


Kedua orang itu saling berbagi peluh dengan penuh kemesraan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Kavita saat tau jika dirinya sedang megandung anak Adrian.


Flashback Off


Pov Kavita


"Kenapa harus sekarang berita ini datang?" gumamku seorang diri sembari menatap rintik hujan dari jendela kamar rumah sakit tempatku di rawat.


Aku masih ingat jelas sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku semalam, aku mendengar Adrian bergumam soal aku yang merupakan orang ketiga diantara Adrian dan Vara.


Hal itu benar-benar membuat hatiku hancur bukan berkeping lagi, tapi lebur sudah.


Siapa yang sengaja ingin menjadi orang ketiga? siapa?


Meskipun aku begitu tergila-gila pada Adrian sekalipun, aku tidak akan memaksanya menikah denganku jika ia mengatakan kalau ia sudah punya wanita lain.


Tapi enggak kan? Adrian bahkan terlihat begitu bahagia saat datang melamar ku, saat pertunangan bahkan saat hari pernikahan ia tak pernah kehilangan senyumannya yang menawan itu. Senyuman yang selalu berhasil membuat hatiku meleleh.


Haruskah akau berbahagia di tengah kesedihanku?


"Bukan aku tidak mau menerima kehadiranmu, tapi papamu begitu jahat. Apa dengan kehadiranmu bisa membuat papamu mencintaiku?" gumamku dalam hati sambil mengelus perutku yang masih rata.


Aku mengusap air mataku yang sejak tadi sudah menemani lamunanku. Aku berfikir, apa ini merupakan petunjuk dari Tuhan untukku, agar Adrian bisa menerimaku dan mulai mencintaiku?


Mungkin saja, jika memang itu terjadi aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia. Hidupku akan sempurna dengan karunia anak untukku, juga suami yang mencintaiku.


Setidaknya biarkan aku bahagia walau hanya dalam khayalanku.


Karena pada kenyataannya, sejak aku tersadar dan tau kalau aku sedang mengandung, Adrian belum juga menampakkan batang hidungnya. Entah kemana perginya lelaki itu.


Saat aku bertanya pada mami Sinta, beliau bilang jika Adrian sedang ada urusan mendesak dan tidak bisa ditinggalkan.

__ADS_1


"Morning... " kedatangan Vero membuatku kembali menghembuskan nafas kecewa, karena lagi-lagi bukan orang yang kutunggu kedatangannya.


Bersambung...


__ADS_2